Dr. Amir Ilyas: “Pelaku Penculikan Hanum Terjerat UUPA”

Dr. Amir Ilyas, SH., M.H.
DOSEN HUKUM PIDANA UNHAS

Tidak perlu waktu berlarut-larut, Raihanun Mailiki Umar alias Hanum yang diculik oleh sekelompok orang tak dikenal akhirnya ditemukan seorang diri di pinggir jalan poros perumahan Telkomas, Kecamatan Tamalanrea. Hanum, anak kecil tak berdosa itu ditemukan menangis oleh warga, kemudian diserahkan ke Markas Polsekta Tamalanrea

Kasus ini pun mengundang Pakar Hukum Pidana Unhas Dr. Amir Ilyas, memberikan komentar, “lagi-lagi kita semua harus kembali mengapresiasi kinerja kepolisian, sebab berkat kerja keras merekalah sehingga korban dan para pelaku dapat ditemukan secepatnya.

Empat pelaku penculik Hanum adalah Risal (28), Yusfikar Majid alias Yus (34), Ayu Yuliasri alias Ayu (30), dan Anwar. Keempatnya ditangkap di tempat berbeda di Sulsel oleh Tiga tim jajaran Polda Sulsel, diantaranya Resmob Polda dipimpin Kanit, AKP Edy Sabhara MB, Timsus dipimpin IPDA Artenius dan Jatanras Makassar, AKP Ivan Wahyudi

Menurut Dr. Amir Ilyas, para pelaku setidak-tidaknya akan terjerat dengan Pasal 83 UU No. 35 Tahun 2014 atas perubahan UU No. 23 Tahun 2002 Tentang Perlindungan Anak.

Pun hukumannya sangat berat bagi para pelaku, yaitu dipidana dengan pidana penjara paling singkat 3 (tiga) tahun dan paling lama 15 (lima belas) tahun dan denda paling sedikit Rp.60.000.000,00 (enam puluh juta rupiah) dan paling banyak Rp300.000.000,00 (tiga ratus juta rupiah).

Di sinilah pula kita  dapat melihat bahwa tidak selamanya media sosial berdampak negatif sebagai sarana kejahatan hate space misalnya. Bahwa kalau seseorang menggunakan media sosial secara bijak, untuk hal-hal yang bermanfaat, media social akan menjadi sarana prefentif terjadinya kejahatan.

Jika selama ini sulit dilihat kerja sama yang erat antar kepolisian dan masyarakat dalam mencegah terjadinya kejahatan, maka dengan hadirnya media sosial, jarak antara kepolisian dan masyarakat semakin dekat. Beber  Dosen Hukum Pidana Unhas itu.

 

You may also like...

[user_ip]