Aku Tak Bisa

“Aduh….maaf dindaku, aku tak bisa, aku tak bisa Narmi.”

Untuk yang satu ini beliau tidak bisa. Apa sesungguhnya yang membuat Marwan tidak bisa. Tidak bisa apa ? apakah ia tidak bisa berkata jujur. Lalu jujur untuk apa kepadaku. Untuk apa Narmi harus diberikan kejujuran. Bukankah aku lebih senang untuk dibohongi.

‘Ah… tidak” untuk aku. Memang dulunya aku pernah dibuat terpaut oleh seorang lelaki senior paruh baya. Beliau adalah seniorku di fakultas Hukum. Tapi tak sampai seberat itu mengucapkan. “Aku tak bisa, Aku tak bisa narmi”  benarkah ini adalah lelaki yang sesungguhnya menghargaiku. Tidak hanya tergoda dengan gairah dan goda syahwat dalam aroma fisikku.

Lelaki. Seniorku. Mantanku. Aku berkali-kali mencoba melupakannya. Namun juga tidak bisa. Aku tak bisa. Tapi tak bisa seperti Marwan. Kalau Marwan Dia begitu berat menahan katup dan gerak bibir. Hanya menatapku gemas. Lalu, ia selalu berucap, aku tidak bisa.

Mantanku itu. Sudah jauh bahagia. Mengganti diriku dengan wanita yang lebih anggun dari wajahku. Masih sering memuji-mujiku dulu. Nekad, ia pernah merasakan seluruh aroma fisikku. Ada kenangan yang pernah membuatku indah dengannya. susah kulupakan. karena menyakitkan. Sungguh menyakitkan bagiku.

Tapi kini kutak berani jatuh hati pada Marwan. Benarkah ? Marwanpun juga demikian untukku. Aku hanya berteman dengannya karena aku salut dengannya. Sebagai lelaki yang sangat jenius. Segala ilmu dibabat habis oleh otaknya. Otaknya benar-benar cerdas. Namanya sering muncul di Media Massa.

Muka sang jenius itu bernama Marwan mengguncang Makassar di Media dengan ide kritisnya mengkritik kebijakan sewenang-wenang. Konon katanya memperjuangkan rakyat tapi kebijakan sang pemerintah sengaja dipoles menjadi kelabu dan pengobat rindu sesaat pada kesejahteraan.

Siapa yang tidak jatuh hati pada seorang yang popular di kota Makassar ? Tidakkah sebuah kebesaran hati dan kesuksesan bagiku kalau aku berhasil meluluhkan kejeniusannya. Tidak mungkin. Ia bahkan lebih cerdas dengan nalar dan logika akal sehatnya sering memprotesku. Aku tak berdaya.

Semak-semak rindu terus menggoyahku. Aku bahkan menyesal pernah dikenal dengan senior yang tak bertanggung jawab pada kenangan  yang telah dibuatnya untukku. Dahulu kala, ketika masih awam dan lugunya aku  masih Maba.

“Oh….Tuhan betapa bodohnya aku. Betapa aku gampang dimaki dengan perasaan lelaki yang telah meraup dan  meraih kebahagiaan kelak yang hanya akan kuberikan kepada suamiku.”

Tapi menyesal itu tidak ada. Aku masih tidak seperti temanku. Minimal aku tidak menjadi pelacur kampus. Ayam kampus. Ayam yang sering ditelephone oleh pejabat, legislator bahkan akademisi yang bergelar professor.

Karena jalan menyimpang itu. Aku dibuka titik terangku oleh Marwan. Aku dapat meraih gelar Sarjana Hukum bahkan lebih awal dari Marwan. Yang notabene juga adalah seniorku. Lalu mengapa Tuhan tak mempertemukan aku dengan Marwan lebih awal, yang bisa menjagaku. Tak pernah merusak fisikku. Dibanding senior si bejat itu….Dasar. Aku akan buat perhitungan denganmu.

