Mensucikan Tahun Politik

Jauh sebelum genderang ditabuh menyambut bulan suci ramadhan, sebagai bulan kemenangan ummat Islam seanteror dunia. Di negeri ini sudah lebih awal ditabuh bertalu-talu genderang politik. Tepatnya sejumlah partai politik menabuh genderang perang terhadap saingan-saingan politiknya.

Tahun 2013 dimaknai sebagai tahun politik, tahun dimana saling membuka aib lawan politik, adu jotos, adu fisik, hingga adu gagasan. Tiada lain genderang itu ditabuh agar mereka dapat “melenggang kangkungI menuju singgsana kekuasaan di Senayan, Jakarta. Tak sungkan-sungkan sandiwara yang dimainkan oleh para elit politik kita. Empat partai besar (PD, Partai Golkar, PKS, PDIP) semua telah “mewakafkan” kadernya menjadi korban penghuni gedung prodeo KPK.

Maka dibulan suci ramadhan ini, penting untuk dimaknai oleh para politisi kawakan maupun politisi elit. Tahun politik yang dimaknai sebagai tahun buka “borok” lawan-lawan politiknya harus segera diakhiri. Dan saatnya bertarung secara sehat, pada gagasan yang kompetitif, bukan lagi waktunya menyebarkan “fitnah” serta serangan zionis. Karena mereka (baca: partai) itu pada bersaudara, membawa perahu Indonesia ini. Menuju pengharapan hidup yang lebih baik.

Puasa Parpol

Dalam konteks ini pula, bulan suci ramdhan bagi para elit politik, bukan hanya bermakna mensucikan dosa-dosa mereka secara personal saja pada tahun-tahun sebelumnya. Tetapi lebih dari pada itu penting untuk dimaknai sebagai pembersihan dosa-dosa politik mereka secara organisatoris.

Dosa-dosa berjamah yang telah mereka lakukan selama mendapat kepercayaan “jatah kekuasaan” sehingga potensial menilap uang rakyat untuk membesarkan partainya. Korupsi politik tidak hanya tuntas dengan pertobatan personal, puasa personal, tetapi perlu puasa organisatoris. Atas nama partai politik memang tidak dapat berpuasa menahan lapar dan dahaga selayaknya manusia. Tetapi ketika semua kader partai politik secara sadar melakoni dan memahami bulan suci ramadhan. Tidak mungkin lagi akan mengulangi mengagrong uang Negara. Untuk kepentingan partai politik berikut yang memebesarkan dia. Maka partai politik ada tempatnya dibulan suci ini, untuk melatih diri. Dari pengaruh nafsu duniawi, keserakahan menumpuk harta, termasuk tidak takut kalah dalam berebut kemenangan.

Sumber: citraislam.com

Sumber: citraislam.com

Kemuliaan yang jauh lebih penting di bulan suci ramadhan adalah membiasakan parpol melakoni puasa dari keserakahan harta, tahta, bahkan dari godaan wanita yang menyeret salah satu partai dakwah ditahun ini. Karena sesungguhnya puasa adalah ajang latihan bagi yang menjalankannya, melepaskan diri dari segala kepentingan duniawi. Guna meraih keridhoan-Nya. Korupsi politik tidak mungkin terjadi jika parpol sendiri sadar akan  makna substanstif puasa. Individunya sadar praktis parpol alias kendaraannya akan menuju pula di jalan yang benar.

Sehingga pesan Presiden PKS, ketika LHI dijemput dan harus berurusan dengan KPK gara-gara kasus impor daging sapi. Agar semua kader PKS melakukan pertaubatan massal merupakan pesan transedental dalam nuansa teologis menyemai kesadaran batin, bahwa laku perbuatan korupsi. Tampaknya tidak menutup kemungkinan menyeret organisasi. Sebagai sebuah badan yang harus sadar diri. Terlibat dalam perbuatan korupsi. Deklarasi terbuka Anis Matta mesti menjadi pelajaran berharga pula untuk partai-partai lain, yang tidak lama lagi akan berlaga dalam pemilu 2014 nanti.

