Kuizinkan Engkau Menikah

Rasanya air mata kami ingin bercucuran. Meleleh. Menetes  membasahi perpisahan pada Sekolah Menengah yang telah mendewasakan kami. Aku dan Hamida memandang jauh pada tanah lapang luas, sawah yang terhampar luas. Pemukiman rumah panggung diantara selah sekolah kami yang  berjejeran, angin menyibakkan salam kenangan dan perpisahan.

“Kak Iwan, setelah ini, kita tidak akan bersama dan saling membantu lagi. jika aku menemui kesulitan kelak dalam mata pelajaranku”

“Mida… saya kira semua ada jalannya, tinggal menunggu waktu saja”

Setelah pengumuman kelulusan itu. Di SMA Bikeru. Aku dinyatakan lulus program tes PMJK di fakultas Hukum, maka aku tak perlu repot seperti teman-temanku untuk mendaftar SMPTN. Tinggal mendaftar ulang saja. Dan menunggu hari ospek.

Aku sudah bersumpah demi Tuhan, demi Ibu dan calon Mertuaku (Ayah dan Ibu Hamida) aku akan menikahi anaknya kelak, anaknya yang bernama Hamida. Perempuan yang pertama memperkanalkan diriku betapa berartinya masa depan-ku kuraih, agar aku dipandang kelak sebagai orang tua yang  cerdas oleh anak-anak kami. Maka tak mungkin aku berbagi kasih sayang dengan wanita yang kelak akan menggodaku, aku sudah kuatkan tekadku, bahwa hanya Hamida cinta pertamaku dan dialah yang akan menjadi Ibu dari anak-anakku suatu waktu.

*****

Bagai tanaman yang tak pernah disirami air hujan. Setelah waktu demikian berlalu, teramat cepat. Bayang-bayang dan ilusi paras wajah Mida tak lagi menggangguku, sebagai lelaki yang hidup jauh terpisah darinya. Hidup sendirian di pondok Indah, bergerumul dengan buku-buku pelajaran. Berkenalan dengan tokoh filsafat muslim seperti Ibnu Rusyd (averoes), Ibnu Sina (Avicena), Sayyid Husain Nasser sampai Sir Muhammad Iqbal. Semua rutinitas itu, kuyakin akan menyita sebagian kesibukanku, untuk melanggengkan kesetiaan yang telah kami ikat dalam nota sekeluraga bahwa aku akan menikah dengan Hamida. Aku pikir dengan kesibukan pada mata kuliah ditambah dengan pengetahuan religius, aku tidak akan memikirkan wanita cantik yang kutemui disetiap lorong, di setiap lintasan area kampus Unhas.

Kemudian, aku bergabung dengan Himpunan Mahasiswa Islam, MPO. Awalnya saya tidak tahu dengan HMI MPO, tetapi teman-teman senior selalu beranggapan bahwa hanya MPO yang betul-betul murni Islam yang tak pernah murtad, atau keluar dari ideologi Islam. Tetapi bagiku, itu hanya persoalan perdebatan yang tak ada selesainya. Debatable. Yang penting aku dapat sukses di kampus, juga sukses di organisasi.

Lamat-lamat, akhirnya kemampuan beretorikaku semakin berseni, bayangkan saja, ditambah dengan referensi/ buku seperti Hasan Abu Ammar, Imam Khomeni, Hasan Hanafi, Rumi, Saddia, Rusdie, dan Ali Syariati. Aku banyak belajar dari teman-teman senior, kuadapati sedikit demi sedikti terik mereka mengeluarkan pernyataan, bagaimana bermain pada intonasi pembicaraan ?  Akhirnya kebiasaan itu membentuk oase tutur bicaraku sampai di ruang kuliah.

Tapi jelas, aku tiak akan membawa para pemikir muslim itu di Fakultas Hukum. Aku punya nama dan senjata pamungkas Kelsen, Fiedman, Brownli, Olivecrona, Holmes, Savigni,  Pompe, Bartol, Vanvolen Hoven, dan Ter-Harr. Mereka itulah yang selalu menjadi rujukanku, setiap kali aku mendebat para dosen dan teman-teman kampus. Dunia kampus bukan mencari dan berburu nilai, tetapi adalah dunia kontradiksi, dunia yang mempertengkarkan tesis, dan sintesis seperti yang diuraikan oleh Marxian.

kampus tak begitu menarik, jika dibandingkan dengan kegiatan organisasi, tidak ada ruang kebebasan yang diberikan oleh Dosen, kembali dipaksa kita mencatat materi kuliah. Pantas saja banyak orang yang terbiasa bolong dan absen kuliah, gara-gara organisasi. Namun bagiku tergantung saja bagaimana memaneje waktu. Aku sering membawakan materi di  team kaderisasi HMI MPO, namun waktu kuliah juga tak pernah kutinggalkan. Tergantung saja kita menggunakan waktu se-proporsional mungkin.

