Lady Gaga dan Isu Demoralitas Bangsa

 Don’t hide yourself in regret,

Just love yourself and you’re set

I’m on the right track,

Baby I was born this way, yeah…

sebagian besar orang, apalagi jika dia adalah seorang Little Monster, pasti tidak asing dengan lirik lagu tersebut. lagu berjudul Born this way itu kini tengah berada di puncak tangga lagu-lagu terpopuler di dunia. Apa hanya itu? Tidak, kepopuleran lagu tentu tidak lepas dari si empunya. Dialah Stefani Joanne Angelina Germanotta atau lebih populer dengan nama Lady Gaga. Sang Mother monster.

Perempuan kelahiran 28 Maret 1986 itu tidak hanya mampu melambungkan namanya melalui karya seni. Tetapi juga melahirkan aneka kontroversi yang kompleks nan njelimet akibat dari gaya eksentrik yang ‘keluar jalur’. Penolakan ataupun pencekalan adalah hal biasa baginya. Hebatnya, sang Mother tidak gentar apalagi mengurangi selera eksentriknya. Baik untuk musik, lirik yang dianggap memuja setan, fashion yang nyeleneh, maupun penggunaan aneka simbol illuminati.

Menyusul pencekalan di beberapa negara. Indonesiapun kini tengah demam menghujat sang Mother. Aneka bentuk demonstrasi hingga ancaman huru-hara dilakukan untuk mencegah Gaga masuk ke Indonesia. Alhasil, konser yang sedianya dilaksanakan pada tanggal 3 juni mendatang,  terancam batal. Padahal 50.000 tiket telah ludes terjual. Begitu kontroversinya pelantun ‘poker face’ itu, hingga hampir seantero negeri ini dibuat sibuk. Tidak hanya ormas-ormas ekstrim yang memang doyan cekal mencekal. Namun juga KPAI dan bahkan MUI ikut mencekal.

Di lain pihak.  Tidak hanya para Little Monster yang gelisah dengan pro dan kontra terkait ‘Mother Monster’nya. Tetapi juga Para pejabat di senayan. Bahkan mereka rela ber-musyawarah untuk mufakat dan koar-koar dengan opini masing-masing. Beberapa diantaranya menjadi bintang tamu talkshow terkait Gaga. Seolah berita Gaga adalah pengalih fokus atas kasus-kasus kenegaraan yang tidak pernah tuntas. Sementara dari pihak promotor, Big Daddy, masih optimis menunggu izin konser dari Mabes Polri. Pihaknya mengaku akan terus mengupayakan berbagai cara agar penyanyi eksentrik itu tetap bisa konser di Indonesia. Semua sibuk. Seolah-olah Indonesia sudah kekurangan urusan sehingga perlu mem-blow up kontroversi terkait kedatangan Gaga.

Tidak sekedar mengusung tema keyakinan (baca:agama) untuk menolak si Mother. Isu demoralitas bangsapun jadi alasan utama. Tak tanggung-tanggung, bahkan ada pihak yang menyatakan Gaga akan melantik pemuja setan di Indonesia. Dan memberikan pengaruh iblis melalui lirik lagunya. Selain itu, FPI menganggap, syair lagu dan penampilan Gaga terlalu seronok. Mereka yang kontroversi menganggap, kedatangan Gaga hanya akan merusak moral bangsa. dan memberi pengaruh buruk bagi generasi muda.

Tapi apa benar Gaga bisa menjadi virus bagi moral generasi muda?. Apakah demoralitas yang saat ini melanda generasi muda Indonesia bisa serta merta dilimpahkan kepada Lady Gaga? Tentu saja tidak. Moralitas adalah kajian yang kompleks. Bukan sekedar mendengar lagu Gaga lalu moral seseorang lantas menjadi rusak. Atau melihat Gaga mengenakan pakaian seksi maka moral bangsa jadi teracuni. Karena toh, tidak hanya Gaga yang mengumbar keseksiannya. Di Indonesiapun tidak sedikit artis yang hanya sekedar jual keseksian. Bahkan jika di bandingkan orkestra antar kampung, Gaga masih kalah berani.

Sebenarnya tidak masalah jika ada yang kontra terhadap sesuatu. Itu adalah salah satu wujud dari demokrasi. Namun, sebagai bangsa yang beradab. Harusnya  mereka juga mampu menghargai keyakinan dan karya orang lain. Bukankah kebebasan berpendapat juga dilegalkan?. Lalu mengapa, justru demokrasi harus diwujudkan dengan ancaman dan kekerasan..

Demoralisasi, seyogianya menjadi tanggungjawab bersama bangsa Indonesia. Tidak perlu kasak-kusuk saling menyalahkan. Apalagi menyalahkan Lady Gaga selaku pihak luar. Kalaupun ada yang patut disalahkan terkait isu demoralisasi anak bangsa, tentu bangsa itu sendiri. Faktorn extern baik itu westernisasi, dehumanisasi, bahkan Gaga dengan atribut kontroversialnya hanyalah sekedar tren. Kesemuanya adalah bagian dari arus besar kebudayaan yang mengalir tanpa batas. Jika ada dampak negatif dari kehadiran salah satu dari hal itu, tentu adalah salah bangsa ini yang tidak mawas diri. Mengapa tidak lebih dini menyiapkan generasi bermental baja yang paham tentang moral dan etika. sehingga ketika rongrongan pihak luar datang, generasi muda telah siap dengan tameng masing-masing.

ketika semua sudah memahami bahwa era keterbukaan informasi bisa dengan mudah menggerus keyakinan seseorang, mengapa tidak kita gembleng generasi muda dengan aneka wejangan yang bersumber dari kearifan lokal. Kita malah bangga tatkala ada anak bangsa yang meng-inggris-kan bahasa Indonesia. Sebagian dari bangsa ini juga bangga memakai produk luar negeri. Bukankah sumber kerusakan dan kebobrokan adalah diri sendiri. Lalu mengapa harus menyalahkan pihak luar atas demoralisasi?. Bukankah sebaiknya bangsa ini segera memperbaiki diri. Segera memahami bahwa perbaikan moral adalah kebutuhan primer. Menyadari setiap problem moral dan segera mencari solusi terbaik untuk menanganinya. Jika tidak mungkin saja di masa depan Indonesia akan menjadi negara dengan tingkat demoralitas tertinggi di dunia.

