Harapan Untuk PKS

 

Sumber: halaqohdakwah.wordpress.com

Terorbitnya PKS sebagai partai politik religius nasionalis kanan, merupakan perjuangan  panjang dari para petuah-petuahnya. Dibidangi kelahiranya, dari Lembaga Dakwah Kampus. Hingga menanjak sebagai organisasi gerakan politik.

Pasca pemilu 2009 mengalami kenaikan suara cukup menanjak. Namun setelah pucuk pimpinannya ditimpah musibah rasuah. kini berada dalam ancaman. Tubir jurang kehancuran

Partai dakwah dengan untaian padi diapit oleh sabit kembar itu. Patut dicatat bahwa gerakan dakwah kampuslah bermula mencetuskannya. Adalah lembaga Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII), yang pertama kali berdiri pada 1967. Dipelopori oleh Muhammad Natsir (Mantan Tokoh dan Elit Masyumi).

DDII bahkan digencarkan oleh tokoh-tokohnya. Islam bukan sekedar konstruksi teologis semata. Melainkan juga ideologi politik. Namun  rezim otoritarian Soeharto yang melarang munculnya ideologi, yang akan mengancam posisinya. Maka pada akhirnya DDII memilih revitalisasi dakwah di kampus. DDII pernah berafiliasi dengan LMD (Lembaga Mujahidin Dakwah) yang dipelopori oleh Imadudin Abdulrahim dengan mengkampanyekan doktrin tauhid dan bahaya ghazw al-fikr (perang pemikiran) yang berasal dari ideologi Barat kedunia Islam. Imaduddin menyebarkan ajarannya melalui kurikulum NDP (Nilai Dasar Perjuangan), diadopsi dari pemikiran Norcholis Madjid.

Pada akhir 1970, ketika tindakan represif Soeharto semakin kencang. Kampus sengaja dibonsai melaui Normalisasi Kehidupan Kampus (NKK). NKK melarang aktivitas politik  Mahasiswa dan menggantikan lembaga Mahasiswa yang dulunya independen (Dewan Mahasiswa).

Namun dengan geliat dari peristiwa runtuhnya rezim Iran 1970-an. Memantik jiwa dan semangat dakwah di kalangan Mahasiswa Muslim untuk menjadi bahagian umat Islam seluruh dunia. Gerakan dakwah kampus semakin solid. Karena diikat dengan perasaan kekeluargaan.

Di kalangan kampus kembali terlahirkan semangat melaksanakan nilai-nilai islam.  Begitu ramai tampak dengan penggunaan jilbab dan baju koko diberbagai kalangan Mahasiswi/ Mahasiswa. Mesjid kampus semakin ramai. Hingga terbentuk Lembaga Dakwah Kampus (LDK). Beberapa pihak pimpinan kampus bahkan mengakui LDK sebagai UKM intrakampus.

Di pertengahan 1980-an LDK resmi didirikan sejumlah Mahasiswa yang aktif dalam kegiatan dakwah kampus. Tepatnya di Universitas Indonesia. Lembaga Dakwah Kampus kemudian semakin memiliki pengikut. Tersebar di daerah-daerah. Puncaknya,  terbentuklah Forum Silaturrahmi Lembaga Dakwah Kampus (FSLDK) pada 1986 sebagai metamorfosa dari LDK.

Dengan memanfaatkan pertemuan ke-10 FSLDK di Malang. Dihadiri ratusan Mahasiswa dari seluruh Indonesia. Beberapa aktivis mengumumkan pembentukan KAMMI (Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia). Pada waktu itu.

Momentum krisis 1998 dijadikan peluang  oleh para aktivis KAMMI. Mereka menggelar aksi. Sebagai  protes untuk mempercepat gerakan reformasi. Banyak kelompok ikhwan, tarbiyah turun ke jalan. Sebagai  tanda, gerakan yang pada mulanya bergerak dibidang dakwah ini. Secara perlahan KAMMI. Menjadi gerakan sosial politik. Berlakulah pandangan ‘al-jama’aah hiya al-hizb wa al-hizb huwa al-jama’ah (gerakan adalah partai dan partai adalah gerakan)”

Pasca kejatuhan rezim Soeharto 29 Mei 1998. Tokoh-tokoh KAMMI mulai memikirkan untuk mendirikan Partai Islam. Pada tanggal 20 Juli 1998 berdirilah PK di Jakarta. Sehingga bukan hal mengagetkan. Jika banyak pengamat politik,  mensinyalir  KAMMI sebagai ”sayap Mahasiswa PK/ PKS”.

Awal dari gerakan partai Islam ini yang bernama Partai Keadilan tampaknya masih belum mendapat simpati publik. Diawal kelahirannya. Oleh  suara partai hanya  diperoleh dari kader dan tarbiyah kampus saja. Partai Keadilan (PK)  masih terkesan inklusif. Sehingga pemilu  1999 PK hanya mendulang suara 1,3 %.

Berlakunya sistem electoral treshold  (UU No 3/ 1999 tentang Pemilu)  mensyaratkan 2 %, suara dari calon yang terpilih pemilu periode sebelumnya. Maka pada 2 Juli 2003 akhirnya PK harus mengubah namanya menjadi PKS. Dan menggabungkan semua anggota Dewan dan kadernya.  PKS menyelesaikan seluruh proses verifikasi Departemen Kehakiman dan HAM. Di tingkat Dewan Pimpinan Wilayah dan Dewan Pimpinan Daerah.