“Jangan dinda, tak baik punya rasa dan balas dendam”

Inilah Marwan yang saya kenal. Lelaki yang sulit ditebak. Dendam pada kebijakan pemerintah yang sewenang-wenang lalu mengapa ia melarangku dendam kepada lelaki yang pernah merusak kehormatanku. Padahal ia selalu mensatir komentar Hasan Hanafi dan Ali Enginaar

“kafir bukan semata pengingkaran teologis terhadap keesaan Tuhan dan kerasulan Muhammad, melainkan  segala bentuk praktik dehumanisasi yang religius.”

“Lalu aku ini apa.”

‘Engkau pada waktu itu sama-sama kafir Narmi, sama-sama mengingkari keesaan Tuhan

“Masa…”

Marwan hanya tersenyum, mengerut kening tak mengerti maksudku. Lalu di persimpangan jalan ia tak mempedulikanku. Ia merogoh kocek. Memberikan lembaran dua ribu rupiah kepada bocah  Jalanan.  Di Batas lampu merah Urip Sumoharjo.

Malah aku lebih salut dengan Marwan. atas tindakannya. Punya persaudaraan tinggi. Sama-sama merasakan diri dari kelas strata bawah. Justru ia lebih iba. Padahal aku tahu mantan kekasihku dulu. Kadang aku boncengan bersama. Sesen-pun ia tak sungkan berikan untuk anak jalanan.

Katanya, ia malas Narmi, jangan diajarin jadi malas. Kalau dibandingkan kekayaannya dengan Marwan, Tidak ada-lah apa-apanya Marwan. Pokoknya rezkinya antara langit dan bumi jika aku membanding-bandingkan terus.

Maka di sini rasa syukurku. Aku tak dijadikan sandingan dan pinangan olehnya. Memang ia merdeka karena telah memamah kehormatanku. Tapi,, aku taubat. Taubatan Nasuha. Kutak akan melakukannya lagi dengan lelaki siapa-siapa.

Kecuali, kepada suamiku kelak. Dan akan kurancang konsep untuk lembaran segudang juta kata. Aku akan minta maaf kepada suamiku kelak. Semoga saja aku bisa. Pasti aku akan sujud di hadapannya bahwa dulu aku tak kuasa menahan permata kemuliaanku. Maka maaf-kan daku duhai suamiku.

Tapi Marwan, malah menertawakanku. Dengan konsep itu. Jika aku jujur padanya. Aku dianggap perempuan terlalu mengada-ada.

“ya….semoga saja kau tidak mendapat lamaran dari lelaki sepertiku, karena aku tak akan memaafkanmu, walaupun engkau merancang syair ungkapan maaf seeksotik dan setebal dalil al-qura’an.  aku tak akan memberi maaf untukmu, karena engkau ceroboh”

“Habis aku”

“Apanya habis”

“Tuh fisikmu masih ada, tapi entahlah jiwamu Nar…., semoga masih ada juga, he….he..he…..”

Aku benci dengan ujaran Marwan. Tapi kedengarannya logis. Aku bahkan dipaksa olehnya untuk tidak mengedepankan perasaan dalam bertindak. Namun sungguh, aku adalah perempuan yang kemayu. Luluh kalau dipuji-puji. Tapi jangan Narmi. Kau harus rasioanal.

Jasanya Marwan. Tak habis kupikir. Dia yang memikirkan semua substansi skripsiku. Semua konsep, rancangan, dan metodologi penelitianku. Hingga aku menempuh ujian skripsi. Lalu ia sendiri belum selesai waktu itu. Ia belum sarjana, sepertiku.

Entahlah. Aku sulit menebaknya. Ia sulit untuk berkata “tidak.” Semua karya teman-teman. Semua skripsi yang diajukan untuk perbaikan rancang konsepnya. Ia tulus dan ikhlas menerima semuanya. Ia begitu bahagia mengajari semua mahasiswa. Tidak pandang laki-laki dan perempuan. Skrispi, Tesis, hingga disertasi telah pernah dikerjakan. Jikalau ada yang minta tolong kepadanya. Kadang dapat ucapan lembaran terima kasih. Kadang PT saja. Dia tidak pernah mengeluh.

