Kasak-kusuk Koalisi Partai Politik

Pasca pengumumuan real count hasil Pileg oleh KPU, setidaknya jejak koalisi sejumlah partai politik, semakin mulai terbaca dalam mengusung Capres dan Cawapres mereka. Ini tidak jauh berbeda dengan pandangan para pengamat politik sebelumnya. Memang terdapat tiga poros besar, tapi Golkar kini belum jelas arahnya akan kemana berlabuh. Berharap agar percaya diri mengusung ARB, ternyata di friksi internal mereka juga belum solid. Akhirnya orang nomor satu di Golkar kini bermanuver kemana-mana, bermain zig-zag, namun belum juga berakhir juntrungnya.

Sejalan dengan itu, ada beberapa peristiwa yang juga mulai terbaca akhir-akhir ini, dalam detik-detik menuju pendaftaran Capres dan Cawapres di KPU. Pertama, mengerucutnya sejumlah partai besar seolah-olah hanya dalam dua poros yaitu PDIP yang telah resmi mencapreskan Jokowi, dan Gerindra yang bergerak dua kali lebih cepat telah mendeklarasikan bukan hanya Capres mereka, tapi juga telah bulat menjadikan Hatta Radjasa sebagai pendamping Prabowo Subianto. Ini merupakan pengejawantahan dari beberapa harapan publik yang terdeskripsikan dalam hasil survei, pada kenyataannya memang hanya Jokowi dan Prabowo yang dianggap memiliki elektabilitas tinggi. Jika hendak dibandingkan dengan ARB yang jauh hari juga sudah dideklarasikan sebagai Capres tunggal partai Golkar, angka elektabilitasnya sangat jauh dari dua calon kokoh tersebut.

Sumber Gambar: berita.plasa.msn.com

Sumber Gambar: berita.plasa.msn.com

Kedua, poros tengah yang pernah digaungkan oleh partai-partai Islam, seolah hilang ditelan angin lalu. Kini sejumlah partai-partai Islam, baik yang nyata berideologi Islam maupun berbasis islam sudah berpencar. Ada yang merapat ke poros Jokowi (seperti PKB). Ada pula yang merapat ke poros Prabowo (seperti PPP, PAN). Tinggal PKS yang masih terkesan “malu-malu” belum menentukan pilihan, tapi sinyal untuk merapat ke Gerindra pun kian hari demikian kuat. Ketiga, masih tersimpan tiga partai yang lolos Parliamentray Threshold tetapi masih juga “menjomblo” dan belum menemukan pasangan se-iya se-kata, sehati. Ketiga partai itu adalah Golkar, Demokrat, dan Hanura.

Makna Kasak-kusuk

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (1999) kasak-kusuk didefenisikan sebagai tindakan mempengaruhi orang lain secara sembunyi-sembunyi (tidak terang-terangan), dengan tujuan tertentu, biasanya disampaikan dengan suara berbisik. Defenisi ini tampaknya istimewa dan seolah menjadi sebuah kemewahan “diringkus” oleh para elit dalam menjalin koalisi. Rata-rata diantara mereka selalu menjalin pertemuan, dengan alasan silaturahmi, namun sesungguhnya di dalam ruangan tertutup, mereka pada saling membisik, tawar menawar kepentingan ketika koalisi hendak dijalin. Entah meminta jatah Cawapres, jatah menteri, ataukah jatah-jatah lainnya. Pasti, publik sulit untuk menerka kepentingan pragmatis mereka.

Dan kembali pada istilah “kasak-kusuk” kalau memang ditarik pada pengertian aslinya. Setidaknya terminologi itu memiliki tiga poin penting yang sangat proporsional untuk ditempelkan pada agenda koalisi partai politik. Pertama, mempengaruhi orang lain, jelas pada unsur ini bukan namanya koalisi kalau tidak ada tindakan untuk mempengaruhi, membujuk, merayu, agar mau bersama-sama mendukung pasangan Capres dan Cawapres tertentu. Kedua, dilakukan secara tersembunyi. Media tidak pernah dibiarkan tahu, akan apa yang mereka sedang diperbincangkan di dalam ruangan tertutup, hanya pada bagian-bagian tertentu yang ditampakan di arena publik, tapi substansi kesepakatan mereka mustahil diungkap secara terang-terangan. Ketiga, ada tujuan yang ingin dicapai. Sudah pasti tujuan pertama yang hendak dicapai dengan adanya koalisi agar Capres dan Cawapres yang diajukan oleh sekumpulan partai politik yang sudah berkoalisi, dapat memenuhi angka presidentialy threshold, 25 persen suara nasional. Ini penting, karena merupakan tiket utama dalam bertarung pada 9 Juli nanti.

Kasak-kusuk Koalisi

Setali tiga uang makna kasak kusuk koalisi pada poin ketiga di atas merupakan  esensi sesungguhnya, yang tidak hanya patut dibaca sebagai realisasi untuk mencapai tujuan, agar terpenuhinya syarat pengajuan Capres dan Cawapres saja. Lebih dari itu, mereka membincangkan segala kepentingan-kepentingan pribadinya, kepentingan kelompoknya. Kalaupun selalu dikatakan “hanya kerja-sama”. Atau ini koalisi rakyat, bukan koalisi partai politik.  Mari memaknainya, yang demikian hanyalah “pakem” untuk mengelabui sekaligus meninabobokan kita, dari janji-janji mereka. Bukankah tidak ada makan siang gratis! Bukankah anggota-angota partai politiknya saja kadang mengumbar janji, tapi setelah terpilih, toh mereka pada akhirnya juga “amnesia” atas konstituen yang pernah memilihnya!

Simaklah pula poros tengah yang diinisiasi oleh Amien Rais dengan sebutan poros Indonesia Raya. Ternyata jawaban akhir  dari poros tengah yang membawa bendera Islam itu, gagal di tengah jalan. Bak hilang di telan angin lalu, lucunya kini partai yang pernah didirikan Amien Rais juga berlabuh ke Gerindra, dan mengusung Hatta Radjasa sebagai Cawapres Prabowo. Pertanyaan mengemuka kepada partai reformasi itu, masihkah para elitnya percaya dengan jejak reformasi, dari sebuah luka yang banyak menyemai tetesan darah, namun tak jelas siapa yang bertanggung jawab dibalik semua itu. Lagi-lagi itulah kasak kusuk koalisi, yang ditumbangkan oleh kepentingan sesaat, meraih panggung kekuasaan, sehingga ideologi dan historitas partai dinihilkan.

Saat artikel ini di tulis, belum juga ada jawaban jelas yang saya dapatkan dari layar kaca, media cetak, hingga media online. Partai Golkar, apakah bulat untuk berkoalisi ke PDIP, Gerindra, atau mengusung Capres sendiri dengan memanggil kawan lamanya (Partai  Demokrat/PD)? Agar sedianya PD mengakhiri kegalauan partai beringin itu.

Tingkah laku elit Golkar, kalau selalu dianggap partai cemerlang bermain zig-zag kemana-mana, meliuk ke segala arah, ibarat pohon yang selalu diterpa angin dari segala penjuru. Justru itulah kasak-kusuk yang sengaja dipertontonkan secara telanjang di hadapan publik. Dan boleh jadi nilai tawar partai kuning tersebut akan semakin melemah, tidak hanya nilai tawar untuk dua poros partai pengusung Capres saat ini. Namun bisa jadi Golkar juga akan dilupakan oleh ceruk pemilihnya. Semoga tidak!

 

Damang Averroes Al-Khawarizmi

Mahasiswa PPs Hukum UMI

You may also like...