Jalan Pulang Pernikahan

“Kita harus tahu say…pernikahan adalah peristiwa Maha Agung nan spiritual dalam hidup anda, makanya janganlah demi saya, tapi demi sebuah sunnatullah. Saya hanya menjadi perantara yang mengizinkan kita. Semua itu adalah rekayasa Tuhan yang tak pernah kita duga. Menikahlah say….ku. demi rahmat dan kuasanya, Rabb-Ku, juga Rabbmu.”

Handphone yang menjadi perantara kesunyian malam itu, akhirnya kututup. Aku tak ingin mendengar igau suara tangisannya lagi. Aku tak sanggup. Padahal jauh dari lubuk hatiku menjerit, aku tak ingin melepaskanmu, aku tak ingin ada lelaki yang akan melantun doa bersamamu kelak. Mengapa kita tidak menjadi pasangan merpati yang akan beterbangan tinggi menjangkau masa depan ? Mengukir kenangan bersama dengan anak dan cucu kita.

Wahai penghibur malam kesunyian, aku sepi tanpa Hamida di kamar ini.  Kirimkanlah pengobat duka buatku, juga buatnya.. kuyakin ia disana  telah membasahi mukena tahajjudnya dengan air mata. Mengapa air mata itu ditujukan bukan  untuk_Mu Tuhan ? aku tak rela ia menangis demi diriku, karena aku tak mungkin menjadi Tuhan buat dia. Dengan alasan ini pulalah sebenarnya, kuyakin memang  aku dan Hamida tak layak jadi pasangan suami-isteri, dia terlalu mengagungkan diriku, padahal aku bukan Tuhan untuknya. Mengapa cinta itu tidak disemai untuk keagungan Tuhan yang maha sempurna ? seperti cintanya Rabiatul Adawiya, ataukah Saddia kepada Hubb, yang tak pernah ia lekas temui.

Mataku kupaksa terkatup, namun aku digalau resah dan gelisah. Kubayangkan pendamping di pesta pernikahan Hamida suatu hari nanti. Dan pasti ia mengundangku, untuk keikhlasan dan bukti aku merelakannya. aku mesti datang kelak.

Subuhpun tiba waktunya, terdengar suara desik kendaraan bising jalanan, dari luar pondok Indah Manuruki. Lantunan adzan dari samping pondokan itu.

Esok pagi jam 10.00, aku sudah mesti tiba di kampus Unhas, Tamalanrea, mengikuti prosesi ujian akhir, ujian tutup strataku. Semua konsep yang telah kurancang kemarin untuk bahan ujian penutup strataku, rasanya tidak ada yang singgah dan membekas sedikitpun di otakku.  Pikiranku telah disetting dengan kenangan, disetting dengan wajah Hamida, dihancurkan oleh kenangan masa lalu  untuk menyatu dalam ikatan pernikahan. Bagaimana mungkin, aku menikahi seorang perempuan sekelas Hamida secepatnya, walau ia menawariku. Rela menungguku, kalau aku belum punya pekerjaan apa-apa.

Sarjana saja yang hampir kuraih, belum tentu menjadi jaminan agar aku bisa cepat-cepat mendapat pekerjaan. Aku harus belajar mengikhlaskan, merelakan untuk dimiliki lelaki lain yang lebih mapan, ketimbang diriku. Jika dia berbahagia kelak, maka akupun pasti bahagia. Tidakkah demikian cinta sejati, berani melihat kebahagiaan untuk orang yang dicintainya. Ah….tidak, Hamida pasti rela hidup miskin bersamaku.

Tanya batin itu semakin lama dalam alam hayal dan lamunan, di teras Pondok Indah, aku membiarkan semua kejadian dan aktivitas berlalu tanpa kuhiraukan. Shalat subuh sudah terasa berat kulakukan. Aku langsung menuju kamar mandi, menyiram panas pori-pori tubuhku, jantung di dalam sistem peredaran darah memompa, memompa demikian cepat ke seluruh organ tubuhku. Aku siram semua permukaan tubuhku dengan air dingin pagi.

Kubergegas cepat di jalan raya, membawa tas gantungan yang selalu setia menemaniku, kemana hendak pergi, ke ruang kuliah, keteman-teman Himpunan Mahasiswa Islam di Pettarani, saksi atas hiruk-pikuk kota Makassar.  Aku memilih menyewa saja mobil taksi, tak seperti biasanya, naik mobil petepete 07, karena ini adalah hari penting, hari bersejarah yang akan membuai masa depanku kelak. Ironisnya sejarah yang akan tercipta ini diancam oleh pudarnya kesetiaan Iwan kepada seorang Hamida, dunia telah mensetting beda dari rencana mereka.

