Bubarkan PKS

Teriakan yang mungkin akan menjadi kesimpulan akhir dari proses hukum dari mantan Presiden PKS, Lutfi Hasan Ishaq. Teriakan yang merupakan target utama dari target-target turunannya yang lain. Saya meyakini ini karena ada indikasi yang mengarah kesana, dan saya meyakininya karena saya belajar dari sejarah dan masa kini.

Kalau PKS tidak dapat dibubarkan paling tidak PKS akan anjlok di Pemilu 2014 dan akan dilindas oleh Parlementery Treshold. PKS sudah tercoreng dan PKS tak bisa apa-apa, Inilah target turunannya. Pandangan saya ini pasti akan dicemoohi banyak kawan-kawan haters, karna akan dikatakan mencari kambing hitam dan berprasangka buruk. Namun sekali lagi saya katakana saya meyakini ini karena saya melihat indikasi dan belajar dari sejarah dan masa kini.

Asal Muasal

Partai Islam menjadi kajian penting bagi Barat, terutama di Negara-negara mayoritas Islam yang demokratis. Pandangan Barat tentang Islam dan Partai Islam memang belum banyak berubah dan beranjak dari teori Samuel Huntington: bahwa Islam adalah musuh dan bahwa Islam tidak kompatible dengan demokrasi.

Partai Islam senantiasa dipandang sinis dan dengan penuh curiga. Dan pada kesempatan lain juga disikapi dengan sangat antipasti dengan adanya embel-embel agama dalam perpolitikan, karena tentu ini tidak sejalan dengan sekuler liberal ala Barat. Padalah Partai Islam telah tolern dan tunduk pada prinsip demokrasi: mengikuti pemilihan umum. Kecurigaan tidak hanya datang dari orang non-Muslim di Barat, tapi bahkan juga dari orang Muslim sekuler di negeri mayoritas Islam. Konsep inilah yang saya kira jadi asal muasal segalanya, Ketika Ideologi Islam menggunakan demokrasi untuk masuk dalam payung yan lebih kuat yaitu Negara, Maka ketika itu pulalah ini menjadi ancaman bagi ideology yang lain.

Sumber: www.hariansumutpos.com

Sumber: www.hariansumutpos.com

Coba kita lihat sejarah yang pernah terjadi di beberapa Negara, Dimana Partai Islam yang menggunakan jalur Demokrasi harus terjunggal dan tak mampu melawan konspirasi yang ada. Dan bukan pula dengan catatan sejarah ini ada kesimpulan bahwa perjuangan lewat jalur demokrasi menjadi buntu, bahkan ini harus menjadi pelajaran dan menambah kewaspadaan bahwa jalan ini masih panjang.

Partai Politik dan Gerakan Islam di Dunia yang pernah diberangus dengan bermacam-macam cara sudah lumayan banyak, seperti Front Penyelamatan Islam (FIS), Aljazair, Partai Islam Refah , Turki. Partai Aksi Demokratik (SDA) di Bosnia, Gerakan/Partai An Nahdah, Tunisia, PAS dan Gerakan Oposisi di Malaisya, dan Gerakan Ikhwan di Mesir.

Semua partai/gerakan tersebut di berangus dengan berbagai cara, namun yang coba saya simpulkan adalah Pemberangusan ini dilakukan dengan 3 (tiga) pola :

 Pola Pertama “Pembenturan Partai/Gerakan dengan Negara”

Pembenturan ini entah dengan menggunakan tangan militer, penguasa Negara yang otoriter dan juga kekuatan Hukum (Lembaga Peradilan). Seperti pada FIS, Refah, An Nahdah, SDA, dan Ikhwan di Mesir mereka diberangus dengan legitimasi militer dan penguasa, dan tentu adanya kepentingan luar negeri di sana. Partai/gerakan dibenturkn vis ti vis dengan negara, hukum digunakan utnuk melegitimas lebih kuat, dan akhirnya ribuan anggotanya masuk penjara. Tentu cara-cara seperti ini sudah tidak zamannya lagi, ketika gelombang demokratisasi masuk ke seluk beluk ke tatanegaraan. Sama seperti ala kolonialisasi gaya lama yang ditinggal, dan sekarang ada gaya kolonialisasi gaya baru.

