Cambeu

Di sebuah perkampungan. Jauh dari keramaian dan kerumunan orang banyak. Hantu, setan, Parakan[i] Poppo[ii] masih sering digunjingkan. Ada orang mati, itu karena dimakan pello-nya oleh parakang. Tanaman, tetumbuhan, dan pepohonan menjadi sarang dan rumah mewah bagi poppo. laleng karaja[iii] tempat berkumpul para parakang. Malam Jumat adalah malam bagi pengrim doti/ guna-guna bagi orang yang  menanam kebencian diantara mereka, maka tak heran orang sering menemukan asu fanting[iv] kalau malam jumat, oleh karena dengan asu fanting itu yang mengirim pos doti[v] bagi yang ingin dibuat menjadi sakit dengan guna-guna.

Di kampung itu, Jalan Ceppie[vi]. Terciptalah sebuah benih percintaan, beni asmara pasangan muda-mudi. Lelaki dan perempuan yang menjadi tetangga bersebelahan. Tak ada angin yang membawa kabar estetik, tak ada hujan yang memecah kesunyian gadis polos itu. mereka dibesarkan dalam satu geng permainan. Dari kecil mereka sering main-main pengantin. Mereka saling menjodohkan. Layaknya pasangan kekasih yang telah dewasa.

Hasma adalah anak dari seorang Ibu yang berprofesiGuruSDsedangkan Bapaknya adalah Kepala Sekolah SMP. Sangat bertolak belakang dengan Ancu yang hanya seorang anak petani cengkeh dan Ibu yang punya gelar tak berarti, hanya sebagai Ibu rumah tangga. Namun sebuah titik nadir cinta tidak dapat diukur dengan matematika, kekayaan, materi, dan darah biru bangsawan.

Jika Hasma dan Ancu balik dari sekolah, sekolah dasar, yang tak jauh dari lokasi di Jalan Ceppie, Sekola Dasar di Dusun Batuleppa. Mereka berdua berlomba, berlari. Siapa yang lebih awal dan dapat juara satu, lalu cepat sampai di rumah mereka.

Lalu, mereka melepas kepenatan. Di tanahpadangrumput ilalang nan luas. Ancu meminta tolong kepada Hasma untuk dipegang layang-layangnya, kemudian layang-layang itu dihentakkan oleh Ancu sehingga melayang jauh ke atas. Terbang dibawah angin.

Setelah itu, mereka menarik ulur tali layang-layangnya. Ancu mengajari Hasma mempermainkan layang-layang itu hingga dapat terbang lurus, tinggi terbawa oleh angin. Kalau mereka jenuh dengan layang-layangnya, maka ia ikatkan saja pada pagar, batang pohon di tanah padang ilalang, Lembange[vii]

Ancu dan Hasma berbaring di permukaan tanah, sambil menatap awan putih gemawan di ujung pelupuk matanya. Mereka saling bertanya, apa yang dilakukan pada layang-layang  mereka yang gemulai terbang  di atas kebiruan penghujung langit. Ancu menyelah

“Ia sedang menikmati derasnya angin, pasti dingin dengn tiupan angin”

‘Ah…. mana mungkin dingin dongo, kalau begitu, ini khan masih soreh, masih panas matahari. Layang-layang itu sedang menikmati pemandangan di bawah yang terhampar, melihat kita berdua di sini.”

Peristiwa, main layang-layang, mereka sering kerjakan kalah musim panen padi telah selesai, angin di waktu itu akan bersahabat akrab dengan layang-layang. Pelajaran itu tak pernah mereka diajarkan, ia hanya melihat kebiasaan teman-temanya. Setelah musim layang-layang maka kemarau panjang kelak akan datang dikemudian hari.

