Memori Kematian*

Pekan lalu aku masih melihatnya. Hari itu hari jumat. Masih sehat. Tak ada sedikitpun bayangan bahwa ia memilik tanda-tanda sakit. Habis jumatan. Mesjid kampus mengadakan diskusi singkat. Diskusi kecil-kecilan. Materinya fisafat islam. Beberapa guru besar bertanya pada saat itu. Tapi beliau mumpung tidak memberikan pertanyaan pada pemateri. Beliau hanya berbicara singkat, kepadaku

“Gini loh maksudnya bagaimana memandang arah kibat tidak dengan nada mitos belaka, agama kita adalah agama yang bebas mitologi. Agama demistifikasi.”

Saat aku menyempatkan diri jua bertanya pada pemateri di dalam ruangan mesjid. Beliau, sang guru besar hanya menatap-natapku. Aku menguraikan betapa rumitnya peradaban Islam untuk bersintesa dengan filsafat. Kulihat beliau berdecak kagum menatapku sedang berapi-api menanggapi sang pemateri.

“Kapan-kapan jalan ke rumah de..kk, saya kepengen diskusi dengan kita”

“Iyeee…..Prof”

Saat itu aku jabat tangannya. Ketika acara diskusi singkat mumpung akan berakhir. kemudian ia lekas pergi menuju ke ruang guru besar. Tapi aneh. Kok cara bicaranya ketika menyapaku katup mulutnya terbata-bata. Lama berpikir baru ia menuturkan hasrat isi dan kehendak akal budinya. Tidak seperti biasanya. Lugas, tegas dan jelas.

Sang guru besar yang aku kenal. Beliau sebagai Penasihat Akademikku. Saat itu belum bertitel guru besar. Ia masih bertitel Magister. Kemudian setiap aku bertandang kerumahnya namanya kian terus berubah dalam waktu yang kian menelan usia senjanya. Aku masih menuliskan waktu itu,  namanya di KRS….. Dr. Mas Bakar, S.H, M.H.

Ia belum menjadi seorang guru besar. Tapi cukuplah aku sadar. Aku  banyak belajar etika dan kesopanan kepada beliau. Aku terbiasa menunggu di depan rumahnya setiap badha Adzhar untuk meminta tanda tangannya. Beliau biasanya istirahat pada waktu adzhar. Sehingga aku menunggu sampai maghrib.

Itupun kalau terbangun dan duduk di terasnya. Untuk sejenak istirahat menunggu maghrib. Lalu aku berani mengetok di besi pagar rumahnya.  Lalu ia memanggilku masuk. Dengan nada pelan bicaranya mempersilahkanku.

“Masuk….masukk de….”

“Maaf  pak.”

Aku heran dIbuatnya. Ketika mempersilahkan aku duduk di ruang tamunya Ia menyeduhkan secangkir teh untukku. Lalu. Lama berbincang-bincang dengannya sampai menyinggung keadaan keluargaku. Menanyakan keberadaan Ayah dan Ibuku. Karena Ayahku sudah meninggal,  katanya jangan aku kecewakan Ibuku. Dia cuman satu-satunya.

“Ya pak.”

Aku heran. Loh… kok begitu perhatian amat ini orang. Dengan  kondisi keluargaku. Bahkan dengan masa depanku. Kurasakan bagai aku memilki seorang Ayah. Ya… seorang Ayah yang tak pernah kulihat paras wajahnya. Wajah Ayah yang kadang muncul dalam mimpi dan bunga-bunga tidurku yang selalu berpesan meriuh di sana di alam kuburnya.

“Nak….sungguh-sungguhki kuliah nah…”

Hari itu. Mimpi yang kadang menjadi penghibur kesunyianku tak memiliki seorang Ayah. Rupanya  Tuhan maha adil. Aku merasakan seolah terlahir kembali Ayahku yang telah pergi berlalu dari impianku dua puluh dua tahun yang lalu.