“aku salut padamu Marwan”

******

“Tapi…Marwan aku benci denganmu”

aku sengaja menulis pesan singkat di handphoneku. Kukirim  setelah aku baru saja menempuh ujian akhir.  Ia tidak datang. “Brengsek engkau Marwan.”

Tak ada balasan apa-apa. Ini lelaki tak berperasaan banget. Tak mengerti sekali dengan jasanya. Padahal harus ia datang untukku. Melihatku mempertahankan atas semua yang telah diberikan bantuannya untukku. Lalu ia tidak datang. Benar-benar orang yang sulit ditebak.

Dari pagi hingga sore aku menunggunya. Ia tidak datang. Adzan kumandang Maghrib yang menjemput gegap malam. Ia biasanya jalan dari pondokan tuk menuju mesjid kampus unhas.

Aku sengaja jalan kaki ke Pintu satu lalu ia tidak datang dan kelihatan menuju mesjid. Apakah ia benar-benar tak peduli dengan perasaanku ? Ah….sudahlah Narmi. Jangan disimpan dalam hati.

Luap bahagiaku masih membekas. Hari ini baru saja aku meraih gelar Sarjana Hukum. Lalu handphoneku di dalam tas, bergetar. Ada nada dering SMS.

Semoga saja ini adalah balasan SMS Marwan.

“Narmi,  maaf aku tidak datang di uian akhir dinda karena tanpa kehadirankupun semua akan berjalan lancar. Aku hanya ingin mengucapkan selamat. Selamat nah… Narmi, S.H.”

Sudah. Aku puas dengan balasan SMS-nya.

******

Sakit hatiku jilid II.

Beberapa bulan aku tak pernah mendengar kabar darinya. Hanya  pernah kucek dari kamar kostnya. Kata temanya, ia sudah pulang kampung. Consent di kampong. Mungkin ia menuntaskan skripsinya. Aku tak mau mengganggunya.

*****

Maka, heran benar. Aku tak bisa menahan kemarahanku. Ia ujian akhir tanpa sepengetahuanku beberapa bulan setelahku. Apa pentingnya juga sebenarnya aku hadir diujiannya. Bagiku itu penting. Oleh karena aku berjasa amat kepadanya. Aku ingin mengucapkan terima kasih. Itu saja. Agar aku puas.

*****

Hari di mana aku pura-pura tak pernah lagi mengenal Marwan. Aku tak ingin ketemu dengannya. Aku hanya mengurung diri di kamar kostku. Di jalan sahabat. Aku benci dan tak akan pernah mengenal lagi dirimu. Marwan yang tak mengerti dengan perasaanku.

Tapi sulit kupungkiri. Semakin kumengurung diri. Aku semakin menusuk-nusuk rindu tuk bertemu dengannya. Tidakkah kami adalah memiliki predikat yang sama ? Mengapa Marwan tidak mencariku sekarang. Apakah ia telah meninggalkan Makassar. Melupakanku. Ah…tidak mungkin pastinya.

*******

Jalan tak  ramai. Kendaraan hanya satu persatu yang melintas. Perlahan aku menghibur diri menyusuri seluruh liku-liku jalan di kota Makassar. Aku jenuh tinggal di kamar. Aku mencari kebahagiaan. Motor kujalankan perlahan  di setiap kota. Setiap ada keramaian, aku singgah mencari ketenangan. Menghibur pada kesepianku.

Di perbatasan Fly over aku mengendarai motor lambat. Tuk sekedar cari angin malam. Menikmati kedip bintang. Cahaya kerlip kendaran, yang terkadang menyabet mukaku setiap aku berpapasan.