Mensucikan Politik

Politik dalam arti klasik sering dimaknai sebagai perbuatan nista, kotor, tak bermoral, tidak ada kesuciannya sedikitpun. Dengan gaya machivellian dikatakan politik ibarat menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuan. Demarkasi antara dosa dan pahala menurut Machiavelli tidak ada batasannya. Semua bercampur menjadi satu. Tujuan utamanya, yang penting merebut tahta kekuasaan semata saja.

Antoni Laswellpun dalam bahasa yang berbeda memaknai politik pada  siapa yang mendapatkan apa dan bagaimana caranya. Tujuan politik Laswell merupakan politik gaya purba, yang bersandar pada patron dan klien saja, sehingga persoalan memikirkan kesejahteraan rakyat adalah persoalan di belakang. Itupun kalau ada waktu untuk memikirkannya, lalu mengejawantahkannya janji-janji politiknya.

Islam tidak anti politik, politik bisa berjalan dengan kemulian. Jika politik dimaknai sebagai cara untuk mencapai aktivitas tertentu. Apa salahnya jika hal tersebut dilakukan dengan cara yang mulia. Melalui bulan suci ramadhan seyogianya para elit politik. Mulai dari tingkat nasional hingga kalangan lokal. Harus berani berdiri tegak, untuk meneriakan politik sesungguhnya memiliki kesucian. Bukankah Umar bin Khatab menata warga yang dipimpinnya mampu memeraktikan politik nan suci, untuk para pembantu-pembantunya.

Bahkan Umar  tidak benci pada rakyatnya, di suatu waktu ketika beliau diatas podium tempat Rasullullah sering berpidato, ia ditegur “wahai umar jika engkau bengkok sebagai pemimpin maka aku akan meluruskan engkau dengan pedangku”. Saat itu pula Umar seraya berdoa kepada Allah, ”puji syukur kepada-Mu ya Allah, ada kaum-Mu yang mau mengingatkan saya”.

Tidak sulit para elit politik di negeri ini melakukan pensucian politik. Apalagi bulan ramadhan menjadi bulan dimana para umat kembali menapak ke bumi. Menyemai rasa belas kasih untuk semua. Tanpa strata yang menjadi pembeda. Semua merasakan makna puasa dijalankan sebagaimana mestinya.

Menahan lapar saat matahari terbit hingga matahari terbenam, sebuah perjalanan spiritual yang ingin ditanamkan oleh esensi puasa seperti kaum papa, yang kadang di luar waktu  bulan ramadhan, mereka tidak mendapat jatah makan siang. Karena harus bertaruh hidup untuk keluarga dan masa depan anak-anaknya. Maka bulan ramadhan sebagai jalan pintas merasakan penderitaan kaum papa diharapkan para elit politik yang terpilih nanti. Mampu belajar dari sulit dan menderinya seorang menahan lapar.

Jika ini dipahami dan benar-benar dilakukan secara konsisten bukan tidak mungkin janji politik seperti kesehatan gratis, sembako murah bagi para elit politik yang terpilih nanti. Mampu menunaikan janji-janji politiknya. Inilah politik suci,  yang tidak hanya memikirkan nasib dan kerabat dekat, serta partai politiknya saja.

Melalui bulan suci ramadhan, mari kita menunggu semua para elit politik di negeri ini. Keluar dari goadaan duniawi, syahwat kekuasaan, glamour kemewahan, meraih kemenangan yang abadi, kemuliaan, keridhoan Allah SWT. Jangan takut kalah di pemilu 2014 nanti, yang jelas jika dirimu, telah berjalan di jalan politik yang suci nan mulia. Tuhan akan mengganjarmu kelak, kemenangan yang  jauh lebih mewah ketimbang di dunia. Wallahu Wa’llam Bissowab.*

Damang Averroes Al-Khawarizmi

Mahasiswa PPs Hukum UMI

You may also like...