Waktu. Putaran arah jarum jam selalu menghentakkan  detik  waktu yang disebut pekan, bulan, dan tahun. Semester ganjil. Semuanya tak terasa kian berlalu. Semester genap. Menelan semua periode tahun. Aku kembali dari kampung. Menghabiskan waktu dalam tiga bulan menjadi petani.

Semua permukaan telapak tangan dan jari-jemariku menjadi keriput dan kasar.  Tangan yang kemarin selalu menekan tuts computer untuk melahirkan tulisan.

Kalau di kampung bukan tulisan yang akan terlahirkan. Tapi buah panen dari kebun di kampung yang kelak akan aku tuai. Tapi pada dasarnya. tanganku adalah rezeki buat diriku dalam menggapai impian harapan dan doa Ayahku yang telah lama tak bersamaku.

Aku kembali bertemu dengan penasihat akademik. Penasihat akademik yang harus ditemui untuk mendapatkan tanda tangan di KRS.

Kulihat banyak pamflet di papan pengumuman fakultas hukum. Memberi ucapan selamat kepada penasihat akademik yang kelak akan kutemui. Sebentar. Entah dimana lagi beliau berada. Haruskah ku keperumahan dosen lagi. Di blok D22.

Ah…. Tidak mungkin. Aku malu.  Aku tak bisa tahan jika ia saja selalu bertanya-tanya tentang kondisi keluargaku.

Jujur.  Bulir air mataku kadang menitih basah. Ketika kubertandang di rumahnya. Ia lalu berbicara. Menitahkan sejumlah pesan. Pesan agar aku tak melalaikan harapan dan impian orag tuaku.

“De..kk. Kamu ini tidak punya lagi Ayah, tinggal seorang Ibu, jadi sekali-kali jangan menipu dan merusak kepercayaan Ibumu.”

Aku termasuk orang yang sangat peka dengan pesan-pesan yang demikian. Padahal aku selalu mencoba melupakan kematian Ayahku. Ia meninggalkan Ibuku seorang. Ia meninggal dengan cara yang tidak baik. Ia meninggal dengan melawan takdir dan ketetapan Tuhan. Ia meneguk racun di bawah rumah panggung yang terletak di tengah-tengah sawah kami. Maka jika ada yang memaksaku  memutar ulang waktu dalam sekian tahun. Flasch back. Surut kebelakang. Aku tak sanggup.

Beda halnya dengan sosok nabi Muhammad SAW. Pesan nabi Muhammad yang selalu ditulis ulang oleh penulis sejarah seperti Muhammad Husain Haikal:

“Muhammad sering mengingat masa indah dengan Khadija, karena dianggapnya kenangan itu adalah ibadah. Suatu waktu pernah Aisya ditanya oleh Muhammad, ketika Khadija masih hidup tamu itu sering sekali datang, walau waktu itu muka Aisya kelihat cemberut.”

Aku tak bisa membandingkan diriku dengan sosok Nabi. Aku bukan makhluk sempurna. Dengan mengingat kematian. Sesungguhnya aku lemah. Masih sering hadir dimimpi-mimpiku ketika Ayahku disebut-sebut. ketika aku berumur dua tahun aku melihatnya meneguk racun. Lalu ia berlari bersembunyi di semak-semak belukar. Karena ia tidak mau ditahu oleh orang. Aku melihat Ibuku di pematang sawah lari tergopo-gopo ketika ia baru saja diberitahu oleh kakakku. Bahwa Ayah telah minum racun.