“Oh……Marwan, kau rupanya di sini.”

Aku masih di atas jok motorku. Kuingin sekali memarahinya. Tapi ia reda. Ia lembut sekali berucap selamat untukku.

Akhirnya.

Aku tak jadi marah. Melampiaskan semua kesalahan untuknya. Benar-benar ia tidak mengertiku. Dasar lelaki. Susah memang ketemu dengan lelaki yang jenius. Amat susah.

“Nar…Mi. sebenarnya aku ingin sekali menghadiri ujianmu, tapi aku ingin tunjukan bahwa engkau juga tak layak hadir di ujian akhirku khan.”

“Artinya apa”

‘Artinya kita sudah   Sarjana Hukum,,, khan.”

*****

Bukan sesngguhnya jawaban itu aku tunggu. Aku turun dari motorku. Dan memarkir di depan Marwan. Marwan lalu duduk perlahan di dekatku. Di trotoar fly over. Urip sumoharjo. Ia tak menuturkan apa-apa. Kami kedinginan. Kulihat Marwan menggigil. Mencari rokok di sakunya. Namun rokoknya sudah habis.

“Ini aku punya rokok Gudang Garam filter, rokokmu. Ambil, untukmu.”

“Tumben, dinda.”

“Iya…..anggaplah itu hadiah selama ini untukmu yang membantuku cepat meraih sarjana Mar.”

Marwan menghisap rokoknya keras-keras. Dalam kedinginan ia terus menghempaskan asap rokoknya di dekatku. Ia menawariku

“kau dingin, ini hisap saja”

“Dasar kau. Aku ini perempuan tolol”

*****

Kedip bintang makin redup. Kendaraaan lalu-lalang kian sepi. Graha Pena yang menjulang tinggi hanya tampak cahaya pada kata yang bertuliskan FAJAR. Suara rem mobil truk sekali-kali mendesam dan mengagetkan kami dari ketermenungan di malam itu. Masih aku duduk bersama ditrotoar flay over. Namun tak sampai juga marwan minta maaf. Minta maaf untukku.

“Dasar lelaki.”

Kulihat tangan Marwan. Perlahan ia ingin meraih tanganku. Tapi tidak. Aku takut. Aku tak ingin mengulanginya lagi. aku tak mau ia melingkarkan tangannya kebahuku. Apalagi melilitkannya. Oh…tidak mungkin.

Ah………hhhhhhhh. Aku tak mau dicium. Walaupun hanya sekedar itu. Aku tak berani lagi. Karena aku hanya untuk suamiku.

Tapi tidak apa-apa. Semoga Marwan jadi suamiku. Tidak mungkin. Aku tak akan biarkan. Maka kali ini aku benar-benar telah menghajar Marwan. Tidak bisa memanjakanku. Aku balas keegoisanmu, kali ini.

Ia tertunduk. Malu rasanya.

“Dinda maaf…aku tak sengaja”

“Sesungguhnya aku pengen. Tapi aku tak bisa. Tak bisa seperti engkau dahulu kala mengatakan aku tak bisa.”

Kami berdua berdiri bersama. Entah angin apa yang mengibasku. Mengibas Narmi dan  Marwan. Rambutku telerai oleh dingit pekat malam. Dingin tak terasa. Rokok di tangan Marwan reflex jatuh ke aspal.  Masih tersisa, kelihatan apinya berasap. Menyalah-nyalah menerangi jalan aspal di fly over Urip Sumoharjo.

Mata kami bertatapan. Tak ada kata yang keluar satu pun dari mulut kami berdua.Tangan dari marwan tak berani menyentuh dan membelaiku. Padahal kuberharap. Kali ini Tolong Marwan. Untuk kali ini saja. Gapailah tangan dan fisikku. Rasa terima kasihku akan kuihlaskan untuk dirimu.

Duhai….. lelaki jeniusku. Mengapa engkau hanya menatap bola mataku ? apa engkau melihat bayang dirimu dalam bola mataku.