PKS yang memang sedari awal dibentuk sebagai partai kader. Tidak mengenal penokohan .  Sebagai partai egalitarian. Mulai membuka diri sebagai partai Islamis Pancasilais.  Di samping menjual isu-isu Islam.  Seperti protes atas invasi Amerika ke Irak, protes perang Israel-Palestina.  Juga sudah mulai menyorot isu nasional. Dengan slogan partai yang bersih, mulia, tidak korupsi. PKS  membawa angin segar perubahan . Hingga suara diraup pada  pemilu 2004 sebanyak 7, 34 % (45 kursi).

Pemilu yang dihelat di tahun 2009. Nampaknya PKS semakin bergerilya membuka keran politiknya di kalangan eksternal. Dibawah komando Presiden PKS, Tiffatul Sembiring. Secara terbuka menggalang aksi. Turun ke jalan, tidak tangung-tangung. Melibatkan anak-anak kecil, anak punk, perempuan tanpa jilbab. Turun ke jalan menggalang soliditas dalam menyikapi masalah transnasional. Sebut misalnya aksi pembakaran bendera Denmark. Gara-gara kemarahan Islam akibat pemuatan kartun nabi Muhammad. Di salah satu majalah, di negara itu.

Kekuatan basis elektoal PKS di pentas pemilu 2009. Dengan kemampuannya membentuk sebagai partai yang kritis.  Bahkan tak sungkan melakukan pendaftaran relawan jihad  ke Palestina (meski pengiriman tersebut tidak pernah jadi-jadi).  Menguatkan kepercayaan kader-kader di tingkat bawahi. Sebagai partai yang berjuang di jalan dakwah. Pemilu 2009 membuktikan PKS berhasil mendulang suara 7, 9 % (57 kursi).

Kini di era pemerintahan SBY-Boediono. Di  bawah Kabinet Indonesia Bersatu jilid II.  Banyak pemilih dan kader PKS yang mulai kecewa. Terutama dengan bergabungnya partai dakwah tersebut. Dalam Setgab koalisi SBY. Bahkan terkadang partai bulan sabit kembar ini menjadi koalisi kutu loncat. Kadang memihak pada pemerintah, kadang beroposisi.

Pasca Mukernas  di Bali. Ia mengukukan dirinya. Sebagai partai yang terbuka nonmuslim.  Menyebabkan semakin banyak kadernya yang kecewa. Terutama dari kader-kader akar rumput. Yang sudah berjuang mati-matian. Mereka yang rela merogoh kocek milik pribadi untuk partai. Demi berjuang di jalan Allah. Lalu petingginya, telah memutar haluan hanya untuk kepentingan kekuasaan.

Bulan April  2011 bahkan menjadi tamparan keras bagi Partai dakwa itu. Sebagai partai yang selalu bergerak dalam syariah yang bersih. Ternyata seorang kadernya.  Arifinto kecimprat dari kamera tersembunyi. Sedang membuka video  porno dari telephon genggam milik pribadinya. Dan tak lama, selang beberapa hari Arifinto mengundurkan diri sebagai anggota DPR.

Harapan

Tidak ada kasus yang lebih berbahaya. Selain dari pada  korupsi.yang paling ditakuti para elit politik. Tahun 2013 menjadi musibah, baginya. Musibah bagai nodah partai dakwah. Presiden Luthfi Hasan Ishaaq (LHI) di jemput  oleh KPK.  Karena tersangkut kasus penyuapan tender impor daging sapi, yang melibatkan PT Indoguna.  Arisan pun jatuh pada pucuk sang pimpinan . Hingga menjadi ancaman demoralisasi bagi kader Partai dakwah itu.  Untuk mempertahankan basis elektoralnya.

Hari esok, lusa, diprediksi suara elektoralnya akan ambruk, rontok, rapuh, hancur berkepnig-keping. Kader yang berasal dari kalangan kampus. Yang tiap harinya memuja murabihnya. Boleh jadi lenyap satu persatu.

Demikian halnya dengan para petingginya. Sebagamana  dilansir beberapa media.  Banyak petingginya bergelimangan harta. Tampil hedonis. Juga semakin menguatkan kalau petinggi-petingginya.  Telah keluar dari jargon partainya, yang ‘sederhana”. Apalagi sebagai partai bersih, sudah bukan lagi waktunya meneriakkan kata itu. Setelah LHI  menjadi tersangka dalam kasus impor daging sapi.

Semoga saja, figur muda Anis Matta yang menggantikan LHI sebagai presiden PKS. Benar-benar lambungnya tidak lagi bersahabat dengan tempat tidur (tatajafa junubuhum anil madhoji). Guna  melakukan terobosan radikal. Terutama transparansi kekayaan dari para petinggi partai dakwahnya. Kalau Anis Matta meneriakkan pertobatan nasional. Mungkin cara yang paling radikal mengembalkan kepercayaan kader dan simpatisan (dari kalangan eksternal). Adalah audit secara nasional terhadap semua kader dan petinggi partai. Yang saat ini memiliki kekayaan berlimpah ruah. ***

Damang Averroes Al-Khawarizmi

Mahasiswa PPs Hukum UMI

You may also like...