Inilah yang seharusnya menjadi fokus perhatian bangsa Indonesia. Perbaikan moral tidak akan pernah berhasil hanya dengan mencekal konser Lady Gaga.  Yang terjadi malah sebaliknya. Akan timbul antipati dari para Little monster karena merasa termarjinalkan. Bukankah akan lebih riskan jika 50.000 penggemar gaga tersebut melakukan tindakan anarkisme karena telah dilanggar haknya. Belum lagi citra buruk yang terbentuk. Baik kepada polisi sebagai instansi yang mencla-mencle, dan mendukung pihak tertentu. maupun kepada pemerintah yang kurang kerjaan mengurusi Gaga. Sedang banyak kasus kenegaraan lain yang tidak mampu diselesaikan. Di belahan dunia lain, boleh jadi Gaga tengah  bersantai. Mungkin sambil menonton Televisi dan tertawa puas karena berhasil menyibukkan bangsa ini.

Seyogianya, isu demoralisasi bukanlah hal baru di Indonesia. Bahkan sudah ada Jauh sebelum Gaga berencana menggelar konser. Puluhan bahkan ribuan artikel terkait tentang isu demoralisasi ditulis oleh orang dengan latar belakang berbeda. Entah itu tawuran antar pelajar, pesta narkoba, seks bebas, bahkan yang terkait kriminalitas. Hampir semua sepakat, Indonesia memang tengah mengalami demoralisasi stadium akhir.

Tengoklah betapa demoralisasi telah menjadi masalah pelik di negeri ini. Bahkan meski tanpa kedatangan Mother Monsterpun. Bangsa ini telah terjungkal dalam lembah kebobrokan moral. Demoralisasi tidak hanya milik generasi muda yang hobi tawuran, seks bebas, dan aneka simbol kerusakan lainnya. Namun juga telah menggerogoti hampir semua lini. Tak terkecuali birokrasi pemrintah. Siapa yang bisa menolak kenyataan bahwa Indonesia termasuk dalam jajaran pemerintah terkorup di dunia?. Penolakan Gaga dengan isu demoralitas tentu menjadi tidak populer ketika disandingkan dengan realitas kerusakan moral yang terjadi. Karena nyatanya, demoralitas sudah menjadi jamuan lazim setiap harinya.  Isu agama juga tidak seharusnya menjadi alasan. Bukankah kebebasan beragama dijamin dengan undang-undang di negeri ini?. Lalu dimana letak toleransi yang selama ini dibangga-banggakan?. Atau jangan-jangan Indonesia juga tengah terjangkit penyakit Intoleransi disamping demoralisasi?.

Apakah tidak sebaiknya, negeri ini atau mereka yang menolak Gaga melihat sisi positif dari kedatangan si Mother. Setidaknya, selain menularkan aura kreativitas tingkat tinggi. Konser itu bisa menjadi promosi bagi Indonesia. Konser Gaga yang selalu spektakuler tentu menjadi lahan berita bagi banyak media. Sehingga, sangat mungkin kedatangan Gaga juga akan diikuti oleh kedatangan media massa internasional. Kalau saja Indonesia bisa menyajikan konser yang aman, tertib, dan menarik. Tentu akan menjadi nilai plus yang menjadi pertimbangan bagi wisatawan asing masuk ke Indonesia.

Terakhir, sebagai salah satu bagian dari arus besar kebudayaan. Sudah menjadi kewajiban bangsa ini untuk menghargai budaya orang lain. tidak ada alasan bagi mabes polri untuk ikut-ikutan mencekal lady gaga. Asal, tentu saja, lady Gaga juga harus menghargai budaya yang ada di Indonesia. Selama si Mother Monster mau berkompromi dengan tampilan yang lebih sopan, tentu menjadi tidak fair ketika bangsa ini tetap bersikukuh mencekalnya dengan alasan-alasan diatas. Dan lagi, Lady Gaga sudaha terlalu jauh memprovokasi negeri ini. Indonesia secara keseluruhan harus mampu memilih dan memilah, mana hal atau isu yang patut dijadikan tranding topic. Dan mana yang hanya sekedar buang –buang energi. Jangan sampai isu Lady Gaga malah menimbulkan perpecahan diantara anak bangsa. apalagi sampai harus saling mencecar dan menghujat. Tontonan itu, tentu sangat tidak estetik disaksikan. Selain menganggu nilai moralitas juga memalukan. Siri’ na pacce begitu orang bugis makassar mengatakan. Perpecahan itu menodai nilai keberadaban bangsa. padahal sudah saatnya seluruh anak negeri bahu membahu menyelesaikan aneka permasalahan yang berjibun di negeri ini, Dan membuktikan Indonesia yang lebih baik di kemudian hari.

 

Wahyu Desy N

Mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Makassar

You may also like...

[user_ip]