Manuver Politik PKS dan Badai Tsunami Fathanah

 Satu persatu korupsi impor daging sapi mulai terkuak. Sidang di pengadilan Tipikor Jumat kemarin. Yang menghadirkan saksi-saksi Ahmad fathanah (AF), Luthfi Hasan Ishaaq (LHI) dalam persidangan  Juar Effendi  (JE) dan Abdi Arya Effendi (AAF). Kembali mengguncang PKS dalam pusaran korupsi impor daging sapi.

Salah satu pengakuan AF, bahwa dirinya pernah menyumbang sejumlah uang di partai yang berlabel Islam itu. Sontak kaget badai PKS belum berlalu juga.

Sumber Gambar: www.jpnn.com

Sumber Gambar: www.jpnn.com

Dulu, kita semua penasaran menuggu “gebrakan” Anas Urbaningrum. Dalam rangka membuka buku halaman keduanya. Namun hingga sekarang geliat AU, belum juga muncul dipermukaan. Ironisnya, malah PKS yang “meringkus” buku –buku yang dimaksudkan oleh AU.

Badai di partai Demokrat mulai redam, dengan berakhirnya KLB di Bali. Di sisi lain PKS malah terjangkiti virus korupsi. Virus itu memang bukan disebarkan oleh Nazar. Tetapi tindakan Fathanah yang melibatkan nama LHI dalam rencana  penambahan kuota impor daging sapi. Seolah ada  kemiripan.  Pengaruhnya sama-sama menusuk jantung partai. Dan pada akhirnya menyeret pucuk pimpinan dalam tahanan prodeo KPK.

Dengan penelaahan secara cermat. PKS sudah membuka tiga halaman terhadap fakta-fakta yang tersembunyi selama ini. Halaman pertama LHI pucuk pimpinan PKS ditangkap oleh KPK akhir Januari kemarin. Halaman kedua, masih berbekas dingatan kita, kalau KPK telah melakukan penyitaan terhadap beberapa aset LHI. Halaman ketiga “temu kangen” para dalang korupsi kasus impor daging sapi itu di Pengadilan Tipikor. Bersama dengan Suci Maharani, yang memberi kesaksian. Awal tertangkapnya AF.

Manuver

Ironisnya tiap halaman “dosa-dosa” LHI dibuka oleh KPK. PKS terlalu jauh mengintervensi KPK, bahkan nyata-nyata membawa nama organisasi (baca: PKS) dalam tubir jurang kehancuran.

Berkali-kali elit PKS bermanuver, menuduh balik beberapa oknum sebagai zionis, ada konspirasi hendak menghancurkan PKS. Hingga KPK dikatakan sebagai lembaga yang tidak patuh hukum dan demokrasi. KPK katanya selalu menang dalam peradilan opini.

Sesadar-sadarnya,  patut menjadi catatan bagi PKS, bahwa manuver politk dengan tuduhan-tuduhan konspirasi. Efeknya bisa positif, bisa negatif.

Wajar-wajar saja untuk menguatkan barisan kader. PKS dapat memainkan bahasa “konspirasi politik”. Tapi taktik politik demikian hanya sementara dapat mengembalikan defisit kepercayaan kader. Turbulensi politik akan mencuat kembali sewaktu-waktu. Jika apa yang dibangun sebagai konspirasi. Perlahan tidak terbukti. Bisa dibayangkan misalnya jika LHI terbukti terlibat dalam topan badai korupsi impor daging sapi, nantinya di akhir putusan pengadilan. PKS akan ditalak habis-habisan oleh semua pengagum dan pemilihnya.

PKS tidak hanya akan ditinggalkan oleh konstituen yang bukan kader (eksternal) tetapi jauh lebih kejam PKS akan dihajar habis-habisan oleh kadernya. Terutama kader sektoral bawah yang telah mengorbankan waktu dan tenaganya untuk partai. Karena dianggap PKS telah kehilangan kesucian sebagai partai Islam.

Namun jika dicermati saat ini. PKS mengambil gaya politik yang berbeda dengan PD. PD legowo, ketika semua kadernya yang terlibat korupsi untuk diperiksa oleh KPK. Dengan memeraktikan politik bersih-bersih, kemudian  berakhir dengan KLB.

PKS,  ibarat lain padang belalang. Malah secara sadar, menyeret nama partai untuk berhadapan “adu jotos” dengan KPK. Dengan  gagah berani malah mempertaruhkan nama institusi bersentuhan dengan  KPK.