****

Semester dua di Fakultas Hukum, masih progran paket mata kuliahnya, lumayan aku berhasil sebagai maba aktif di organisasi, juga nilaiku, walaupun bukan IPK 4, 00. dengan IPK  3, 02, sebagai pemula tidak apa-apa.

Waktu liburan panjang akhir semester tidak kugunakan pulang kampung, berlibur. Orang tuaku pasti sudah tahu bahwa Hamida mau melanjutkan kuliahnya, juga Di Unhas, karena kemarin dia sendiri yang mengontak Hp-ku, untuk menjemput Hamidah di terminal Mallengkeri.

Ini adalah hambatan dan tantangan berat sebagai kaderisasi, ada perjanjian yang telah kami akui, bahwa anggota kader tidak boleh berjalan dengan kaum perempuan atau berpacaran. Maka aku mencoba menjaga jarak dengan Hamida, apalagi dia sekarang sudah menggunakan mukena, dibandingkan dengan dulunya, rambutnya selalu dilerai oleh jari-jemarinya, aku dipancing menatap gemulai ruas dan lengkungan wajahnya. Kali ini tidak lagi demikian,  ada konsensus yang kami harus patuhi.

Justru aku menemani hamida, mendaftar SMPTN. Setiap kucuri waktu untuk menatapnya, malah lebih menggemaskan dibanding dulunya, jika ditatap lama-lama. Ah……damai sekali perasaan ini…..oh, sayangku. Andai teman dan ketua kader mengetahui hal ini, aku pasti sudah dibuatkan SK, pemecatan dari anggota HMI MPO.

“Sampai di sini saja Mida, jangan aku ditemui dan jangan kau memberi kabar lagi setelah engkau kelak lulus di Universitas Ini. Ada komitmen yang kami telah buat. Aku pikir memang inilah ukuran kebaikan yang telah digariskan oleh tangan Tuhan, anggaplah sekarang aku bukan dulu yang dapat membelaimu dengan tangan jahilku, atas harapanmu”

“Ia kak….tahukah.. kita kak, setelah engkau lulus tahun lulu, aku telah aktif dan lebih giat mengikuti Pesantren Darul Istiqama Maccope, dan apa yang diinginkan oleh kakak, aku sudah tahu, kita tidak perlu ungkapkan, walau aku sulit melupakan gores tangan kakak yang telah mencibir bibirku, itu hanya kenangan yang akan diabadikan oleh waktu”

Setelah itu, hanya aku bisa berdoa semoga kelak ia lulus. Mobil panther kemudian menderu pergi ditelan oleh, debu panas jalanan dan keramaian lalu lalang kendaraan.

******

Memenuhi undangan seminar.  25 juli 2006.

Aku diplot sebagai pemateri membongkar ideologi Khilafa dalam tema “Pantaskah Indonesia Dikatakan Negara Berkhilafah.” Entah siapa kelak pembanding dari Hizbut Tahrir ?

Ketika waktu seminar itu  tiba. Di luar Baruga aku ketemu dengan Hamida. Nyatanya, dia adalah pembandingku nanti di acara seminar itu. Ini sudah lampu kuning, semua teori yang kusiapkan pasti akan kulupakan kelak, seandainya aku tahu saja kalau Hamida yang menjadi pembanding, jauh sudah  aku akan mengundurkan diri. Nasi sudah menjadi bubur. Ditelan tak mengapa. Harus diterima.

Moderator membuka kesempatan pertama kali, buat Hamida mewakili Hizbut Tahrir,  memaparkan konsep pro khilafa.

Dengan salam pembuka, ia menoleh dan melempar senyum kepadaku sejenak.