Musim panen padi, laksana musim semi bagi Ancu dan Hasma. Mereka dapat kesempatan bermain yang lebih banyak. Karena pekerjaan Ancu membantu ayah dan Ibunya di sawah menuai padi telah selesai. Waktu untuk melepas tawa dan canda dengan Hasma. Pasti tersimpandan tersisa waktu banyak.

Ancu sering merasa gelisah ketika ia bermain layang-layang. ia sepi. Tak ada gunanya layang-layangnya tanpa ada Hasma yang membawa keriuhan angin bagi dia dan layang-layangnya yang dianyam dari kertas minyak dan diolesi lem Rumpiah itu. Seolah layang-layangnya hidup ketika ditarik ulur oleh Hasma.

Pernah, suatu ketika. Setelah mereka menerbangkan layang-layang. Mengikatkan tali benang layang dibatang pepohonan. Masih sering mereka berbaring, bagai dua sejoli.

Senja mentari telah menguning. Di bawah pohon teduh. Ancu dan Hasma bersandar di batang pohon beringin, lalu Ancu menunjuk ada ulat lengket di rambut gimbal Hasma. Hasma berteriak

“Ancu..tolong jauhkan ulat itu dari saya”

“Ya..ya..tapi tenang dulu Hasma”

Sesaat kemudian, Ancu mengambil ulat dirambut gimbal Hasma. Ia melepas ulat kecil itu, menyentuhnya hingga jatuh dipermukaan rumput. Hasma mengerang, jengkel dan menginjak-injak ulat itu. Refleks saja Ancu mancium pelipis Hasma. Muka Hasma merona merah, marah, matanya bengis menatap Ancu.

“Kau mencium aku. Anjing”

‘Maaf, Hasma ahkkku..tidak sengaja”

Permukaan tangan Hasma sontak, ia tampar Ancu yang baru menolongnya. Ia kemudian berlalu, lekas pergi meninggalkan jauh di belakang, Ancu mengejar. Sementara layang-layangnya masih beterbangan di atas lelangit, ketika senja malam akan datang. Kecil ditatap jauh ke atas. Warna kuning layang-layang sedikit demi sedikit tampak. Karena tak ada lagi kilauan siluet matahari. Layang-layang itu akan bermalam, menikmati angin malam di atas tanah padang, rumput ilalang Lembange.

Ancu masih mengejar Hasma. Di tengah jalan, tanjakan, ketika Hasma berlari sedemikian kencang. Ia terjatuh, takut rasanya ia meneruskan langkahnya. Ada suara burung Hantu dan suara burung Kulukulu memecah gendang telinga Hasma yang terdengar di hutan belantara Lembange, ia takut,  jerah atas kelancangan dan perlakuannya pada Ancu.

Ia yakin, bahwa kalau ada suara Burung Hantu dan burung Kulukulu itu, pertanda ada parakang, ada banggao[viii] sering ia dengar cerita itu dari ayah dan Ibunya, dari masyarakat di kampung itu.

“Ancu tolongkah…..ada Parakang

Ancu mempercepat larinya, menghampiri Hasma. Membangunkannya, karena ia terjatuh. Hasma menangis, miris. Semua buluk kuduknya berdiri. Ia melingkarkan tangannya di leher  Ancu. Bola matanya terus mengurai air mata deras.

“Ancu…. aku takut”

“Janganmaki takut Hasma, adaja di sini”

“ciyyyyyyet”

“Dasar, kau Ancu. Mengambil kesempatan dalam ketakutanku.”

Ancu pusing dibuatnya. Hasma sudah ia tolong, ia ditampar lagi mukanya, tadi muka bagian kiri, kini muka bagian kanan ditampar lagi. Proporsional. Benar-benar lelaki sedari dari tadi ia tidak tahu diuntung,  balas budi. Apa boleh buat, ia tetangga, ia teman kecilku, ia anak tetanggaku yang selalu baik hati pada ayah dan Ibuku, tidak pernah mempermasalahkan aku adalah anak dari petani miskin, demikian Ancu membatin.

