Mereka Menyebut Kami “Tikus”

Di negeri antah berantah yang orang2 menyebutnya INDONESIA. Diluar terasa terik karena panas matahari menyengat. Tapi didalam gedung megah, yang orang2 diluar sana menjulukinya “gedung kura-kura”, didalam satu ruangan khusus yang disebut Ruang Kerja Badan Anggaran (Banggar), kami berlima adem ayem menikmati sejuknya udara AC, empuknya kursi impor, hidangan teh hangat dan sepiring kecil snack untuk menemani jadwal rapat kami. Tapi yang sebenarnya terjadi didalam bukanlah rapat yang sesungguhnya. Karena rapat yang “sesungguhnya” sudah disepakati seminggu yang lalu disebuah hotel berbintang di kawasan Thamrin, Jakarta.

“Rapat” kali ini hanya mengobrol biasa. Tak ubahnya arisan Ibu-Ibu. Yang berbeda karena persertanya di dominasi kaum Pria, meski ada juga beberapa wanita. Tak ada notulensi, tak ada pegawai administrasi. Karena semuanya sudah dimanipulasi. Staf administrasi yang hadir sudah paham, jika dia hanya pura-pura mengetik. Sekedar untuk mengelabui anggota yang lain diluar. Mengira kami benar2 rapat. Padahal di dalam, kami tertawa cekikikan. Karena sebentar lagi, fulus mengalir ke rekening kami masing.-masing. Tak ada orang yang tahu, selain kami berlima, bersama seorang staf administrasi, yang juga sudah disterilkan. Dengan fulus itu, kami berfoya-foya. Jalan-jalan ke luar negeri. Menyewa apartemen mewah. Membeli mobil-mobil bermerek dan perhiasan-perhiasan mewah. Hingga bisa membeli wanita.

Sumber: erdidik.wordpress.com

Sumber: erdidik.wordpress.com

Di ruangan inilah kami berkuasa. Bukan, bukan saja di ruangan ini. Tapi diseluruh wilayah negara yang rakyatnya menyebut “Indonesia”, kamilah yang berkuasa. Kami “malaikat penentu nasib” dua ratus juta lebih rakyat-yang entah siapa-kami sendiri juga tidak mengakui diri sebagai wakil mereka. Dari Sabang ujung Sumatera sampai Merauke ujung Irian, nasib pembangunannya kami yang tentukan. Dari ruangan ini, dari mulut dan tangan-tangan kami. Nasib mereka kami tentukan. Tak peduli pemimpin mereka bergelar bangsawan, punya darah ningrat atau priyayi. Mereka harus menyembah, menjilat dan mengemis untuk meminta belas kasihan ke kami agar mendapat jatah.

Di ruangan ini kami menerima proposal-proposal usulan anggaran dari seluruh daerah. Dari Sabang sampai Merauke, kami yang putuskan. Apakah akan diberi bantuan atau tidak. Dari kamilah nasib pembangunan didaerah mereka diputuskan. Dan orang-orang itu semua sudah tahu. “Tidak ada makan siang yang gratis”. Semua proposal yang disetujui, mereka akan memberikan kami “komisi’” dalam jumlah besar. Dari ratusan juta hingga milyaran rupiah. Tidak sedikit yang berberntuk Dollar. Kami begitu bukannya kami tidak tahu kelakuan mereka, yang juga menjadi maling buat rakyatnya. Jadi kami sama-sama untung. Kami adalah simbiosis mutualisme.

Dan jika mereka tidak sanggup menjamin “komisi” untuk kami. Jangan harap kami akan berbelas kasih. Ya, kami memang kejam. Kejam hanya demi sebuah keangkuhan.

Padahal jika bukan gelar ini, “wakil rakyat yang terhormat”, kami bukanlah siapa-siapa. Kami tak akan dipandang sebagai orang. Mungkin karena “nasib baik” sehingga kami beruntung bisa berada disini. Anda tahu semua, jika persaingan untuk menduduki kursi – yang mungkin harganya tak sampai sejuta ini – amatlah berat dan mahal. Lebih mahal dari harga kursinya. Untuk menduduki kursi ini, kami bertarung, kami berjudi. Sampai berdarah-darah, dan bahkan berujung ke pengadilan. Hubungan pertemanan terluka, keluarga terpecah belah. Semua hanya untuk mendapat kursi ini. Ya, kursi ini memang “panas”. Karena kursi ini, Iwan Fals, seorang musisi kondang yang memiliki banyak fans fanatik, meledek kami dengan lagunya “surat buat wakil rakyat”.

Gara-gara kursi ini, gedung tempat kami berkantor saban hari didatangi puluhan, ratusan, bahkan ribuan orang sambil berteriak-teriak, tak jarang mencaci maki. Aneh, padahal mereka adalah “atasan” kami. Karena kami adalah “wakilnya.” Tak jarang pagar dirusak, polisi yang berjaga di dalam gedung dilempar.

Juga gara-gara kursi ini, kami mendapat julukan baru dari orang2 yang disebut “rakyat”, yang menyebut kami “TIKUS!”. Awalnya kami tak tahu mengapa disebut begitu, sampai akhirnya kami paham, TIKUS hanyalah konotasi, dari perilaku kami yang katanya sering menilep uang negara secara sembunyi-sembunyi. Mirip tikus yang suka mencuri makanan secara sembunyi-sembunyi. Walaupun sang Tikus sendiri mungkinSedangkan sebutan kami yang lain yang lebih populer, kami adalah KORUPTOR!

Ya, kami adalah TIKUS, dalam bahasa populer disebut KORUPTOR. Tapi kami tidak peduli dengan julukan itu. Meski nurani kami kadang berontak karena disamakan dengan TIKUS. Binatang yang suka mencuri makanan, yang hidupnya ditempat yang kotor, dan baunya menjijikan. Tapi lama-lama, kami akhirnya terbiasa. Karena kami “TIKUS YANG MAKMUR.” Jika TIKUS ASLI jalan sambil merayap di got berbau, kami jalan ditemani mobil mengkilap dan ber merk dijalanan aspal yang licin. Jika TIKUS ASLI mencuri makanan untuk hidup, kami makan di restoran mewah. Yang restorannya hanya menerima Dollar, bukan Rupiah. Di depan banyak orang tanpa harus malu. Bahkan mereka menyanjung kami sebagai orang yang sukses. Kami adalah TIKSU YANG MAKMUR dan juga SUKSES. Sukses menipu. Ya, kami adalah TIKUS.

Tapi akhir-akhir ini, kami menjadi terganggu. Dengan sejumlah berita yang kami dengar, bahwa kami dibidik oleh sebuah lembaga yang orang2 menamakannya KPK alias Komisi Pemberantasan Korupsi. Ada pula yang menjulukinya Komisi Pemburu Koruptor. Katanya, KPK memburu dan ingin menangkap kami. Karena konon kabarnya, kami suka menilep uang negara. Dari mana kabar itu berhembus kami tak tahu. Sampai ada informasi jika salah seorang pejabat daerah sudah ditangkap KPK. Dan dia bercerita kalau kamilah yang sering memberinya “MAKAN”….!

wiwin suwandi

Pegiat Tata Negara dan Antikorupsi di ACC Sulawesi

You may also like...