“ass…Sdr/sdri sekalian. Hanya orang yang mau berdosa,  betah dalam ideoolgi kafir, yang tidak mau menerima ideologi khilafah, tidakkah denga khilafah kita sadar bahwa menjalankan teladan Rasululllah, maka Islam ini akan jaya menjadi agama pelengkap zaman. Agama yang dijamin oleh Allah. Makanya negara kita tidak perlu mengadakan pemilu, yang penting langsung dengan penunjukan……….”

Setelah giliran Hamida,  saya kemudian dipersilahkan oleh moderator

“ass…saya tidak perlu terlalu panjang……sdr/sdri sekalian,… seorang, kelompok ataukah itu sebuah organisasi yang ingin mengganti ideologi sebuah negara itu, dinamakan makar,  permasalah yang kedua kalau kita ingin kembali ke zaman Khilafa berarti kita ingin melangkah mundur pada masa kelam. Coba bayangkan,  Khilafa yang dibawah dalam Dinasti Abasiyah dan Umayyah, adalah masa ketika pembunuhan dihalalkan, pelacuran dihalalkan, khamar dihalalkan, bahkan homosex,,, pertanyaannya maukah kita kembali dizaman sekolot itu……… ‘

Para peserta mengakhiri dengan tepuk tangan riuh. Tidak ada waktu dan sesi debat, tanya jawab. Moderator menutupnya dengan cepat amat, dikhawatirkan nuansa forum saling bertikai argumen, nantinya.

Di forum aku berbicara sejenak dengannya. Kutatap kelopak mata dan mukanya, kulihat  ia menundukkan kepala, tidak mau membalas tatapanku, pura-pura meremas kain mukenanya. ia mala tersipu malu. Aku meminta nomor Handphone-nya.

“Oh…lupa aku memang ingin mengambil juga nomor hp-ta kak….”

“Tumben saya kira kau sekarang sudah protektif banget”

“Tidak ji….kak”

********

Panas matahari yang menderu-deru pori tubuhku, tadi siang kini sedikit demi sedikit terasa disubtitusi oleh pekat dingin malam. Tadi siang, aku telah menguras tenaga, mengendarai motor. Sendirian, tanpa teman mengantar undangan ujian akhir skripsiku, karena besok aku akan ujian akhir.

Di pondok Indah Manuruki,  kucek semua bagian-bagian yang penting untuk kujelaskan sebagai poin yang akan kuuraikan besok, kuberharap dapat mempertahankannnya di depan para pembimbing dan penguji.  Jam 10 malam aku cepat bergegas tidur, agar aku tetap dapat shalat Tahajjud, sebentar malam.

Aku meminta petunjuk kepadanya dalam dekap doanya. Angin malam  menebar kedinginan, menyentil dari cela-cela kaca jendela kamarku. Kemudian aku teringat dengan Hamida.

Sayang ,,,,aku sudah hampir sarjana. Apakah aku masih bisa melamarmu suatu waktu….?

Kemudian Hpku seolah berbicara, menjawab tanya isi hatiku. Dan kuterima telephone dari Hamida malam itu:

“Kak Iwan, sebenarnya untuk saat ini, ada lelaki yang melamarku, namun aku tahu kita adalah orang yang masih kuhargai, berat kulupakan, walaupun kita beda ideologi, mungkin, hanya kitalah lelaki yang selalu menjadi pengisi bunga-bunga tidurku, pengisi kesepian malamku, bahkan hanya engkau yang kelak kuizinkan meraba kesunyianku”

“Kenapa kita tidak menikah saja, aku belum siap sayang, maafkan diriku ini, mungkin itulah jodoh yag ditakdirkan untuk kita, bahkan laki-laki itu akan lebih baik dari pada saya, bukankah pernikahan adalah sebuah sunnatulllah yang tidak bisa dinalar, jadi aku izinkan kita menikah say…..hamida, dan banyaklah berdoa kepada yang maha kuasa, s’moga diberi jalan keluarnya”

Sesaat, sedetik, kemudian hanya kudengar suara ingusan dari Hamida berucap sedih, bercampur haru.

“Baiklah kalau itu yang kita inginkan kak….aku akan menikahinya, demi kita nah……”

(Bersambung).

 

Manuruki,  12 Agustus 2009

Penulis adalah peneliti psyco-legal (FH- unhas)

 dan penggiat forum lingkar sastra unhas

Damang S.H., M.H.

Owner negarahukum.com dan Penulis Buku "Carut Marut Pilkada Serentak 2015"

You may also like...