Hantu-Hantu Politik dan Pemilih Skizofrenik

Kini kita telah tiba dibulan yang amat menentukan, bulan dimana para caleg sedang harap-harap cemas. Dikatakan menentukan, karena bulan ini merupakan bulannya hajatan demokrasi, yang akan membuka katup mata kita semua, kira-kira siapa saja nama-nama caleg akan menjadi pemenang dalam kontestasi 9 April nanti.
Namun sebelum tiba dipenghujung hari “H”, ketika semua pemilih akan datang berduyun-duyun menuju Tempat Pemungutan Suara (TPS). Satu hal yang menjadi ketakutan bersama (paranoid), jangan-jangan pemilu kali ini jumlah angka golput akan semakin mengalami peningkatan. Ini berbahaya, karena disamping mencederai demokrasi juga menyisakan krisis legitimasi dari anggota legislatif terpilih.
Lantas apa yang menyebabkan pemilih menjadi golput? Ada banyak variannya, namun melalui tulisan ini. Saya memiliki istilah tersendiri sehingga sindrom golput dapat terjadi, yakni karena pemilih kita sedang dilanda “kegilaan” yang saya golongkan berada dalam golongan pemilih  Skizofrenik.
Pemilih Skizofrenik 
Istilah skizofrenik di sini tidak bermaksud mensejajarkan pemilih berada dalam kegilaan sungguhan. Tetapi apa yang terjadi terhadap pemilih saat ini, terdapat beberapa kesamaan, berbagai peristiwa yang menimpa pengidap skizofrenik dengan pemilih yang dikhawatirkan menjadi pemilih golput.
Menurut “The oxford English Dictionary” (1989) kata “schizophrenia” (skizofrenia) merupakan adaptasi dari kata dalam bahasa Jerman “schizoprenie”. Kata ini diciptakan oleh Eugen Bleuler (1857-1939) dalam bukunya “Psychiatrisch-Neurol Wochenschr”. Kata dalam bahasa Jerman itu sendiri jika ditelusuri lebih lanjut nampaknya berasal dari bahasa Yunani yaitu “scizein” yang artinya “belah-pisah” (to split) dan “phren” yang artinya “pikiran” (mind). Selanjutnya, Eugen Bleuler kemudian memperkenal istilah skizofrenia, karena penyakit ini menyebabkan terpecahnya antara pikiran, emosi dan perilaku.
Gejala skizofrenia pun sedemikian rupa, tidak menutup kemungkinan akan terjadi bagi pemilih calon anggota legislatif nanti. Setiap pemilih bisa saja mengalami gejala, antara terpecahnya pikiran, emosi dan perilaku mereka.
Kalau pemilih mengalami yang demikian (baca: skizofrenik), dipastikan akan menjadi pemilih golput. Satu penyebabnya, pemilih menjadi skizofrenik, oleh karena caleg dan partai politik menjadi penyebab asal-muasalnya. Segerombolan Caleg beserta partai politiknya kini hadir “bak hantu, setan, iblis” terus mempropagandakan diri, kalau dirinya harus menjadi pilihan setiap pemilih. Jadinya, pemilih sulit menentukan mana caleg layak, mana caleg tidak layak. Semuanya sedang bergerumul, berkumpul, bergerilya; pagi, siang, sore, dan malam terus menjadi “hantu politik” yang tidak berkesudahan melancarkan godaannya.
Kalau seorang pengidap skizofrenia kemana melangkah, apapun yang hendak dan sedang dilakukannya terus dihantui oleh orang ketiga yang kasat mata. Kemudian, dirinya muncul rasa bersalah, hidup tak berguna, maka sewaktu-waktu bisa membunuh orang disekitarnya. Termasuk, mengancam jiwa sendiri hingga terjadi “efek bunuh diri”. golput
