KITA, Abraham Samad dan Lawan Korupsi

Segerombolan anak muda berkumpul di salah satu cagar budaya kota Makassar. Sembari menatap langit sambil berbisik dalam hati “semoga tidak hujanki kasian”. Yah mereka adalah panitia festival anti korupsi MARS Sulsel. Sementara mengecek perlengkapan untuk menyambut para pengunjung.

Pasca kisruh antara KPK dan Polri, berujung pada kriminalisasi sejumlah pimpinan dan pegawai lembaga antirasuah. Aksi save KPK tolak kriminalisasi menggaung diseantero tanah air. Tak terkecuali Makassar, yang sudah lama dikenal sebagai sentral bergerak mahasiswa di Indonesia.

Hanya saja aksi-aksi turun ke jalan tak se-massif demo tolak kenaikan Bahan Bakar Minyak (BBM). Kenaikan, seribu sampai dua ribu dianggap lebih menyengsarakan rakyat. Padahal kalau kita memahami dampak dari laku korupsi. Justru daya rusaknya lebih luar biasa. Kenapa BBM naik, pelayanan kesehatan mahal, infrastruktur jalan berlobang, itu karena ulah para perampok uang rakyat. Lalu kenapa mahasiswa masih merayap? Ataukah mereka belum memahami apa itu korupsi.

Berawal dari realitas tersebut. Penulis bersama teman-teman koalisi Masyarakat Anti Korupsi Sulsel berinisiatif melakukan aksi ciamik, lebih menarik nan mampu menyentuh masyarakat luas. Terlontarlah pernyataan dari seorang sahabat “kenapa tidak kita melakukan festival”. Karena seni mampu menyentuh seluruh lapisan masyarakat. Orang mana di dunia ini yang tidak menyukai musik.

Bergerak Bersama

Seiring perjalan kepanitian, satu persatu bantuan masyarakat berdatangan. Entah dapat informasi dari mana, mereka mengambil peran masing-masing guna mengsukseskan acara ini. Ada yang tanggung air gelas, nasi bungkus, menyumbangkan spanduk-baliho. Lukisan pesan-pesan anti korupsi juga terpampang indah hasil coretan seniman-seniman muda rumah kasumba. Pengisi acara pun demikian, baik Robi Navicula dan Simponi menyodorkan diri mengambil baik dalam kampanye anti korupsi ini.

Soliditas tergambarkan demi kesuksesan acara. Sukarelawan berdatangan bauh- membauh. Semangat gotong royong terlihat jelas. Peran serta masyarakat dalam pemberantasan korupsi sebagaimana yang diamanahkan dalam UU Nomor 31 Tahun 1999 terwujud. Penegak hukum tidak boleh berjalan sendiri. Turun tangan dalam pencegahan korupsi sudah menjadi keniscayaan, bila kita melihat rakyat Indonesia sejahtera.

Lalu kenapa masih berfikir panjang? Bukankah musuh kita sudah jelas. Koruptor is palukka, malahan mereka lebih hina dari pencuri ayam atau sandal. Tetapi kenapa masih ada saja yang membelah mereka. Berlindung dibalik anasir-anasir hak asasi manusia. Sehingga harus diperlakukan sama dengan pelaku kejahatan biasa.

Sumber Gambar: kompas.com

Sumber Gambar: kompas.com

Sarat Makna

Kondisi keberpihakan penguasa dan dampak laku korupsi tergambar jelas dalam bait-bait puisi Abraham Samad. “korupsi menjadi sebab aktivis 1998 bergerak, rapatkan barisan, ketika  lembaran batu beradu dengan peluru, gas air mata mengalirkan air mata, tetapi apa yang kini terjadi? Marilah kita bangkit untuk memerdekakan rakyat yang tertindas!”.

Penggalan bait puisi di atas tentu sangat sarat makna. Pertama, beliau menarik kita untuk merenungi perjuangan para aktivis reformasi. Bagaimana mereka berjuang tanpa pamrih. Tak takut meski harus diberondong peluru. Mereka ada yang mati demi sebuah perjuangan untuk rakyat. Coba kita bandingkan dengan kondisi aktivis pasca reformasi. Banyak yang berselingkuh dengan penguasa. Mengatasnamakan kepentingan rakyat, ironisnya mendukung perampok uang rakyat.

Kedua, aktivis 1998 bergerak bersama-sama menumbangkan oligarki penguasa yang korup. Kejahatan luar biasa yang masih bersifat sentralistik kala itu. Sekarang korupsi bukan lagi sentralistik tetapi telah bermetamorfosis menjadi desentralisasi korupsi. Raja-raja kecil di daerah banyak tersandung kasus korupsi. Penyakit bandit yang sudah sampai ke pelosok-pelosok desa. Lalu kenapa kita tidak bersatu padu nan lebih massif mendorong pemberantasan korupsi di segala lini. Ketiga, karena koruptor telah menyengsarakan rakyat. Seyogianya kita semua bangkit melawannya. Indonesia sudah sampai pada titik darurat korupsi. Jangan sampai gulung tikar VOC pada masa penjajahan terjadi pada negeri tercinta.

Pesan yang berusahan disampaikan Abraham Samad sejalakan dengan tema festival anti korupsi MARS Sulsel yakni karena kita korban korupsi. Kegiatan yang bertujuan menyadarkan masyarakat luas bahwa kondisi bangsa yang rakyatnya semakin jauh dari kesejahteraan adalah ulah para koruptor. Penjahat bangsa yang harus bertanggungjawab atas ketertindasan rakyat.

Isu pemberantasan korupsi harus dibumikan sampai masyarakat lapisan paling bawah. Jadi, anggapan bahwa pemberantasan korupsi dominasi kaum-kaum elit atau aktivis-aktivis anti korupsi harus dibuang sejauh mungkin. Masyarakat luas harus mengambil sikap, nan bagian dalam segala upaya-upaya pemberantasan korupsi. Minimal harapan kami, bagi yang datang menghadiri kegiatan festival anti korupsi. Jikalau menjalankan program-program komunitasnya selalu memasukkan pesan-pesan anti korupsi saat bersentuhan dengan masyarat.

Kita harus menciptakan gelombang laut anti korupsi di tengah-tengah masyarakat. Gelombang yang tiada henti saling kejar-mengejar. Menghempas batu karang ibarat dia adalah koruptor. Lambat laung namun pasti batu karang tersebut akan hancur berkeping-keping. Akibat terjangan maha dahsyat dari masyarakat sadar bahaya korupsi.

Jupri, S.H

Lahir di Jeneponto (Sulsel) dari keluarga sederhana. sementara aktif mengajar di Fakultas Hukum Universitas Ichsan Gorontalo. selain memberi kuliah untuk mahasiswa fakultas hukum juga aktif menulis di www.negarahukum.com dan koran lokal seperti Fajar Pos (Makassar, Sulsel), Gorontalo Post dan Manado Post..Motto Manusia bisa mati, tetapi pemikiran akan selalu hidup..

You may also like...

[user_ip]