Kumpulan Asas-asas Hukum Karya Amir Ilyas dan M. Nursal

Harga: Rp. 35.000, (belum terhitung ongkir); pemesanan silahkan melalui Nurdiansah (Nomor HP: 085299132975)

Harga: Rp. 35.000, (belum terhitung ongkir); pemesanan silahkan melalui Nurdiansah (Nomor HP: 085299132975)

 

Ketika saya disodorkan naskah buku ini, saya tidak tahu harus menuliskan bagaimana pengantar yang tepat agar bisa menguraikan keseluruhan isinya. Sebab  menjelaskan asas-asas hukum, ibarat kita harus menjadi dokter ahli bedah dan dokter ahli kejiwaan (psikiater).

Akan tetapi, dengan lagi-lagi menjadi dokter ahli bedah, tetap menjadi mustahil untuk mengidentifikasi cantolan norma kebaikan dalam otak/pikiran manusia itu. Demikian halnya dengan ahli kejiwaan tidak akan sampai pada penjelasan yang memuaskan, adanya moral kebaikan yang dikandung oleh jiwa tersebut, sebagaimana dalam esensinya; pasti mencandra pada segala nilai-nilai yang bernama; “kebaikan.”

Maka dari itu, sebelum membuka kata pengantar untuk buku ini, terlebih dahulu menyingkirkan buku-buku yang ada di dekat meja belajar saya. Tujuannya apa? Saya tidak mau lagi mengutip pengertian asas-asas hukum dan jenis-jenisnya dengan harus berpatokan pada pendapat para ahli hukum yang namanya sudah mendunia dan mewarnai hampir sejagad literatur ilmu hukum, hingga dewasa ini.

Diantara nama-nama pendekar hukum yang seringkali dijadikan sandaran dalam mendeskripsikan asas hukum, seperti: Paton, Scholten, Bellefroid, dan Satjipto Rahardjo. Saya menilai cara mereka menjelaskan asas-asas hukum masih sulit dimengerti; apa sih itu yang dimaksud asas-asas hukum? Apa tujuannya? Dan apa jenis-jenisnya?

Paling tidak untuk memahami “esensi” dari asas-asas hukum yang pada sesungguhnya juga sudah membincangkan “hakikat” kedirian ilmu hukum, dapat dimaknai bahwa asas hukum adalah serangkaian kalimat, perkataan yang telah diturunkan dari nilai-nilai kebaikan, yang tiada lain bersumber dari kekuatan moral insani (human being).

Perlu penciptaan kesepahaman (verstehen) yang tidak mungkin lagi “ditolak” oleh nalar dan “semburan” moral setiap orang. Itulah yang dinamakan asas hukum yang diupayakan, agar bisa terterima secara universal.

Dan pada awalnya sebuah konkretisasi nilai-nilai kebaikan yang sumbernya dari “moral” tadi. Ia tidak dengan serta merta langsung bisa menjadi ketentuan yang mengikat, mengatur, dan/atau memaksa. Tetapi asas-asas hukumlah yang menjadi jembatannya, kendati hanya dalam bentuk perkataan. Kata-kata itu sesungguhnya sudah terkandung ketegasan; “inilah kebaikan, kebenaran yang harus engkau ikuti.”

Berkali-kali saya merenungi sebuah pertanyaan: Apakah perbandingan “hukum Archimedes, hukum kekekalan zat,” dengan hukum yang kita tahunya hanya dalam kumpulan Undang-Undang saja? Jawabannya, bahwa kesamaan dari kedua “hukum” tersebut yakni sama-sama membincangkan kepastian.  Kepastian bahwa air sudah ketentuannya akan mengalir ke tempat yang lebih rendah, kepastian kalau suatu zat tidak diciptakan melainkan hanya dapat diubah dari satu bentuk ke bentuk yang lainnya. Demikian juga hukum yang kita mengerti sebagai orang yang menekuni bidang tersebut di Fakultas Hukum, ada kepastian yang namanya kebaikan, kebenaran, keburukan/kejahatan, dan kesalahan. Sedangkan perbedaannya, hukum yang dikenal sebagai lapangan ilmu eksacta, itu merupakan hasil penyelidikan di luar kedirian manusia. Dia akan melakukan pengamatan terhadap apa yang dilihatnya, kemudian menjelaskan kepastiannya.

Bedanya dengan hukum (saya tegaskan lagi, ini adalah “hukum” yang dipelajari di Fakultas Hukum) pengamatan tidak bisa dilakukan di luar diri kita, tetapi harus kembali dalam diri kita untuk memberi jawaban: “inilah kebaikan yang telah saya usahakan dalam bentuk perkataan”. Di sini telah terjadi peristiwa perumusan kebaikan/moral hanya dalam bentuk kata-kata. Ingat! Kebaikan itu adalah sesuatu yang pasti adanya meskipun anda tidak bisa melihatnya, laksana melihat air yang mengalir ke tempat yang lebih rendah. Oleh karena itu, agar “kebaikan” tersebut bisa dilihat secara konkret, maka “asas-asas hukum” selanjutnya “diturunkan” ke dalam sebuah teks pasal-pasal.

Begini contoh sederhanya; bahwa yang namanya moral, nilai-nilai kebaikan sudah pasti mengakui hak kepemilikan setiap orang. Kepemilikan adalah asas hukum, sehingga normanya “barang siapa merampas hak milik (barang) orang lain yang bukan haknya, diancam hukuman penjara atau denda” (Vide: Pasal 362 KUHP). Contoh lain: “asas legalitas” yang biasa diartikan tidak ada hukum tanpa Undang-Undang yang mengatur lebih dahulu. Asas ini bisa disederhanakan dengan kalimat: “tidak ada hukum kalau nilai-nilai moral kita tidak memberinya tempat sebagai nilai-nilai yang harus diikuti.” Dan lagi-lagi asas ini berbicara dalam wilayah “kepastian” haruslah diturunkan dalam bentuk perbuatan yang dilarang/dibolehkan/diperintahkan pada sebuah ketentuan, lalu bisa dinyatakan hukum tersebut mengikat, mengatur, dan/atau memaksa.

Di hadapan Mahasiswa, ketika saya masih berprofesi sebagai Dosen, saya juga pernah menyederhanakan makna “asas-asas hukum” itu ibarat “jantung pisang”.  Bahwa saudara bisa mengamati pisang yang sedang berbuah, sebelum jadi “buah pisang” maka yang kelihatan seluruhnya hanyalah “jantungnya”. Dan setelah itu berhari-hari saudara mengamatinya, maka jantung pisang itu jadilah ia “buah pisang”. Artinya apa? Jantung pisang ibarat “asas-asas hukum,” sementara buah pisangnya, itulah “aturannya.” Jadi, anda melihat buah pisang jangan pernah melupakan jantung pisangnya. Kira-kira begitulah falsafahnya dalam memahami asas-asas hukum.

Tuhan menyampaikan risalahnya secara estetic dan esoteric, Filsuf menyampaikan petuah-petuahnya dengan bahasa kebajikan. Seorang yuris sudah pasti akan menggali nilai-nilai kebaikan agar ternyatakan dalam satu, dua, tiga, kalimat imperatif. Maka dengan buku ini, buku yang ditulis oleh dua guru saya (Dr. Amir Ilyas, S.H., M.H. dan Muhammad Nursal, S.H.), semoga bisa mengantarkan anda mempelajari ilmu hukum yang mengasyikan juga membahagiakan.*

Oleh:

Damang  Averroes Al-Khawarizmi

Owner negarahukum.com

Makassar, 24 Maret 2016

You may also like...

[user_ip]