Di halaman pertama pasca penangkapan LHI, pucuk pimpinananya, PKS lagi-lagi secara tersirat. Tidak menerima penangkapan LHI. Anis Matta masih mensakralkan LHI, mereka semua pada masih mencintai LHI.Bukan hal ironis dalam sebuah partai sekelas PKS. Jika Anis Matta berapi-api membela LHI, karena itulah gaya khas PKS yang patuh pada Muraqib ‘Am. Bahkan  mantan presiden PKS Tiffatul Sembiring-pun mengamini yang demikian, “Kemenangan partai kader tidak akan muncul tanpa loyalitas, loyalitas tidak akan muncul tanpa ketaatan,ketaatan tidak akan ada tanpa pengorbanan, dan pengorbanan tidak akan ada tanpa keikhlasan” (Republika, 30 Juli 2005). Dalam posisi kesakralan PKS seperti itu, manuver politik PKS akan berimbas pada desakralisasi PKS dari kader-kadernya.

Tidak sampai disitu, PKS melakukan manuver dalam menyikapi korupsi yang menyeret salah satu petingginya. Di buku halaman kedua, ketika KPK melakukan penyitaan enam mobil  yang diduga milik LHI. Lagi-lagi  beberapa elit PKS mengajukan perlawanan dan pasang badan terhadap KPK. KPK dituding tidak melakukan prosedur penyitaan yang benar.

Namun reaksi PKS seperti menghalangi, mengempiskan ban-ban mobil yang mau disita, lalu melaporkan pihak KPK dan juru bicaranya ke polisi. Malah PKS dituding balik. Sebagai partai yang sengaja menghalang-halangi tindakan penyitaan. Sehingga oknum PKS-pun bisa dipidanakan. Sudah pasti, dalam posisi ini PKS telah salah langkah. Karena PKS kembali menjadi bulan-bulanan oleh media. Dan menambah runyam situasi di internal PKS.

Buku halaman ketiga, terkuaklah sudah semua keterlibatan LHI dengan AF melalui rekaman yang diputar di meja pengadilan Tipikor.  Mata bisa melihat, membelalk, dan telinga mendengar terbuka lebar kalau LHI mengakui semua isi pembicaraan bersama dengan AF yang hendak melobinya. Agar beliau “menggoda” Mentan Siswono. Untuk  menambah jumlah quota impor daging sapi. Khusus PT Indoguna.  Lantas dalam kondisi seperti ini. Masihkah PKS membela LHI sebagai mantan Presiden yang pernah membesarkan partai bulan sabit itu ?

Badai Fathanah

Elit PKS lagi-lagi mengatakan LHI dijebak oleh AF, dan pengakuan AF yang pernah memberikan sumbangan terhadap PKS juga diingkari. PKS mestinya ditanya, kenapa pula LHI mau berteman dengan AF. Apa untungnya berteman dengan AF, kalau tidak menguntungkan untuk dirinya. Kalau toh bukan atas nama PKS, LHI mendapatkan sejumlah keuntungan dari AF? Tidak sadarkah elit PKS. KPK dapat menelusiri uang pribadi LHI yang disumbangkan untuk PKS ? Bukankah uang tersebut didapat dari bisnis kotor AF. Sehingga PKS juga akan semakin terancam posisinya. Sebagai partai bersih dari segala laku korupsi. Jika ini yang terkuak dikemudian hari

PKS toh ternyata sudah sadar diri. Meski tagline: bersih, peduli, profesional tidak dinyatakan secara tegas tidak layak lagi menjadi slogan partai. Pasca rapimnas sekaligus milad ke-15 di Semarang. PKS telah mengganti tagline baru: `Cinta, Kerja, dan Harmoni’. Perubahan tagline itu mengonfirmasi diri, jikalau PKS tidak “bersih” lagi. Setelah terhempas badai tsunami korupsi impor daging sapi. Akibat ulah dan gelayut Fathanah.

Ada baiknya PKS kembali ke khitanya dalam mencari pendanaan partai. Dengan menerapkan prinsip tiga (aman syar’i, aman politis, dan aman yuridis).  Guna mengembalikan maruah partai. Dalam merebut hati  publik yang masih mencintainya.***

Damang Averroes Al-Khawarizmi

Mahasiswa PPs Hukum UMI

You may also like...