Asal Mula Logika & Metode penalaran

Pada pertemuan sebelumnya telah dikemukakan pengertian logika, pengertian hukum dan terminologi hukum terhadap bahasa yang terkait erat dengan logika hukum yaitu law of reasoning, legal reasoning, law and logic. Pada pertemuan kali ini adalah mengkaji asal mula logika atau dimana pertama kali ilmu penalaran itu ada dan dinyatakan sebagai metode dalam cabang filsafat.

Ada tiga cabang atau aspek dari filsafat sebagai induk ilmu yang mengutamakan pada pencarian kebenaran yakni

  1. Ontologi (hakikat ilmu) yang mempelajari tentang “ada”. Ada ini dibagi dalam tiga bagian yakni ada dalam pikiran disebut dengan idealisme (rasionalisme); ada dalam pengalaman disebut empirisme; dan ada dalam kemungkinan disebut irasionalime/ nihilisme.
  2. Epistemologi yang mempelajari tentang metode, dan terbagi atas dua yakni metode deduktif (logika deduktif/ umum-khusus) dan metode/ logika induktif: khusus-umum.
  3. 3.      Aksiologi berbicara tentang etika dan estetika. Cabang filsafat inilah yang digunakan kelak sebagai kerangka awal sehingga lahir aliran-aliran pemikiran dalam ilmu hukum seperti aliran hukum alam (natural law), positivisme hukum, mazhab sejarah (history), aliran realisme, dan mazhab hukum kritis (critical legal movement).

Dengan demikian dapat dikatakan bahwa logika merupakan salah satu cabang filsafat yang digunakan untuk melakukan penalaran. Penalaran sendiri dapat diartikan analisis terhadap preposisi yang ada dan  telah diakui kebenarannya untuk melahirkan preposisi yang baru. Sedangkan premis atau preposisi adalah pernyataan-pernyatan atau peristiwa yang telah terjadi. Kemudian dari hasil penalaran akan melahirkan konklusi atau kesimpulan  yang diperoleh dari beberapa pernyataan.

Dari uraian singkat asal mula  logika. Jelaslah logika ini terbagi dua yakni logika deduktif dan logika induktif.

Logika deduktif adalah suatu bentuk atau metode penalaran yang konklusinya lebih sempit dari premisnya

Contoh:

Premis mayor: Barang siapa mencuri akan dihukum (A-B-C)

Premis minor: Doni mencuri (A1-B)

Konklusi: Doni akan dihukum (A1- C)

Dari contoh yang dikemukakan di atas menunjukan bahwa ketika ada suatu kejahatan, maka yang pertama kali dilakukan oleh kepolisian sebagai penyelidik, pekerjaan pertama yang dilakukan adalah membuka KUHP, kemudian membuat BAP dan menyatakan seorang sebagai tersangka. Atau dengan bahasa sederhana krakter logika deduktif merupakan karakter negara yang menggunakan sistem hukum civil law. Oleh karena sumber hukum yang utama adalah perundang-undangan. Kalaupun digunakan yurisprudensi, hanya sebagai pendukung dalam memberikan konklusi itu.

Damang, S.H.

Penulis lahir di Sinjai 25 Juli 1986, dengan nama pena Damang Averroes Al-Khawarizmi, Pernah Kuliah Di FH UNHAS (saksi 2004) anak dari seorang Ibu yang single parent, anak ketiga dari empat bersaudara, saat ini pekerjaan kesehariannya hanya menulis, dan mengirim artikel ke beberapa harian Fajar, Tribun Timur (Makassar), dan Gorontalo Post, dan Beberapa Cerpennya juga sering dimuat diharian Lokal, Pernah menjadi Tenaga Pengajar di Unisan Gorontalo, Penulis juga adalah pemilik utama (Co-Ownerr) negarahukum.com. Beberapa Tulisannya juga dapat dijumpai di alamat ini (damang.web.id/, dmgsastra.multiply.com, damang.webs.com). Penulis sering juga Membawa materi seminar di Beberapa Perguruan Tinggi di Makassar

You may also like...

Loading Facebook Comments ...

1 Response

  1. kopi hitam says:

    sangat menarik membaca tulisan kakanda.
    sehingga sy terpancing untuk sedikit berbicara terkait permasalahan filsafat dan logika.

    aristoteles berkata filsafat adalah induk dari sgala pengetahuan.

    benar adanya bahwa filsafat terdiri dari 3 aspek utama yaitu ontologi, epistemologi dan aksiologi.
    pada hakikatnya ontologi berbicara tentang sesuatu apa adanya sebelum sesuatu itu di pilah-pilah menjadi bagian bagian tertentu.
    ketika kita membahas tentang entitas secara ontologi maka kita mencoba untuk mengkaji entitas tersebut secara radiks, sebelum kita melekatkan penilaian subjektifitas terhadap entitas tersebut.

    epistimologi membahas tentang proses, atau membahas tentang ke-bagaimana- an nya sesutu tersebut.
    epistimologi mencoba mencari penjelasan terhadap sesuatu hal dengan melakukan pendekatan historis dan pendekatan kritis.
    sedangkan aksiologi lebuh banyak berbicara tentang nilai, dalam filsafat nilai ada 3, yg pertama adalah baik-buruk, indah-tidak indah dan benar-salah.

    logika adalah pembahasa yg terpisah dari epistimologi.
    ada sebagian filsuf yg berpendapat lebih tegas terkait hal ini, bahkan sebagian filsuf berpendapat bahwa logika bukanlah pembahasan dalan filsafat.
    hal tersebut bukan tanpa alasan, karena substansi dan esensi dari logika adalah bagai mana seseorang dapat berfikir sistematis, karena logiaka adalah kaidah berfikir benar.
    sehingga setelah seseorang dapat berfikir sistematis dan benar maka orang tersebut barulah dapat terjun untuk menggeluti filsafat.

    selain itu logika tidak hanya membahas tentang silogisme, namun ada pula pembahasan tentang definisi, konsep, proposisi, dll.

    mohon maaf kalo ada kekeliruan, mari belajar bersama.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>