Di tengah perjalanan, saat mobil taksi berhenti di lampu merah, Jalan Urip. Terdengar nada pesan dari handphone yang kukantongi

Tik…tik…tik,,

Oh..nada pesan. Tampil satu pesan belum terbaca,

“Kak besok aku sudah menikah tepat badha dzuhur di Almarkaz, mohon kedatanganta na…h”

Kenapa begitu cepat amat, engkau Hamida betul-betul tak mengerti diriku, padahal engkau sudah kutanya kemarin, aku besok mau ujian, maksudku; untuk meminta agar engkau mendoakan aku, justru engkau mengirim kabar yang akan menghambat gerak cepat pikirku, untuk sarjana hari ini. Tapi sudahlah. Aku yang menjalani hidup ini, aku yang punya pilihan, semuanya sudah terjadi, nyatanya.

Kusahakan, melupakan sejenak, undangan itu. Minimal satu hari.. Hari ini. Agar aku tak mejadi budak cinta yang akan dikelamkan oleh masa lalu, demi masa depanku.

Seorang anak, bertubuh mungil, menyodoriku Koran pagi dari kaca jendela, cepat kukasih uang dua ribu rupiah. Kemudian sopir taksi langsung tancap gas, menderu cepat, melewati  banyak kendaraan petepete, aku memohon kepada sopir taksi, agar cepat-cepat sedikit,

“aku buruh-buruh nih Pak… tolong dipercepat mobilnya”

Pas, tepat Jam 10.00, aku sudah tiba di kampus, Fakultas Hukum Tamalanrea Unhas, cuaca sepertinya mendukung, tidak panas seperti kemarin, ketika aku habis membagikan undangan seminar skripsi, Untuk hari ini. Hanya hujan rintik-rntik yang membasahi permukaan jalan kampus, sedikit ada angin yang ditiupkan oleh pohon samanea saman di pinggir jalan

Kemudian ada SMS dari pembimbing satu, Prof Achmad Ali, terbaca di kotak masuk;

“Tunggu sebentar de….,15 kemudian aku tiba disitu”

Sementara di ruang ujian sudah hadir semua, Satu pembimbing yang menjadi tempat belajarku selama kutulis skripsi, Prof Musakkir. Dan beberapa penguji;  DR wiwie Heryani., A. Tenri Famauri, dan Dr.  Irwansyah. lima belas menit kemudian Prof acmad Ali memenuhi janjinya, memang dia selalu tepat waktu, walau ia sibuk mengajar di mana-mana.

*****

Akhirnya, ujian akhir skripsi untukku, semua kulewati dengan muda, mulai dari pertanyaan penguji, hingga berakhir pada pembimbing pertama, berkat rahmat dan kuasa-Nya, Hamida tidaklah menjadi bayang-bayang penggangguku.

Cuma diakhir judisium, aku tak kuasa menitikkan air mata,  ketika pembimbingku, yang kedua, Proff Musakkir, menyinggung nama Hamida di kata pengantar, siapa ini ukhti, yang kau tulis;

“Terima kasih kepada pengisi relung hatiku yang selalu melantunkan sujud, syukur dan menerima kesederhanaanku, Hamida engkaulah pengobar semangat masa depanku”.

Aku terdiam, tertunduk, bisu tak menjawab perrtanyaan Proff Musakkir,. aku membatin,  “Prof….saya kira ini kita sama –sama laki-laki dan pernah melewati masa kedunguan dan ketololan cinta.”

Setelah kusodorkan lembaran  uang ratusan rupiah, ketemanku, Anto untuk mentraktir teman-teman, aku  langsung pulang. Ke Manuruki, di Pondok Indah.

Tanpa menelphone Ibu dan kakakku, apalagi Hamida, mengantar kabar gembira, seseungguhnya aku telah sarjana. Aku terbaring lesu sendiri di kamar sesak, yang dipenuhi dengan tumpukan buku-buku. Tuhan, mengapa kau tidak ambil saja nyawaku ? rasanya kutak-kuasa membayangkan kuasa-Mu ketika Hamida  harus menikah, bukan dengan diriku, yang bernama Iwan, S.H,  yang telah membabat Hamida dari kebermaknaan oase rasionalisasi, pikirku.