Matanya seduh. Kulihat tatapan rasa  suara hatinya. Entahlah. Apa yang kupikirkan dia identik dengan alam pikiranku.

Sepasang sejoli di atas Trotoar itu pandang-memandang. Dari tadi kumenunggu tak ada sesuatu yang terjadi. Satupun tak ada gerakan. Padahal dalam sama posisi. Berdiri searah. Berbanding lurus. Mereka seharusnya bersentuhan fisik.

Katup mulut Narmi seolah bergetar, basah. Menunggu lekat Bibir Marwan untuk dibasahi yang telah kering lemas akibat asap rokok. Tapi,  gerimis hujan menamatkan hasrat mereka berdua. Rintik –rintik hujan memaksa mereka mencari tempat teduh.

Tepatnya, di depan penjual Coto Mangkasara mereka menunggu hujan reda. Narmi mendorong sendiri motornya ke tempat teduh itu. Sambil menunggu hujan reda. Mereka kehilangan momen. Kehilangan hasrat yang lama terpendam. Mengapa sulit, amat terkatakan, lalu begitu praktik kian mendesak untuk melakukannya. Inikah yang dinamakan tangan hasrat iblis ? untung tidak terjadi apa-apa.

Saat hujan reda. Kemudian, beberapa menit kami berpisah. Aku meninggalkan sendiri Marwan tanpa kendaraan ia berpunya. Oleh karena tak mungkin aku bonceng bersama. Aku tau dia orang yang sok iman, namun sok munafik.

Buktinya, ia juga hampir melakukannya untukku, tapi itu cuman hampir. Sama saja dengan tidak. Apakah ia akan sampai pagi menjadi penjaga dan penunggu di fly over itu ?. Bukan urusanku.

“Marwan, kita pisah tuk sementara, nanti besok kita ketemu di Baruga”

Ia Nar..mi, semoga Tuhan memberi kita umur yang panjang dan menakdirkan kita untuk ketemu….ya….ketemu”

*******

Aku cari Marwan. Mereka kemana ? tak satu orangpun kutemukan, dia ada di acara Wisuda Baruga Andi Pangerang Pettarani. Kalaupun bukan dia, minimal orang yang mirip dengan dia. Duhai lelaki jeniusku, kemana engkau lagi. Alasan apatah lagi yang akan menjadi idealism yang akan berargumentasi  engkau tidak datang.

Karena orang tuaku tak datang di acara wisudaku. Aku sungguh kasihan. Orang tua, ayah dan ibuku harus menghabiskan banyak ratusan ribu rupiah untuk berangkat dari Buton ke Makassar, maka ia telah lebih awal memohon maaf kepadaku.

“Nak…. mama dan La Odemu tidak dating, diacaramu  nak mafkan mama dan odemu”

Maka Cuma kuberharap, hanya ada Marwan menjadi pengobat kesepianku. Sekarang.

Tiba giliran Fakultas Hukum disebut satu persatu untuk naik di podium berjabat tangan dengan pak Rektor. Tak ada Marwan muncul di depan atau di belakangku. Aku berharap semoga saja aku yang tak jeli menandai semua orang di Aula Baruga itu. Tapi memang tidak ada. Terlambatpun, itu mustahil.

Dentik jarum jam kian menunjuk arah jam 12.00.  Setengah siang. Dzuhur akan tiba. Apakah sarjanamu tak begitu penting Marwan ? buat acara segala. Aku rela engkau tidak datang jika hanya untukku. Lalu  argumentasi apa yang memperbudakmu engkau tidak datang.

“Duhai kasih….” Aku keceplosan dalam batinku.

Aku tak bisa memungkirinya. Yang jelas Marwan tidak mungkin tahu dari isi hatiku. Hanya pasti tahu dengan rekaan semata-mata. Katanya body language.