Pola Kedua “Pembunuhan Karakter”

Pola ini adalah pola yang lebih elegan namun sangat sadis, operasi yang tidak hanya menggunakan kekuatan politik, namun lebih banyak menggunakan media. Kita pernah dengan kasus pornografi di aktifis PAS Malaisya, yang tentu di back up oleh kekuatan utama dalam menyebarkan opini lewat media.

Pola Ketiga “Gado-Gado Sapi”

Pola ini merupakan gabungan Pembenturan dengan Negara sekaligus di bunuh karakter pemimpin partai/gerakan. Kita lihat kasus tokoh oposisi Malaisya, Anwar Ibrahim, kasus sex/sodomi yang dibumbui dengan aroma politik yang menyengat dan proses hukum yang kaya sinetron serta delik hukum yang sangat dipaksakan (rada mirip kasus LHI di PKS), Di Tunisia ada cerita pembunuhan tokoh oposisi utama, yang akhirnya dikesankan tuduhannya kepada Penguasa baru Tunisis pasca revolusi, yaitu An Nahdah (yang dulunya pernah diberangus dengan pola pertama) sekarang mereka lagi dicoba dengan pola Gado2 Sapi. Begitupula di Mesir, Partai Keadilan Pembangunan yang dimotori gerakan Ikhwan, yang dulunya juga pernah diberangus, sekarang juga jadi penguasa dan rongrong dengan demontrasi, perang opini serta adu domba antar lembaga negara serta militer.

Ketiga Pola di atas membutuhkan sebuah kekuatan yang luar biasa, super power. Di negara yang otoriter maka seringkali kekuatan ini dimiliki oleh Penguasa dan Militer, sehingga pemberangusan dilakukan dengan pola pertama yang rada kasar. Namun ketika di nagara demokrasi dan negara hukum maka alat pemukul yang memiliki syarat super power adalah Lembaga Hukum dan Media, maka sangat wajar untuk melemahkan Anwar Ibrahim, oposisi di Malaisya dan juga PKS digunakan alat pemukul ini.

Khusus untuk kasus PKS di Indonesia, memang sedikit penuh dengan festivalisasi (meminjam Istilah bang Fahri Hamzah), membunuh karakter dan menggeneralisir masalah. Ketika penangkapan LHI lewat KPK tentu akan sangat memukul PKS, karena KPK memiliki kekuatan yang super dengan fasilitas tak terduga, serta memiliki dukungan opini serta kepercayaan publik yang massif. Saya melihat ketika penagkapan LHI tidak bisa membuat PKS dan kadernya chaos maka diperlukan pukulan selanjutnya, entah itu aliran dana ke partai, atau target tokoh PKS selanjutnya, Anis Matta dan Hilmi Aminuddin. Harapannya ketika dua tokoh ini ditangkap maka PKS terutama kader di bawahnya akan kalap dan cahos. Kekalapan inilah yang diharapkan sehingga “Pembenturan PKS/Kadernya dengan Negara” akan benar-benar terwujud. Bahkan harapannya akan banyak “margono-margono” yang radikal dan militan yang berani meyerang secara fisik ke KPK, aparat Hukum dan kepolisian yang akhirnya berbuncu pada PKS yang chaos dan menjadi perlawanan PKS terhadap Negara, PKS akan menjadi tidak ligitimate dan membahayakan negara.

Tapi hal ini tak akan terjadi ketika kader PKS tetap solid dalam satu garis instruksi, kader PKS adem dan terus bertahan dalam badai, dan ketika semakin solid maka pelaku operasi akan semakin bingung dan mungkin akan kalap, sekian banyak biaya yang harus dibuang untuk sebuah operasi yang tak berujung.

Artikel ini disadur dari Opini Amrullah Aviv

Kompasianer di  Kompasiana pada  3 Juni 2013

 

Damang Averroes Al-Khawarizmi

Mahasiswa PPs Hukum UMI

You may also like...