****

Kemarin adalah sejarah penting dalam hidupku, hari ini adalah sejarah penting buat Hamida. Aku tak boleh menjadi manja, menjadi lelaki pengecut yang yang tidak berani, tidak jantan tak mau  datang di pesta pernikahannya.

Maka kuputuskan untuk datang di momen, hari kesucian Hamida, setelah kubereskan semua buku-buku  yang ingiin kubaca sebagai pengisi waktu di kampung. Aku berencana setelah dari pesta Hamida, kepengen aku langsung pulang..

******

Perjalananku menuju  ke pestanya,  di atas mobil petepete. Aku duduk kaku, tiada ceria seperti biasanya, aku tak berani menatap, menerawang ke luar. Kepalaku selalu tunduk ke bawah, menyesali kata-kata yang prnah kuucap, mengizinkan seorang perempuan yang masih kusayangi tuk menikah. Penumpang di sebelahku. Semuanya, tertuju tatapan matanya, kepadaku.

Aku turun dari mobil petepete, setelah membayar sewa mobil, aku gendong tas ransel yang dipenuhi buku-buku. Berat amat tas itu. langsung saja masuk diruangan pesta pernikahan Hamida. Kucari kursi, tempat duduk, yang tidak dapat dijangkau pandangan mata, oleh Hamida.

Aku berada di tengah para tetamu, keramaian. Kulihat di sana Hamida jua tidak ceria seperti diriku.

“Sayang… mengapa kau tidak membuat tegar dirimu”.

Tak sengaja, aku melihat, kucuri pandang kepadanya, ternyata Hamida sudah mengetahui keberadaanku di pestanya. Tissue di tangannya berkali-kali mengucek bulir air matanya. Ia tak tahan menatapku berada di situ.

“Sayangku, Hamida sesungguhnya akupun demikian, tapi inilah sebuah rencana Tuhan yang kita tidak punya naskah apa-apa dari Tuhan untuk kita sendiri yang mensetting hidup ini, ke depannya.”

Jauh aku meniggalkan perayaan suci itu, di Al-markaz. Setelah kujabat tangan suami Hamida, tanpa menoleh dan menatap bola mata Hamida aku lekas pergi. Pergi dari  acara pestanya. Aku meninggalkan kota Makassar  menuju kampungku, Sinjai. Tanpa sepengetahuan Hamida.

Dulu aku pernah mengantarmu, Hamida pulang, setelah mengikuti prosesi ujian SMPTN. Kali ini kau tidak tahu sedikitpun  rencanaku. Ada jalan pulang dari pestamu, pesta pernikahanmu. Semoga menjadi jalan pulang yang akan melupakan kenangan akan masa laluku kepadamu.

Perjalananku adalah laksana perjalanan Isra-mi’raj, pindah dari haluan pikirku, untukmu. Mataku berkaca-kaca menerawang ke atas langit yang gelap. Bola mata awan menjadi kelabu. Kemudian, hujan turun deras. Mobil panther Gurella yang sudah kutelephone menjemputku, di depan Al-Markaz.

Mobil panther Gurella, menjadi saksi  sekaligus pengisi relung gelap hatiku, Kota Makassar kutinggalkan dari jalan pulang pesta pernikahan, dari seorang gadis yang tak akan kutemui lagi. Kota Makassar didera hujan. Selamat tinggal Hamida, akhirnya cinta pertama yang kubangun di Kabupaten Sinjai, menjadi cinta mati di Kota Makassar.

Ada jalan pulang dari kota cinta mati itu. Ada secerca harapan untuk menatap hari esok yang cerah, aku minta maaf kepadamu, aku tak bisa mengikhlaskanmu, kecuali aku terus berusaha membuat jalan pulang untukmu, jua untukku. Selamat tinggal sayang, untuk terakhir kalinya. Aku mengatakan teramat sayang kepada-mu, sangat sayang dan mencintaimu, dari jiwamu yang terkasih, kasihan.

 

Agustus  2009   Makassar _ Sinjai

*Penulis adalah peneliti psycho-legal (FH- unhas) dan penggiat di forum lingkar sastra Tamalanrea Unhas

Damang S.H., M.H.

ALUMNI PPS HUKUM UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA MAKASSAR, PENULIS BUKU DIANTARANYA: ASAS DAN DASAR-DASAR ILMU HUKUM TERBITAN GENTA PUBLISHING (2017), CARUT-MARUT PILKADA SERENTAK 2015 TERBITAN PHILOSOPHIA PRESS MAKASSAR (2016), KUMPULAN CERPEN DALAM MENETAK SUNYI (2013).

You may also like...