Sepadan dengan jutaan pemilih saat ini, ketika mereka melangkah hendak keluar rumah, di depan rumah, di jalan, dipohon-pohon, ada banyak bertengger “hantu politik” yang selalu menggoda dan terus merasuki pikirannya. Tidak hanya itu, begitu membuka dan menyalakan remote televisi, wajah hantu itu terus hadir mencekoki sang pemilih. Bahkan membuka harian media cetak, online, begitu banyak hantu bergentayangan terus menggoda. Dan godaan mereka tidak sungkan-sungkan mempermainkan alam pikiran pemilih; dia paling benar, paling baik, dan hantu lainnya, mereka adalah orang yang jahat, berdosa, bersalah, tidak pantas dipilih atau dijadikan sosok (figure).
Apa jadinya kalau seperti ini? Di suatu waktu muncul hantu yang merasa benar, hantu lainnya kemudian di cap sebagai hantu jahat. Lalu diwaktu yang lain, hantu yang sudah dicap sebagai hantu jahat juga berujar demikian dan menyerang hantu sebelumnya. Tentu pemilih berada dalam kebingungan, sulit menentukan siapa sesungguhnya paling benar, dan ujung-ujungnya terjadilah pemilih dengan kepribdain yang terpecah belah antara pikiran, emosi dan perilakunya.
Dititik itu kemudian, pemilih akan menjadi orang berbahaya untuk orang disekitarnya. Gara-gara godaan si “hantu politik” dia bisa membunuh orang yang dianggap mengancam jiwanya, ataukah membunuh dengan alasan demi menyelematkan negeri yang sedang di huninya. Kalau dirinyapun, dianggap tidak mampu memberi solusi, menyesali kehidupannya gara-gara propaganda si “hantu politik tadi” dirinyapun bisa “bunuh diri”.
Namun kalau tidak bunuh diri. Sikap linglung si pemilih, terobati dengan menghilangkan semua unsur godaan sang hantu. Walaupun godaan itu terus berdatangan di TPS, mereka cenderung mengabaikannya. Mereka mengganggap “hantu politik” itu adalah orang lain, sebagai hantu yang bisa merusak alam pikirannya.
Dan ketika tidak lagi merasa tergoda (di TPS). Pada akhirnya, satu-satunya jalan, tidak memilih pula hantu yang sedang tersaji di hadapan mata mereka semua. Masih untung kalau ada tanda gambar hantu yang dicoblos, tapi dicoblos bukan hanya satu, namun dua, tiga, dan seterusnya. Tapi bagaimana, kalau kertas suara yang banyak sosok hantu itu, sama sekali tidak ada tanda yang membekas. Itulah konsekuensi “hantu politik” yang dapat menyebabkan pemilih menjadi skizofrenik, namun memang hanya golput bisa menjadi satu-satunya jalan bagi pemilih menjadi “sembuh” dari penyakit yang menimpanya.
Cegah Skizofrenik
Pemilih yang kini sedang dilanda penyakit skizofrenia adalah pasien yang harus disembuhkan oleh psikiater. Psikiaternya adalah KPU/KPUD, Panwaslu/Bawaslu, dan pemilih yang masih “sehat” harus mensiasatinya.
KPU/ KPUD harus bekerja keras melakukan “rehabilitasi” terhadap semua pasien skizofrenik tadi, terapi secara terus menerus harus dilakukan agar si pemilih sembuh. Sebelum alam sadar mereka berujar; tak ada “hantu politik” yang baik hati.
Disaat yang sama, dituntut pula peran Panwaslu/Bawaslu mencabut semua gambar-gambar “hantu” yang rentan, potensial, menghantui pemilih. Sebelum tiba hari “H” pemilu 9 April nanti. Kira-kira “terapi politik” demikianlah akan mampu mencegah pemilih yang teridap skizofrenia dari semua hantu-hantu politik yang terus menghantuinya akhir-akhir ini.(*)
Artikel Ini Juga Muatdi Harian Tribun Timur 1 April 2014

Damang Averroes Al-Khawarizmi

Mahasiswa PPs Hukum UMI

You may also like...