Ketika Ibuku membopong kepala Ayahku. Di tengah semak belukar. Lalu ia berucap

“Kau tinggalkanmi itu semua anakmu. Kau mau siksa saya sendiri menahan tanggung jawab ini”

Setengah menahan napas. Ayahku kulihat terbata-bata berucap

“Maafkankan aku maaa….., aku tak sanggup sepertinya menahan beban yang amat banyak ini”

Jelasnya, aku melihat jasad Ayah di bawah kerumah. Dimandikan. Dikafani. Lalu Ibuku membawa aku di dekat jasad Ayah. Jasad Ayah di temaptkan di dalam kelambu. Aku tahu. Waktu itu. Ibu memaksa aku masuk didalam kelambu tempat jasad Ayah dibaringkan. Ibuku ingin aku menyimpan memori dalam ingatanku. Bahwa Ayahku telah tiada. Maka esok lusa. Aku jangan bertanya, kemana Ayah ? Untuk sementara.

Di dekat jasad Ayahku kulihat, banyak sekali tetamu. Melayat. Menumpahkan air mata. Menangisi kepergian Ayahku. Yang semestinya tak merusak dirinya.

“Ayah ….semoga tuhan masih mengampunimu,  atas engkau telah menganiaya dirimu.”

Aku sadar ingatanku. Tak dapat kucek tepat amat. Bagai tap recorder yang dapat memutara ulang benar setiap peristiwa. Terakhir kulihat Ayah dibawah oleh banyak orang di dalam keranda mayat. Kemudian separuh keluargaku kulihat mengantar. Ikut mengantar jenazah Ayah. Lalu aku kembali bergabung dengan teman sepermainanku. Aku tak terlalu mengerti yang namanya “kematian.” Namanya saja anak kecil. Jadi bermain dengan teman-teman sebayaku Jauh lebih penting.

Sekarang, kalau kuingat semua memori kematian itu. Rasanya miris. Miris amat. Aku ingin menjerrit. Jeritan yang sedemikian lama tertahan. Ayah mengapa engkau menganiaya dirimu.

Tapi cerita ini. Aku tak pernah sampaikan kepada siapa pun. Walau kadang ketika aku sering ditanya oleh Penasihat Akademikku. Prof  Mas Bakar. Kenapa Ayahku meninggal. Itu rahasia keluragaku yang tidak mau aku bagi. Aku pasti menyembunyikannya. Maafkan aku Prof. Aku tidak jujur setiap kali kita bertanya tentang kematian Ayahku. Sekali lagi maafkan aku.

Terakhir kali ini aku mungkin meminta tanda tangan sang guru besar itu. Penasihat akademik aku. Oleh karena mata kuliah yang saya program tinggal 4 SKS. Tinggal skripsi. Aku tidak mau lagi datang ke rumahnya. Aku hanya mencari kapan dia punya waktu luang di kampus. Apalagi dia sering kulihat sekarang istirahat di ruang guru besar. Aku beralasan tak mau kerumahnya.

Karena pasti banyak sekali wejangan nasihat yang dia berikan untukku. Padahal aku adalah orang yang sangat rapuh. Tidakkah aku menjadi malu. Ketika anak-anak dan Istri beliau melihat air mataku meleleh. Dulu saja setiap aku datang  kadang bola mataku  berkaca-kaca di buat oleh wejangan-wejangan nasihatnya. Yang membuatku, aku ingat dengan pesan Ibu dan pesan Ayah yang hanya terbiasa datang dalam mimpi.

Lalu, aku berhasil menemuinya di ruang guru besar. Beliau menyapaku dengan nada sopan.

“ Masuk de…. Kesini. itu kursi ambil.  duduk sini. Tumben tidak datang kerumah…”

“Nantilah Prof.

“Loh….kamu sudah hampir sarjana ini. Tinggal skripsi”

“Iye…Prof. Terakhir mungkin aku merepotkanki ini”

“Ah….kau ini biasa sajalah, ….ini saya yang punya tanggung jawab de…kk”

Aku jabat dan mencium tangannya. Melululantahkan semua hasrat dan naluri terima kasihku. Aku salut. Aku kagum. Tidak hanya dengan rasa tanggung jawabnya. Tapi kebijakasanaan dan kesopanan aku diajari olehnya. Terima kasih banyak Prof dan maafkan aku.

