Jokowi’s Effect dan Warning Pemilu 2014

Kemenangan  Jokowi-Basuki di Pilgub DKI Jakarta, tahun kemarin. Menjadi pelajaran penting bagi aktor-aktor politik di tanah air. Kharismatik, figuritas beserta keluguan Jokowi. Memiliki efek magnet elektoral tersendiri, terhadap Pilkada-pilkada lainnya.

Merunut ke belakang, kemenangan Jokowi di DKI Jakarta merupakan lompatan sejarah. Ketika mesin politik partai di Senayan. Seolah mati dan tidak berfungsi sama sekali. Bisa dibayangkan dengan total kekuatan 83 % Parpol hasil suara Pemilu 2009  mendukung Fauzi-Nara. Malah fakta politik berbicara lain. Parpol pendukung Fauzi-Nara bertekuk lutut. Di hadapan dua partai pendukung Jokowi-Ahok. Yakni Partai Gerindra dan PDI Perjuangan yang hanya mengantongi kekuatan 17 % suara partai hasil Pemilu 2009. Kedekatan Jokowi dengan Megawati ini. Terbukti disaat kampanye politik Pilkada di gelar, di tiap-tiap daerah. Hampir semua calon Kepala Daerah yang diusung oleh PDIP. Mengenakan baju kotak-kotak ala Jokowi. Malah tidak luput, sekali-kali melibatkan Jokowi “terjun lapangan” berkampanye. Dengan maksud, menarik simpati pemilih. Cukup Jokowi mendompleng nama terhadap calon-calon Kepala Daerah tersebut.

Jokowi’s Effect

 Meskipun dua provinsi calon yang diusung oleh PDIP. Yaitu Jawa Barat (Jabar) dan Sumatera Utara (Sumut). Semuanya kalah. Tapi jika dicermati dengan baik, efek jokowi mampu memberi insentif elektoral atas kemenangan beberapa calon yang diusung oleh PDIP. Dengan memakai popularitas Jokowi.

Sumber: web.inilah.com

Sumber: web.inilah.com

Pertama, di Provinsi Jawa Barat misalnya. Memang calon pasangan Rieke Diah Pitaloka – Teten Masduki hanya memperoleh suara 5.714.99. Kalah dari Ahmad Heryawan – Deddy Mizwar (yang diusung oleh PKS, PPP dan Hanura)  dengan suara 6.515.313. Tetapi coba bandingkan dengan   pasangan Dede Yususf Macan Efendi – Lex Laksamana Zainal Lan  yang memperoleh suara hanya 5.077.522. Berada di bawah perolehan suara Rieke Diah Pitaloka – Teten Masduki.  Rieke dan Dede Yusuf kedua-duanya berasal dari latar belakang artis. Namun karena faktor Jokowi di belakang namanya. Suara Rieke malah memutarbalikkan fakta beberapa lembaga survei. Yang pada awalanya Dede Yusuf lebih dijagokan ketimbang Rieke.  Padahal Dede Yusuf diusung oleh Partai Demokrat (PD) adalah partai penguasa parlemen di Senayan. Lagi-lagi dalam posisi ini mesin partai tidak berjalan. Karena PD mengalami kekalahan dua kali secara beruntun. Pasca kekalahan Pilgub DKI Jakarta kemarin.

Kedua, Pilgub di Provinsi  Sumatra Utara, juga menjadi alarm sekaligus   efek dari pada Jokowi. Ketika PDIP, Partai Peduli Rakyat Nasional (PPRN), dan Partai Damai Sejahtera (PDS) mengusung pasangan Effendi MS Simbolon-Jumiran Abdi (Esja). Meski pasangan Esja kalah dari pasangan Gatot Pujo Nugroho-Tegku Erry Nuradi (Ganteng), dengan suara terbanyak 1.604.337/ 33 %. Tetapi  suara  Pasangan Esja sebanyak 1.183.187 (24,34 %). Lebih tinggi dibandingkan suara Gus Irawan Pasaribu-Soekirman (Gusman), yang mendapatkan 1.027.433 suara atau 21,13 persen saja. Tidak pernah diprediksi sebelumnya pasangan Esja akan memperoleh suara diurutan kedua. Karena  jika dilihat dari  segi popularitas dan elektabilitas, Gusman elektabiltasnya jauh lebih tinggi dibandingkan Esja. Gus Irawan Pasaribu cukup dikenal di hati warga Sumut sebagai mantan Dirut Bank Sumut. Sedangkan pasangan Esja di tingkat grass root pun kurang tingkat kedikenalannya. Hasil survei Pusat Kebijakan Pembangunan Strategis (Puskaptis) dan Indo Matrik popularitas dan elektabilitas Cagub Sumut. Menempatkan pasangan Gusman dengan 26,28%. Dibandingkan pasangan Esja hanya berada dalam angka elektabilitas dan popularitas 7,4% saja. Itupun prediksi suara pasangan Esja, merupakan sisa suara. Bersama dengan Amri Tambunan-RE Nainggolan (11,85%), Chairuman Harahap-Fadly Nurzal (7,8%). Dalam konteks ini, jelas efek Jokowi mampu mengangkat pasangan Esja menafikan hasil survei. Sehingga pasangan Esjapun pada akhirnya mendulang suara di atas pasangan Gusman.

