Aku Bingung Menjadi Koruptor

Sumber Gambar: harianjogja.com

Sumber Gambar: harianjogja.com

Alkisah di suatu forum, dua karib dekat yang selalu mendapuk dirinya sebagai aktivis anti korupsi berceloteh dengan semangat empat lima di hadapan saya: “Pokoknya kita harus menolak korupsi, sudah saatnya menggelorakan anti korupsi sejak dini, usia TK, anak SD, anak SMP, anak SMA semuanya harus ditanamkan pendidikan anti korupsi.”

Lalu kemudian, saya hanya tersenyum mendengar ujaran itu, hemmm, hemmm.

***

Bukan dalam arti ide teman saya itu tidak penting. Sebab saya kerap juga menghargai sepak terjang mensosialisasikan seluruh programnya, yang konon bersimpuh pada harapan, dapat meminimalisir angka kejahatan korupsi di negeri ini.

Hanya saja yang menjadi soal, bahwa agenda semacam itu saya kurang memercayainya. Betapa banyak program anti korupsi sudah diselenggarakan, tapi  pelakunya toh tetap semakin bertambah.

Ah… itu hanya agenda yang tiada berguna. Agenda yang hanya bersifat parade. Boleh jadi kita berkoar-koar “jangan korupsi” tetapi sifat keserakahan di dalam diri sebagai benih-benih melakukan korupsi tiada pernah disadari, dan bahkan sulit dihilangkan.

Ya…! ada kejanggalan di dalam diri kita. Di dalam masyarakat kita. Dan sungguh kejanggalan itu sebenarnya yang menyatu dalam simpulan: “betapa bingungnya kalau aku harus menjadi koruptor.”

Menjadi koruptor itu bukan pekerjaan gampang. Tidak gampangnya, semata-mata bukan disebabkan oleh kelihaian menghilangkan jejak kejahatan. Bukan pula karena harus mengerti arus mengalirnya anggaran negara. Bukan pula karena mengerti undang-undang yang dapat ditafsirkan segala tetek-bengek kelemahannya. Bukan pula karena kedekatan dengan oknum penegak hukum yang dapat diajak kompromi (suap) kalau ketahuan berlaku korupsi.

Saya bingung kawan! Bagaimana menjadi koruptor?

***

Belum melanjutkan cerita, dua teman aktivis yang saya ceritakan di awal tulisan ini langsung menimpali: “dimana letak kebingungannya menjadi koruptor? Apa anda menjadi bingung karena tidak tahu korupsi? Apa anda bingung karena tidak memliki kesempatan untuk korupsi, sebab notabene engkau bukan pejabat negara? Ataukah anda bingung kalau korupsi, nanti akan ditangkap oleh KPK, sebab KPK sangat jago melakukan Operasi Tangkap Tangan (OTT).”

“Lagi-lagi semua pertanyaan dan keraguanmu itu tidak sesuai dengan apa yang saya pikirkan.” Demikian selahku kepada dua kawan tersebut.

“Jawabmi cepat, apa pade

“Apa”

Sangat sederhana jawabannya. Korupsi itu membingungkan karena ada di dalam diri kita. Ada di dalam masyarakat kita. Anda bergelut di lingkungan kampus, maka ada juga di lingkungan kampus. Itulah sebab musababnya aku selalu bingung menjadi koruptor.

“Ah jawabanmu tidak jelas.”

“Tolong  dijelaskan lagi, sejelas-jelasnya.”

Demikian teman saya membalas lagi jawabanku.

***

Afwan, sebelum saya menjelaskan lebih jauh.”

Begini penjelasannya: diantara kita, aku dan kalian, bukankah kebiasaan atau mungkin kesenangan kita semua adalah menyanjung orang yang punya duit banyak. Bukankah kita senang menyanjung seorang yang berstelan jas, berdasi semampai, apalagi kalau dia sedang mengendari mobil mewah, merek keluaran terbaru.

Ya…! kita senang menyanjung setiap orang yang berpenampilan mewah. Dan dari sikap sanjungan itu, apatah lagi namanya kalau “prestise’ itu ukurannya sudah pasti kemewahan yang harus ditunjang dengan kekayaan. Siapa yang kaya, maka dialah yang sangat dihargai di tengah-tengah masyarakat, di tengah-tengah lingkungannya.