Tapi…alangkah getar yang tak biasanya menimpa jari-jemariku. Kelentikannnya memerah menjangkau handphone di dalam saku celana.

Ada suara memanggil berkali-kali. Astaghfirullah…. dari mama Marwan. Dari tadi aku biarkan terus berbunyi saja. Aku memang sudah lama dikenal oleh mama Marwan.

“Nak Narmi aku tahu, engkau adalah teman baik anakku, tapi tolong maafkan Marwan nak, oleh karena Marwan telah meninggalkan kita semua, tadi pagi. Entahlah sejak ia pulang ke rumah, Bumi Permata Sudiang. Ia lemas. Terbaring. Lalu aku dipanggilnya di kamar. Ia berpesan untukmu. Maafkan dia beng…..dia tidak bisa….aku tidak tahu dia tidak bisa apa nak ”

Handphoneku terjatuh,  semenit kemudian. Aku menahan duka. Tak ingin kuperlihatkan pada keramaian. Tangisku sedemikan dalam. Membatin merontah-rontah. Aku tak kuasa mengikhlaskannya. Ia pasti senang tak pernah membuat komitmen untukku.

Oh…Marwan. Lelaki jeniusku. Engkau telah mewarnai hidupku. Akan kucari lelaki yang idealis dan jenius sepertimu kelak. Akan kutunaikan rencana strata duaku. Karena ini pasti untuk kita berdua.

“Jujur”. Ada memang senior yang pernah mempereteli aku. Aku akan melupakannya. Untukmu tidak. Suamiku akan terus menjadi nomor dua. Karena namamu pasti akan kulekatkan dan kuceritakan setiap kali aku dalam baringan hasratnya.

******

Di dalam kamarku. Jalan sahabat, aku tak mau menyebutkan pondok apa ????. Itu rahasiaku. Di depan cermin kutatap diriku, aku puaskan menangis sederas-derasnya. Mataku meleleh terus membasahi baju wisudaku. Aku tak peduli. Karena tidak ada yang pasti tahu kesedihanku. Mungkin aku  dikira tolol. Saat orang merayakan acara wisuda. Malah aku berduka.

Aku menunggu disekap malam. Akan kucek kembali Marwan di Trotoar kemarin. Akan kutorehkan kenanganku bersama dalam kesendirian. Di atas fly over menjadi saksi atas kehidupan seorang Marwan yang sulit berucap

“Aku tak bisa”

Kuulangi peristiwa kemarin. Aku berdiri tegak. Puntung rokok Marwan kemarin masih ada. Namun tidak menyalah-nyalah lagi seperi kemarin. Ia mati seperti matinya hasratku untuk Marwan.

Dalam keadaan hujan rintik. Gerimis seperti kemarin. Kata “aku tak bisa”. Ya aku tak bisa mengikutimu. Tapi, aku bisa mengikuti idealisme dan jeniusmu. Aku sengaja akan mendaftar starta dua kelak, di Universitas Muslim Inndonesia. Agar setiap aku berangkat kuliah aku terasa hendak bersamamu.

Gerimis milik Marwan dan rintik hujan Milikku menyatu dalam kesepian. Sunyi senyap malam aku pergi meninggalkan jalan fly over. Masih terasa seperti kemarin aku meninggalkan Marwan. Tapi benar. Aku benar-benar meninggalkan ia sendirian. Aku malah yang ditinggalkan olehnya.

Selamat jalan Marwan. Selamat jalan fly over, tanda cintaku yang tidak bisa. Tidak bisa. Selalu tidak bisa. Selamat jalan Urip Sumoharjo. Aku kelak akan menemuimu setiap saat aku rindu pada tatapan jenius Marwan.

Maaf…aku pergi… karena “aku tidak bisa”

 

Fly over – Jalan Sahabat, 28 Februari 2011

***Penulis adalah Peneliti psycho-legal (FH- Unhas)

Damang Averroes Al-Khawarizmi

Mahasiswa PPs Hukum UMI

You may also like...