“Awas kalau kau tinggalkan saya, kau jangan jauh dibelakangku, pokoknya kau ikut dibelakangku”

“Ya….ya…dasar perempuan penakut”

Mereka berdua masuk di rumah panggung, masing-masing tanpa selah, sepatah kata, salam perpisahan. Ucap maaf ataukah terima kasih dari Hasma kepada Ancu. Mereka pada seolah berdiam diri. Kokok ayam  betina dan suara kukuruyuk, terdengar melantun merdu saat mereka berlomba naik dan bertengger di atas pohon kopi, samping rumah mereka berdua.

****

Ketika usia dini, meninggalkan mereka berdua. Ancu dan Hasma masih sering berjalan beriringan, layaknya teman di usia kecil. Tapi umur mereka telah senja. Telah dewasa. Bukan lagi menghabiskan siang, di sore hari, menunggu pekat malam. Malah setelah mereka pulang dari sekolah SMA Bikeru, Ia hanya punya waktu berdua saat makan malam telah diurai oleh mereka sekeluarga.

Mereka berdua keluar selepas waktu Maghrib. Bercanda, bersenda gurau hingga malam kadang dilupakan, bahwa subuh hampir menjemput siluet matahari pagi. Ia tidak pernah tidur semalaman. Layang-layangnya memang telah tiada, tali-temalinya mungkin telah putus. Namun hasrat, naluri kebapakan dan keibuan semakin tua untuk dituai oleh mereka berdua, saja.

Bukan lagi matahari menjadi saksi atas persahabatan. Angin sepoi tergantikan oleh angin dibawah rembulan, dingin. Ia saling bersitatap, beradu pandang. Ada lekat bibir basah Ancu dibibir Hasma. Hasma tidak mungkin lagi, ada tamparan untuknya.

“Ancu maafkan daku, aku pernah tamparki dulu, waktu kita kecil, kau tahu moment itu aku belum mengerti sayyyy…ang”

Kenangan semakin indah dilukiskan, telah menitahkan banyak titah-titah rindu dan asmara yang membawa mimpi dalam kepenatan malam. Hasma pada akhirnya sadar. Ia sakit karena rindu yang telah dilekatkan pada Ancu. Pura-pura terus, bimbang, ia menipu ayah dan Ibunya, bahwa sakitnya, sakit biasa, cuman masuk angin. Jikalau ia sudah mual-mual.

Beruntung saja, ayah dan Ibu Ancu, menyimpan lembaran jutaan rupiah untuk anaknya, dari hasil penjualan cengkeh tahun lalu, mumpung tahun lalu cengkeh sedang melonjak harganya. Uang Pannai[ix] tidak masalah yang penting anaknya tidak mau dijadikan anak pesakitan, yang dicap sebagai lelaki yang tak bertanggung jawab.

Pernikahan digelar sedemikan cepat. Agar perut Hasma tidak membunting besar. Menutup aib keluarga. Namun ada perjanjian diantara dua Bisan itu. Diantara ayah/ Ibu Hasma dan Ancu. Kelak anak/ cucu dari mereka tidak boleh hidup. Ia harus dibunuh. Kalau perlu dikubur hidup-hidup.

Maka ketika kelahiran itu datang. Tidak ada tetangga dekat yang datang. Hasma didekatnya. Ancu berdiri. Menyaksikan kelahiran hasil olah asmara mereka berdua. Tidak tegah anaknya dibunuh, lalu dikubur hidup-hidup. Mereka cinta pada anak mereka. Tapi kedua ayah dan Ibu mereka cepat gegas merantai bayi itu, menutup hidung bayi yang masih basah itu, dengan jari jemarinya. Hingga bayi itu tiada menderu nafas lagi.

Terlihat Hasma meneteskan luka batin, tak tegah anaknya dibunuh oleh Ayah dan Ibunya, dibunuh oleh Mertuanya. Ia memang anak haram, tapi jangan dibunuh, ia tidak berdosa kodong[x].