Anda belum sadar! Coba lihat di lingkungan kampus saja, hanyalah dosen-dosen yang kaya, dosen yang berpenampilan mewah, dosen yang memiliki mobil bermerek selalu menjadi ukuran, dia pantas dihargai.

Jadi, sebenarnya penyebab korupsi itu dari kita sendiri. Menghargai seorang yang hanya memiliki kekayaan, dan ujuk-ujuknya orang berebut kaya dengan cara korupsi.

Penjelasan di atas belum selesai kawan!

Lanjutannya adalah kita ini yang mengaku-ngaku bangsa Indonesia, bangga lagi mengaku sebagai masyarakat timur, tetapi sesungguhnya kita juga sebenarnya bangsa aneh dalam hal memandang seseorang, “dia koruptor.”

Letak keanehan itu, atau lebih tepatnya saya menyebut sebagai sikap keganjilan, yakni kita memuji dan memuja seorang yang memiliki kekayaan, tetapi di saat yang sama tidak disisakan waktu pula untuk menaruh curiga dan syak wasangka kepada orang kaya, jangan-jangan dari semua kekayaannya itu berasal dari hasil tilapan uang negara alias korupsi.

Sungguh aneh bukan! Andai aku seorang koruptor maka pasti bingung jadinya. Mau kalian ini apa sih! Maunya masyarakat ini apa sih! Di satu sisi anda hanya menghargai orang kaya, maka dengan jalan itu aku “terpaksa” korupsi. Lalu di sisi lain, begitu saya menjadi orang kaya, lah iya kok semuanya serba dicurigai. Sungguh rasa-rasanya aku bingung menjadi koruptor.

***

Dari sini terurailah harapan, tak perlulah menghabiskan energi memberantas dan mencegah perbuatan korupsi dengan berbagai agenda muluk-muluk, lalu menghabiskan banyak anggaran negara pula. Toh… setiap kegiatan seperti itu tak kunjung ada hasil. Korupsi dari waktu ke waktu malah menjadi-jadi.

Cukup saja perbaiki pola pikir kita bersama. Janganlah mengukur prestise dengan kekayaan, sehingga tidak ada lagi orang yang berlomba-lomba hendak menjadi kaya. Sehingga tidak ada lagi orang yang memangku kekuasaan berlomba-lomba melakukan korupsi.

Dan dengan sendirinya pula, kita tidak memiliki bahan cerita untuk menggunjingkan orang-orang kaya. Ataukah selemah-lemahnya iman, janganlah kita selalu menaruh curiga terhadap orang kaya, kalau sikap kita belum sempurna untuk menghilangkan rasa penghargaan terhadap orang-orang yang memiliki kekayaan berlimpah. Janganlah kita memiliki semangat empat lima dahulu, menolak korupsi, kalau rasa ingin menjadi kayapun di dalam diri belum mampu untuk dihilangkan. Janganlah kita menggebu-gebu menolak korupsi, kalau ternyata hidup sederhana dan berpenampilan apa adanya, berpenampilan semampunya belum mampu kita lakukan.

Sulit memang perkara sulit, saran yang saya ajukan ini. Namun demikianlah cara yang semampunya untuk melempar sifat ketamakan (korupsi) dari lini kehidupan kita. Sebab Korupsi sudah menjadi virus, kalau ibarat penyakit ia sudah sampai di stadium empat.

Jika tak ada lagi orang mau menjadi kaya, maka tak ada lagi orang bingung karena selalu dicurigai kekayaannya. Cegahlah korupsi dengan membuat aku tak bingung menjadi “koruptor.”

Damang S.H., M.H.

ALUMNI PPS HUKUM UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA MAKASSAR, PENULIS BUKU DIANTARANYA: ASAS DAN DASAR-DASAR ILMU HUKUM TERBITAN GENTA PUBLISHING (2017), CARUT-MARUT PILKADA SERENTAK 2015 TERBITAN PHILOSOPHIA PRESS MAKASSAR (2016), KUMPULAN CERPEN DALAM MENETAK SUNYI (2013).

You may also like...