Akhir Sejarah Pergerakan Mahasiswa

BBM naik! “goresan” recent update dalam Blackberry Massanger-ku yang sempat kulirik. Tepat pukul 00.12 WITA status seorang kawan mengabarkan bahwa Bahan Bakar Minyak (BBM) naik Rp.500 dimulai esok hari. Meski tak mengejutkan karena sudah beredar kabar dari pekan lalu, namun menjadi hal yang berbeda karena tak ada gelombang protes, walau hanya sekedar sumpah serapah di media sosial. Hanya deretan status bertemakan: “RIP Olga”, “status galau”, “hadirilah”, “mendengar musik”, “lomba karoke“, dan “batu bacan” yang terpajang di media sosial. Seolah masyarakat sudah lapang dada menerjang “inflasi hidup” akibat kenaikan BBM yang tak menentu.

Suasana ini tentu menjadi lain, jika bernostalgia dengan kondisi rezim sebelumnya yang ingin menaikkan harga BBM. Sepekan sebelum penguasa menaikkan BBM sudah ada badai protes dari sang agen perubahan yang bernama mahasiswa. Isu kenaikan BBM berbanding massif dengan gelombang protes anti kenaikan BBM. Mahasiswa Makassar selalu menjadi salah satu motor penggerak perlawanan menentang kebijakan Rezim. Makassar kadang menjadi pemantik dan pioner gerakan bagi kelompok mahasiwa lain sejagad nusantara. Asap tak mengepul, jalanan tak bergemuruh, protes tak tersiar begitulah kira-kira catatan mahasiswa merayakan kenaikan BBM.

Akhir Gerakan

Entah “gerakan tanpa bayangan” apa, yang mencoba menutup ihwal buruknya tata kelola pemerintahan saat ini. Mata uang Rupiah terjun bebas menembus angka Rp 13.000, Harga bahan pokok seperti beras tak terkontrol, dan kini masyarakat akan perih menghadapi kenaikan BBM. Wakil rakyat di DPR yang diharapkan menjadi pengawas kebijakan pemerintah disibukkan dengan hak angket sebagai bentuk solidaritas atas terkoyaknya 2 partai KMP. Pemerintah tak terusik, padahal varian kebijakan yang dibuatnya menghisap keringat bagi masyarakat kecil.

Dahulu, tumpuan harapan pengawasan kebijakan itu disematkan kepada mahasiswa. Dan kenapa harus mahasiwa, karena pada setiap orde/zaman dari penguasa yang otoritarian dan korup, mahasiwa selalu berdri di garda terdepan dan utama menjadi “dozer” pendobrak pengganti rezim lama. Militansi mahasiswa ketika menggulingkan Rezim orde lama dan merobohkan imperium Soeharto menjadi catatan emas betapa “kuasanya” gerakan sosial yang “dikomandani” oleh Mahasiswa.

Mahasiswa adalah mimpu buruk bagi penguasa yang tidur bersenggama dengan pemilik modal. Mahasiwa adalah kabar buruk bagi setiap kebijakan penguasa yang tidak pro rakyat. Mereka akan berbaris rapi menggunakan almamater menggelorakan dan mengibarkan bendera perlawanan.

Mungkin gambaran di atas sudah menjadi hikayat yang hanya akan menjadi sejarah dalam literatur dan diskusi. Karena kini, semangat merah sudah mulai padam, kekritisan hijau mulai surut, kegamangan orange sudah luntur, begitupun kerasnya ombak almamater biru sudah mulai reda. Tak ada lagi riak-riak perlawanan yang dulunya semarak dengan warna-warni almamater. Tak ada lagi hentakan dari kerasnya suara megafone yang menakutkan bagi penguasa untuk mengeluarkan kebijakan. Mereka pun seakan kompak “diam” dalam menyikapi persoalan bangsa kekinian.

Padahal rezim yang saat ini berkuasa begitu lihai menciptakan, dan memilih momentum untuk mengeluarkan kebijakan yang kontraversial. Begitu lihainya, terkadang momentum tersebut membawa arus aktivis mahasiswa dalam buaian yang tak disadarinya bahwa mereka sedang dialihkan atau ditidurkan agar tak berteriak lantang menentang kebijakan. Jika tak pandai membaca situasi maka mahasiswa akan selalu kehilangan momen untuk melakukan perlawanan.

Sumber Gambar: yunantyoadi.files.wordpress.com

Sumber Gambar: yunantyoadi.files.wordpress.com

Obat Tidur

Setiap generasi mahasiswa dilahirkan dengan zaman dan tantangan yang berbeda. Sehingga melahirkan tipe dan metodologi yang berbeda dalam menghadapi rezim penguasa. Walau demikian, ideologi tetap harus sama, yaitu idiologi tanpa penindasan, perlawanan terhadap rezim korup, atau kesejahteraan dan perlindungan masyarakat marginal. Saat ini, gerakan mahasiswa sudah tereduksi oleh kebijakan birokrasi dan godaan penguasa.

Birokrat kampus banyak memberikan andil untuk membungkam gerakan mahasiswa. Berbagai bentuk surat edaran dan larangan yang “dipaksa keberlakuannya” merongrong independensi lembaga kemahasiswaan. Intervensi terhadap metode pengkaderan, larangan dan pembatasan kegiatan, sampai ancaman Drop-Out adalah obat tidur bagi gerakan mahasiswa. Semantara doktrin mahasiswa berprestasi menurut birokrat adalah mereka yang rajin kuliah, punya prestasi formil, padahal mereka lupa “Tridarma” pengabdian masyarakat menjadi peran yang lebih utama bagi mahasiswa.

“Doktrin” inilah yang melahirhan lembaga kemahasiswaan menjadi “event orginizer” yang hanya melahirkan kegiatan-kegiatan seremonial, entertainment. Sementara kerja advokasi dan gerakan sudah terlupakan. Tak pelak, lembaga kemahasiswaan dengan model seperti itu yang membentuk mahasiswa menjadi cengeng hingga bermental kerupuk.

Di sisi lain, penguasa pun masuk mengkooptasi kelompok mahasiswa. Penguasa merangkul meraka menjadi “bumper” untuk mengamankan kebijakan atau menangkis kritik dari suara-suara perlawanan kelompok lain. Tak jarang terjadi “demo tandingan” atas sebuah peristiwa yang melibatkan kepentingan penguasa. Mahasiswa kini masuk dalam pergaulan elitis bercengkrama dengan penguasa dan pemilik modal. Mahasiswa larut dalam “buaian” penguasa yang memberikan banyak kenyamanan. Posisi nyaman inilah yang banyak membuat kelompok mahasiswa melacurkan dirinya kepada penguasa. Sehingga semakin lengkaplah cara untuk membunuh gerakan mahasiswa.

Sungguh mahasiswa dengan ke”maha”annya seharusnya tidak akan tergoda dengan libido birokrat, tidak tergiur dengan hasrat materi penguasa, apalagi ikut bersama bergandeng tangan dalam satu kebijakan. Mahasiwa tidak boleh membiarkan penguasa tidur lelap dengan kebijakannya yang menyengsarakan masyarakat. Kecuali, ini adalah tanda akhir sejarah pergerakan mahasiswa. *

Muhammad Nursal Ns

Praktisi Hukum Makassar

You may also like...

[user_ip]