****

Adzan shalat adzhar baru-baru saja terdengar dari mesjid fakultas. Aku bermaksud istirahat sebentar di pondokan teman. Di jalan sahabat. Pondok kencana. aku melintas meninggalkan area Fakultas Hukum. Dulunya di depan kampus ini dikenal ada kantin one’s.

Ya… saat aku melintas. seorang seniorku. Wiwin Suwandi. Mengirim SMS. Masih aku menelphone teman-temanku. Aku sontak saja menutupnya dengan cepat mengucapkan salam kepadanya.

Tanganku bergetar. Kuperiksa kotak masuk.

“Prof Mas Bakar meninggal”

Aku masih tak percaya. Karena kemarin aku masih sempat berbicara dengannya di Mesjid Fakultas Hukum. Ia masih kulihat sehat-sehat. Aku masih sempat menjabat tangan beliau. Bahkan beliau menawariku tuk datang kerumahnya. Padahal aku sudah sarjana. Aku pasti tidak punya kepentingan sesignifikan dulu.

Lalu aku kembali ke kampus. Fakultas Hukum. Nama beliau banyak sekali yang menggunjingkannya. Aku baru percaya bahwa ia betul-betul meninggal. Apalagi kulihat anaknya yang masih kuliah di Fakultas Hukum. Banyak sekali orang yang menguatkannya. Anaknya kulihat matanya sendu, dalam. Pergi. Ia meninggalkan kampus. Tak tahan menahan tubuhnya seakan terus terjatuh. Ia menuju ke rumahnya.

“Oh Tuhanku…tolong kuatkan dia….Ya Allah. Rabbku. Kuatkan seluruh anak dan Istrinya.  Komohon kepada-Mu. Aku tak sanggup melihat mereka menangisi Ayahnya. Aku mengerti dan tahu sekali. Ketika seorang Ayah itu pergi. Rasanya sakit. Amat sakit. Walau ketetapan dan sunnatullah itu tidak ada yang bisa melawannya.”

****

Habis jumatan. Setelah jasad beliau disemayamkan di mesjid fakultas. Aku pasti akan hadir. Kalau perlu sampai di pemakaman. Aku memang tak hadir kemarin dihari kematiannya. Karena sesungguhnya aku masih tak sanggup menerima kematian beliau. Orang yang kuanggap pengganti sosok wejangan nasihat,  bak Ayahku yang menjelma dari dirinya harus begitu cepat pergi. Aku tak bisa bayangkan kalau kulihat semua istri, anak-anak, dan cucunya. Kerabatnya berduka.

Aku tak bisa melihat orang melelehkan air matanya. Aku pasti akan terbawa arus dengannya. Kemudin teman-teman saya menilaiku. Aku demikian rapuh. Ternyata saya demikian adanya.

****

Di pemakaman Patenne. Semua kerabat. Para dosen. Mahasisiwa. Ikut melayat. Di depan jasad Prof Mas Bakar di bawah oleh mobil Ambulans. Pengantar jenazah. Sementara untuk masuk di pemakaman harus berjalan lagi beberapa meter.

Di tanah lapang ini. Aku kembali diingatkan ketika orang yang kuat memperjuangkan penolakan BHP. Dr Mansur Semma juga dimakamkan di sini. Kini di pemakaman ini telah bertambah lagi orang yang pernah menjadi tokoh panutanku. Berakhir tidur terlelap di sini.

Para kerabat. Pengantar jenazah juga waktu itu tumpah ruah di tanah lapang ini. Tanah lapang pekuburan yang masih kosong. Padang alang-alang rumput yang saling menyapa bagai jasad yang akan saling menyapa ketika mereka tidur terlelap dari dunia. Untuk selamanya.

Angin sepoi mengibas kenangan pada pengantar jenazah. Menyimpan kesan pada orang yang pernah bercanda haru bahagia oleh Prof Mas Bakar.