Terakhir, pemilihan Gubernur di Provinsi Jawa Tengah (Jateng) kemarin. Cukuplah menjadi bukti kuat. Kalau Jokowi mampu memberi pengaruh di Provinsi yang dikenal banyak jumlah pemilihnya itu. Tidak perlulah diulas lebih jauh efek Jokowi. Karena hasil hitungan cepat (quick count) Indo Barometer (IB) sudah berbicara kalau Ganjar–Heru sebagai Cagub-Cawagub peraih suara terbanyak, dengan mengantongi 47,2 persen suara. Posisi kedua ditempati Bibit Waluyo-Sudijono Sastroatmodjo. Pasangan nomor urut dua yang diusung Partai Demokrat ini mengantongi suara 31,6 persen. Lalu di posisi buncit ada pasangan nomor urut 1 yang diusung Partai Gerindra, Hadi Prabowo-Don Murdono yang mendapatkan 21,2 persen suara.

Lantas, bagaimana dengan pemilu 2014 nanti, kian hari semakin dekat pemilu 2014. genderang politik semakin ramai ditabuh oleh semua partai politik, yang sudah lolos dari palu godam verifikasi KPU kemarin ? Apakah Jokowi masih mampu memberikan efek tehadap sejumlah partai politik, terutama PDI Perjuangan ? Itupun kalau Jokowi tidak maju sebagai Capres 2014. Di tengah godaan sejumlah lembaga survei, yang selalu menempatkan elektabiltas dan popularitasnya di nomor wahid. Tapi sepertinya Jokowi, tanggung rasanya, mengakhiri bulan madunya secepat itu. Karena warga Jakarta masih menginginkan beliau menjadi Gubernur dari segala sengkarut Ibu Kota Negara itu.

Warning 2014

Melihat dari pengaruh Jokowi di setiap Pemilukada yang dihelat di nusantara ini. Serta namanya yang selalu disebut-sebut. Oleh tiap lembaga survei berada dalam angka elektabilitas dan popularitas yang tertinggi dan tidak dapat terbendung. Jokowi’s effect tidak akan berhenti, hanya pada setiap Pemilukada hendak digelar. Efek Jokowi kemungkinan akan mengalir hingga Pemilu 9 April 2014 nanti. Sebagai warning Pemilu 2014

Sepertinya, tidak berlebihan kalau dikatakan PDIP yang akan menangguk keuntungan di balik ketokohan Jokowi. Jokowi yang dikenal sebagai Gubernur  dekat dengan masyarakat, tidak dibuat-dibuat (nonartificial). Tetapi blusukannya selalu mendapat simpati, baik dari publik maupun media. Dikenal sebagai pemimpin  yang pro-rakyat.  Jokowi’s effect akan menjadi warning sekaligus alarm bagi partai politik lainnya di pemilu 2014 nanti. Tengok saja melalui pernyataan terbuka masing-masing elit PD dan PKS, Sutan Batugana dan Hidayat Nurwahid. Seolah-olah ingin mendapuk Jokowi sebagai Capresnya. Walau Jokowi mengatakan tidak pernah mikir untuk jadi Capres. Karena Jokowi masih sibuk ngurusi KJS untuk warganya. Namun dibalik itu semua PDIP jangan berbesar hati dulu. Memang PDIP diprediksi akan memperoleh suara dari massa mengambang nantinya. Karena partai lain seperti Partai Demokrat (PD) dan PKS. Rakyat Indonesia semua sudah tahu, kalau kedua partai yang populer dengan tagline “bersih” itu. Telah menyimpang dari janji dan etika politiknya, selama ini.

Di tengah kondisi Negara ini, dengan masih banyaknya jumlah massa mengambang (floating mass). PDI Perjuangan dapat menjadi penguasa parlemen di Senayan. Jika mampu belajar dari ketokohan Jokowi. Sebagai figur muda yang disukai oleh publik. Tergantung pada sikap dan “tangan besi” Megawati, sebagai ketua umum PDIP. Mau melepaskan jabatan Capres atas namanya. Atau menyerahkan kepada kader mudanya. Bukankah  PDIP masih banyak menyimpan iron stock-nya, yang dapat dijadikan sebagai Capres kredibel. Tentunya, hanya Megawati sendirilah yang tahu jawabannya.***

Penulis adalah Peneliti Republik Institute dan Pengelolah Blog Opinimedia.blogspot.com

Damang Averroes Al-Khawarizmi

Mahasiswa PPs Hukum UMI

You may also like...