Menjemput Keadilan dari Timur

Ruah rasa selalu bertalu-talu dikala memori itu kembali terekam, seorang Guru Besar dengan perawakan kurus, berkacamata, lengannya selalu digerakkan berkali-kali, hingga otot-ototnya kelihatan masih kuat. Memang Ia sudah berumur senja, tetapi “rasa pengabdiannya” akan juris merah tak pernah mati. Pengabdiannya, hanya bisa pergi pun kalau “nyawanya” telah pergi. Dan sekarang, kita harus mengatakan: “Ia benar-benar telah pergi, empat tahun yang lalu.”

Dialah pejuang keadilan dari timur, tak pernah “jumud” dengan kampus yang pernah membesarkannya. Kemana Ia melangkah, berorasi, menjadi narasumber, maka nama “yuris merah” tetap melekat dalam jubah kebesarannya.

Entahlah, di usia fakultas hukum Universitas Hasanuddin (FH-Unhas) yang ke-64 ini, di saat jatuh tempo kelahirnnya pada 3 Maret 2016 kemarin, dan titik kulminasi perayaannya yang akan dihelat pada 26 Maret 2016: “Masihkah yuris merah yang selalu meneriakkkan panji-panji keadilannya memiliki tunas begawan muda, ibarat tokoh yang saya ilustrasikan di atas?”

Kiranya pertanyaan demikian tidak perlu saya menjawabnya. Cukup saya kembalikan saja kepada semua teman-teman alumni yang pernah merasakan suka-dukanya menjadi anak “yuris merah” yang “dihipnotis” dengan keyakinan teguh: “anda tidak salah memilih “pelabuhan hati” di Fakultas Hukum Unhas.”

Sumber Gambar: unhas.ac.id

Sumber Gambar: unhas.ac.id

Kehilangan Identitas

Sungguh kemudian tidak ada salahnya; saya, kita, semuanya, melakukan “napak tilas” atas usia juris merah yang makin senja dengan sebuah pesta yang membahana. Silahkan diadakan acara jalan santai, penanaman pohon walau kita semua juga tahu Unhas sudah melimpah dengan aroma pemandangan pohon menghijaunya. Bahkan tak ada yang salah pula dengan sebuah “peringatan kelahiran” lalu diikuti dengan pesta meriah anjang konser, menghadirkan artis ibu kota negara. Yang mau datang dan menikmati, dipersilahkan mengikuti segala kemeriahan itu.

Hanya saja, sebagai orang yang pernah pula mengenakan jaket “juris merah.” Sepertinya saya sedang dilanda “gundah-kegelisahan” yang membuncah. Saya menjadi resah dengan sebuah kemunduran yang sedang melanda “calon-calon” yuris merah kita di masa mendatang. Toh kalau ada yang menilai “keresahan” saya sebagai kondisi “subjektif” saja, saya juga tidak keberatan. Tetapi saya memohon; izinkan saya saja menceritakan gundah-gelisah itu di dalam tulisan singkat ini!

Kegelisahan saya adalah “mungkin” akhir-akhir ini kita tidak pernah menyadari kalau Fakultas Hukum hanya bisa menjadi “gadis” pesolek saja. Pembangunan gedung yang spektakuler, ruangan yang sudah dipermak, hingga “tempat nongkrong” gazebo yang sudah lengkap di sana-sini. Akan tetapi, kita lupa pada institusi kita, yang bernama yuris merah itu, perlahan dengan waktu yang terus menderas, “identitasnya” makin hari, kian pupus di telan zaman.

Saya mencurigai identitasnya menghilang, sebab satu-persatu ikon kebesarannya pun “gugur” bersamaan dengan usia yuris merah yang semakin menua. Kadangkala kita cukup bangga dan pongah menyebut nama beberapa “alumni” yang sedang atau sudah memangku jabatan nasional. Akan tetapi, “alumni” yang bisa dijadikan ikon kebesaran dalam menempa adik-adik calon yuris merah, terlalu sombong kalau saya mengatakannya “saat ini sudah pada menghilang.”

Yuris merah saat ini, bukan lagi yuris merah yang dulu, bukan lagi yuris yang banyak ide-ide cemerlangnya sedang menasional di seanteror nusantara. Tak ada lagi ilmu hukum semerbak mewangi yang bermekaran dari timur seperti sedia kala.

Fakultas hukum Unhas pernah berjaya dengan tokoh hukum pidana adatnya, dialah Prof Zainal Abidin Farid yang cukup disegani oleh pembesar-pembesar hukum di tanah Jawa. Juga pernah besar dengan ahli hukum administrasinya, melalui Willy D.S. Voll, walau hanya dengan gelar sarjana hukum saja, segala rumus yang telah diformulasikan dalam hukum administrasi, sungguh tidak ada tandingannya dengan ahli yang seilmu dengannya juga di tanah Jawa.

Prof. Barlop telah pergi, muridnya juga telah dijemput oleh Yang Maha Kuasa. Dan ketika muridnya itu menghela nafas terakhirnya. Harus diakui bersama, juris merah benar-benar kehilangan sosok.

Tak ada lagi tokoh yang sehebat beliau, tokoh yang bisa menjadi “ikon” bagi siapa saja yang pernah mendengar tutur katanya di saat sedang melontarkan wejangan-wejangan “keadilan-nya”. Sosok itu benar-benar telah pergi bersamaan dengan “identitas” juris merah yang kian hari makin luntur di telan derasnya kompetisi “politik” untuk berlaga di medan nasional.

Recovery Identitas

Lantas kalau demikian keadaannya, maukah kita membiarkan juris merah benar-benar tidak punya lagi identitas?

Saya kira satupun diantara kita yang masih mengaku; selama darah masih memerah, pastinya juris merah akan jaya selalu, ayam jantan yang bersayapkan keadilan timur harus selalu berkepar. Jangan biarkan ia tertutup oleh syahwat kuasa.

Menghadirkan kembali sosok panutan sebagai langkah untuk me-recovery “identitas juris merah” bukanlah pekerjaan sulit. Juris merah adalah panggung kebesaran “justitia” yang memiliki frekuensi Guru Besar terbanyak di seluruh Perguruan Tinggi di negeri ini. Maka dari jumlah yang terbanyak itu, hanya dibutuhkan ide cemerlang nan baharu dari mereka, paling tidak idenya bisa memberikan “distingsi” keilmuan dengan Guru-Guru Besar yang ada di luar sana.

Selain itu, pun kita mengakui, mereka yang sedang memangku nama kebesaran di tingkat nasional adalah orang-orang pilihan. Kecerdasan mereka masih dibutuhkan selalu. Tak ada salahnya mereka, sekali-kali melepas rindu dengan ramuan “dapur” keadilan timur.

Selama mentari masih menyilau, mari bersama-sama menjemput keadilan dari timur. Bahwa kita semua yang lahir dari timur akan selalu meneriakan panji-panji keadilan: “Juris merah sejatinya masih ada, dan akan jaya selalu.”

Selamat terlahir kembali almamaterku. * Happy Milad Juris Merah*

Damang Averroes Al-Khawarizmi

Mahasiswa PPs Hukum UMI

You may also like...