Kulihat juga seorang guru besar. Dosenku. Perempuan. Ia begitu gemulai menahan titik air matanya. Dari kaca mata hitam yang menutupi bola matanya. Ada tisue  di tangannya. Setiap kali disentuhkan ke dekat matanya. Matanya menjadi senja menguraikan masa-masa ketika ia banyak melantukan jasa sang guru besar. Sang guru besar teman seperjuangannya.

Di tanah lapang. Pekuburan masih sepi penghuninya. Tempat pemakaman Prof Mas Bakar telah tertutupi semuanya dengan tanah basah. Angin itu membawah hujan. Hujan rintik-rintik.  Riuh angin yang membawa kabar duka buat langit. Langit menjadi kelabu. Gelap.

Kulihat ia menjerit. Menyeka dan meraba setiap permukaan tanah basah pekuburan itu.

Air mataku tak bisa kutahan. Aku mencobanya berkali-kali.  Nyatanya juga aku memang rapuh. Rapuh sekali. Aku terpaksa meninggalkan pemakaman sang guru besar itu. Penasihat Akademik aku. Aku tak tahan melihat derita keluarganya.

Duka dan tangisan langit menitih basah mendentak kerikil-kerikil tajam jalanan. Semua kerabat pengantar berlalu meninggalkan pekuburan.

Aku belum pergi. Saat hujan sedemikian tak tertahankan bagai air mata yang lama sekali terbendung. Aku sempatkan waktuku bersujud pada dua pemakaman. Pada pemakaman Prof Mas Bakar. Pada pemakaman Dr. Mansuur Semma. Mereka adalah pengganti Ayahku yang juga telah pergi. Pergi menutup mata pada dunia.

Selamat tinggal Ayahku ketika aku menghitung puluhan tahun. Selamat tinggal Dr Mansur Semma ketika aku menghitung mundur pada tahun. Dan selamat tinggal kepada Dr Mas Bakar ketika aku mencoba menghitung sekian pekan. Engkau jua telah pergi. Engkau semua merasa dingin dengan tumpahan air mata langit di sana. Di pemakaman Patenne. Di kampung terpencil itu. Kampung Mandai.

Tak lupa untuk Ayahku yang ada di pemakaman. Dikampung. Punya kenangan jelek dengan kematian. Di sini aku benar-benar merasakan yang namanya kepedihan dan rasa sakit saat orang kesayangan kita telah pergi. Engkau memang telah pergi bertahun-tahun. Tapi kadang aku masih diingatkan dengan dirimu. Memori Kematian.

Kematian pada setiap orang yang pernah menyimpan kenangan untukku. Selamat tinggal Pattene. Selamat tinggal kampung Mandai. Engkaulah kampung yang mengingatkanku pada pandreng milik pemakaman Ayahku di kampung. Aku bersujud di tanah basah pemakaman ini.

Setiap kali juga aku mengingat memori saat aku hadir dan bersujud pada pemakaman Ayahku. Walau sakit rasanya. Tak lagi melihatmu.  Namun itulah kematian, yang kadang jua aku mengingat pada kematianmu. Dua puluh dua tahun yang lalu.

 

(empati atas meninggalnya  Prof. Mas Bakar, beliau meninggal Tanggal 17 Maret 2011)*

Sinjai- Tamalanrea – Patenne,

(Mandai)  18 Maret 2011

                                                 

 

 

Damang S.H., M.H.

ALUMNI PPS HUKUM UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA MAKASSAR, PENULIS BUKU DIANTARANYA: ASAS DAN DASAR-DASAR ILMU HUKUM TERBITAN GENTA PUBLISHING (2017), CARUT-MARUT PILKADA SERENTAK 2015 TERBITAN PHILOSOPHIA PRESS MAKASSAR (2016), KUMPULAN CERPEN DALAM MENETAK SUNYI (2013).

You may also like...