“Sayang kita sabar ya….dari pada aib kita terdengar dari keluarga dekat, dari tetangga kita”

Memang kenyataanya. Mana mungkin baru tiga bulan perayaan pesta pernikahan, secepat itu anak terlahirkan. Sebelum Adzan Subuh terdengar dari mesjid. Ayah dan Ibu mereka membawa jasad janin itu dikuburkan di tanah padang rumput luas, Lembange.

Hanya air mata yang terus mengalir di pelupuk mata Hasma, Ancu tetap berusaha tegar, ia tak mau tertikam oleh waktu. Keceriaan dan kecerahan waktu akan datang esok lusa.

Jam satu malam, jauh di belakang rumah terdengar tetek-bengek suara menyeramkan, menakutkan. Dipembaringan, Hasma masih merangkul Ancu yang tertidur lemas.

Di belakang rumah mereka terdengar suara Cambeu.[xi]

“beu…beu…..beu…..beu…..beu…beu…….beu…”

“Afa[xii]… anak kita, itu, bagunki sekarang”

“Sudahlah Hasma, sudahlah sayangku. Kau mau dibunuh sama anakmu sendiri, ia telah menjadi Cambeu.”

Setelah itu, Hasma merekatkan tali jemarinya pada leher Ancu. Menarik ulur tangannya. Bagai layang-layang yang tak akan putus tali-temalinya. Kaku. Kemudian mereka tertidur pulas. Dibelakang rumah mereka tetap masih terdengar suara seram,

beu….beu….beu…..beu…..beu….”

 

Sinjai – Daeng Sirua  (Makassar),


[i] Makhluk jadi-jadian dari sosok manusia yang diperoleh berdasarkan ilmu hitam ataukah juga biasa diperoleh berdasarkan keturunan. Seorang biasanya menjadi parakang dilatarbelakangi oleh hasrat kekayaan

[ii] Sama dengan parakang, Cuma bedanya poppo bisa terbang setelah semua isi perutnya dikeluarkan, atau disimpan diloteng rumahnya. Poppo juga biasanya bertujuan untuk mencari ikan di empang atau mencari mangga pada malam hari.

[iii] Jalan setapak yang menghubungkan antara jalan kampung satu dengan kampung lain, tetapi harus melalui lorong-lorong yang gelap, jalannya masih terisolasi, masih penuh dengan hutan belantara.

[iv] Anjing yang berperan mengirim doti, anjing ini sangat ditakuti oleh orang di kapmpung. Konon katanya jika ia menabrak kita, maka umur kita tidak panjang lagi. Asu fanting biasanya berjalan dan muncul dijalanan pada malam jumat.

[v] doti

[vi]Jalan yang sempit lorong-lorongnya

[vii] Tanah lapang yang luas, terletak di dataran rendah.

[viii] Sama dengan parakang, cuma istilah banggao untuk menggambarkan secara keseluruan makhluk jadi-jadian.

[ix] Syarat untuk menikah harus dengan biaya mahar yang tinggi. Dikalangan bugis uang untuk pesta pernikahan sangat mahal, bahkan sampai ratusan juta sehingga terkadang. Wanita yang sudah hamilpun dihambat pernikahannya karena uang pannainya tidak cukup.

[x] Kasian.

[xi] Sosok hantu yang muncul menuntut balas dari janin yang dibunuh, muncul pada malam hari untuk mencari  ayahnya. Term “beu” yang digunakan adalah kalimat memangil bapaknya, dalam bahasa bugis bapak/ayah disebut ambeku  cambeu  dalam versi jawa disebut ‘janglot

[xii] Panggilan yang digunakan oleh isteri kepada suami biasa dikasih panjang menjadi afana.

 

 

Damang Averroes Al-Khawarizmi

Mahasiswa PPs Hukum UMI

You may also like...