Kekuatan Pembuktian Keterangan Saksi testimonium de auditu


Bagaimana dengan kekuatan Kesaksian testimonium de auditu ?  malah dalam berbagai literatur (Yahya Harahap, Subekti, Sudikno Mertokusumo dan Wirjono Prodjodikoro) tidak diuraikan bagaimana secara jelasnya kekuatan pembuktian dari pada kesaksian testimonium de auditu.

Penyebabnya adalah  kesaksian testimonium de auditu itu, sudah nyata-nyata tidak diakui sebagai alat bukti. Kesaksian yang berisi keterangan dari orang lain tidak dapat dipakai sebagai alat bukti (Pasal 1 angka 26, Pasal 1 angka 27, Pasal 185 ayat 5 KUHAP). Artinya sudah demikian ketat ketentuan dalam hukum acara pidana menutup kesaksian testimonium de auditu.

Namun, salah satu pendapat dari penulis yang membahas masalah pembuktian yakni Munir Fuady (2006: 146) dalam Teori Pembuktian justru mengemukakan “saksi de auditu dapat dipergunakan sebagai alat bukti. Hal ini sangat bergantung pada kasus perkasus. Apabila ada alasan yang kuat untuk mempercayai kebenaran dari saksi de auditu. Jadi paling tidak keterangan saksi de auditu dapat dipakai sebagai petunjuk.”

Fokus utama dari dipakainya saksi de auditu adalah sejauh mana dapat dipercaya ucapan saksi yang tidak ke pengadilan. Jika menurut hakim yang menyidangkannya ternyata keterangan saksi pihak ketiga tersebut cukup reasonable (beralasan). Keterangan saksi itu dapat diakui sebagai alat bukti tidak langsung, yakni lewat alat bukti petunjuk. Jadi pada dasarnya walaupun kesaksian de auditu (saksi yang mendapat keterangan yang diberitahukan/ diperoleh dari orang lain) dikecualikan dari keterangan saksi, tapi setidaknya dapat menjadi alat bukti petunjuk.

Jikalau demikian berarti kesaksian de auditu yang ditafsirkan sebagai petunjuk, kekuatan pembuktiannya sama dengan yang ditentukan dalam KUHAP yaitu  kekuatan pembuktiannya bebas, tidak terikat. Hakim bebas menilainya untuk menarik kesimpulan perihal kesalahan terdakwa yang didasarkan pada keterangan yang diuraikan oleh saksi de auditu.

Keterangan saksi de auditu juga tetap harus disesuaikan dengan batas minimum pembuktian, artinya keterangan saksi de auditu harus didukung dengan keterangan saksi yang lain, keterangan ahli, surat atau keterangan terdakwa, agar hakim dapat menarik petunjuk untuk memperoleh keyakinan perihal terbukti/ tidaknya terdakwa.

 

 

 

 

 

 

 

Damang, S.H.

Penulis lahir di Sinjai 25 Juli 1986, dengan nama pena Damang Averroes Al-Khawarizmi, Pernah Kuliah Di FH UNHAS (saksi 2004) anak dari seorang Ibu yang single parent, anak ketiga dari empat bersaudara, saat ini pekerjaan kesehariannya hanya menulis, dan mengirim artikel ke beberapa harian Fajar, Tribun Timur (Makassar), dan Gorontalo Post, dan Beberapa Cerpennya juga sering dimuat diharian Lokal, Pernah menjadi Tenaga Pengajar di Unisan Gorontalo, Penulis juga adalah pemilik utama (Co-Ownerr) negarahukum.com. Beberapa Tulisannya juga dapat dijumpai di alamat ini (damang.web.id/, dmgsastra.multiply.com, damang.webs.com). Penulis sering juga Membawa materi seminar di Beberapa Perguruan Tinggi di Makassar

You may also like...

Loading Facebook Comments ...

1 Response

  1. aco says:

    Kanda..sy pernah baca klo Petunjuk hanya diperoleh dari :
    -       Keterangan saksi
    -       Surat
    -       Keterangan terdakwa
    -       Keterangan ahli
    -       Petunjuk bukan alat bukti yang berdiri sendiri.
    Nah…klo testimonium de auditu di gunakan sebagai alat bukti Τidak langsung dalam hal ini sebagai petunjuk…maka dia masuk dalam kategori yg mana dari kelima yg tercantum di atas…mohon petunjuk’y kanda…thanks ..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>