Narsisme dan Dinamika Gestur Politik Pilkada

Kian hari waktu pemilihan Gubernur semakin dekat. Tepatnya, 22 Januari 2013 nanti. Mau tidak mau, jelas memaksa para kandidat dan juru kampanye mengeluarkan semua “jurus jitunya”. Untuk menghipnotis pemilih-pemilih kelak. Memilihnya, karena dia adalah calon yang terbaik dari semua calon(the best for all).

Mereka datang menjambangi semua tempat-tempat umum, menemui rakyat, datang ke pasar-pasar tradisional, kabupaten, kecamatan hingga pelosok-pelosok desa terpencil.Mengadakan konsolidasi, membagi foto, pamflet, memasang foto diri di jalan. Bahkan tak segan-segan mengirim pesan singkat via SMS ke masyarakat, membuat website dadakan, berbicara di radio-radio, televisi dan membuka layanan facebook hingga twitter.Untuk mencari pendukung dari “pemuja” dunia maya.

Dibalik “kerja keras” merebut simpati publik. Para kandidat mengeluarkan “mantra” untuk mengukir berbagai kesuksesan di masa lalu.Seperti program kesehatan gratis, pendidikan gratis, transportasi gratis, subsidi pupuk. Katanya  telah sukses dilaksanakan pada masa-masa kepemimpinannya.

Walaupun image kesuksesan tersebut dibangun dalam realitas kepalsuan (pseudoreality).  Dengan seenaknya saja berbicara angka hasil manipulasi. Tanpa peduli citra itu bertentangan dengan realitas sebenarnya. Para elit politik terhanyut dalam konstruksi citra diri dari pada realitas, memuja gaya ketimbang substansi, retorika ketimbang intelektualitas, emosi ketimbang nalar. Inilah gejala narsisme politik ketika citra sebenarnya terputus dari realitas yang sesungguhnya (political narcissism).

Christopher Lasch dalam The Culture Of Narcissim (1985) melukiskan bahwa narsisme tidak hanya diartikan sebagai kecenderungan pencarian kepuasan seksual melalui tubuh sendiri (Freud), melainkan juga dapat diarahkan ke segala bentuk “penyanjungan diri” (self admiration), “pemuasan diri” (self satisfaction) atau “pemujaan diri”(self glorifacation: Erich Fromm), atau segala kecenderungan melihat dunia sebagai cermin / proyeksi dari ketakutan dan hasrat seseorang.

Narsisme politik ditandai dengan “pemujan diri” lebih hebat ketimbang elit politik lainnya. Dengan seolah-olah dekat dengan petani, pembela wong cilik, akrab dengan tukang becak, akrab dengan penjual ikan, pemimpin bertaqwa, pemberantas korupsi, pemberantas narkoba dan segala jenisnya.Semua kebaikan dipaksa melekat dalam dirinya.

Narsisme politik ditandai dengan “artifisialisme politik”. Ketika citra diri dibangun sebagai orang yang tak berdosa, cerdas, bersih,jujur, intelek, sempurna, ideal, tanpa menghiraukan pandangan umum terhadap realitas sebenarnya. Meski misalnya muncul desas-desus sebagai “ pemakai narkotika” tetap don’t stop komandan. Meski muncul desus-desus perampas hak-hak rakyat, korupsi “biarkan saja semangat baru tetap lewat”. Meski telah menjadi ikon yang ditunggangi, “popetpopetan” namun dia adalah percontohan program kesehatan gratis. Semua masih pada berkilah dan mengelak.Itu hanya asumsi dan persepsi yang tidak dapat dibuktikan kebenarannya. Mereka pada  lupa bahwa politik itu adalah persepsi. Dan sebuah keniscayaan dalam politik, persepsi dapat mempengaruhi cuaca, suhu, serta iklim  politik ke depan.

Narsisme politik ditandai dengan “politik  instan”, “politik kecap”, “politik ala kacang goreng”. Semua para elit politik tidak menghargai proses politik. Dengan logika kecepatan waktu , Ia langsung membangun aneka citra politik tanpa melalui akumulasi karya, ide, gagasan. Padahal sebenarnya, mereka itu miskin ideologi, dan prestasi politik. Dengan mentalitas “instan” tersebut jelas para elit politik telah menghancurkan sendi-sendi demokrasi.

Pada akhirnya, yang paling penting dalam narsisme politik adalah bagaiamana melakukan “politicsofseduction” seperti trik “bujuk rayu”, persuasi, dan retorika politik yang bertujuan menghipnotis semua orang. Bahwa citra yang ditampilkannya adalah kebenaran. Namun jika dibongkar tanda-tanda yang diciptakan itu. Tidak lain merupakan rekayasa, kamuflase “sebuah kepalsuan”, “kebohongan” dari “muka politik” yang telah di make up untuk menutupi wajah aslinya.

Gestur Politik

Baik narsisme maupun gestur politik tidak dapat dipisahkan sama sekali dalam politik. Oleh karena kedua istilah tersebut berfungsi sebagai instrumen komunikasi untuk meyakinkan publik. Narsisme dan gestur politik adalah dua kawan abadi yang sehaluan.Dapat digunakan oleh para elit politik untuk mempertegas apa yang tak dapat ditegaskan melalui ucapan, membuat kita yakin dengan confidency-nya memainkan bahasa. Gestur memang tampak natural, etis, tapi dia memiliki kekuatan politik tersendiri.

Jika narsisme politik melakukan pemujaan diri, maka perlu dukungan gestur politik untuk semakin menguatkan dirinya sebagai paling terbaik. Simbol, slogan, visi dan misi yang diucapkan harus didukung dengan segala potensi tanda tubuh (bodysign). Dengan potensi tubuh, gerak tangan, mimik, wajah, model rambut, gaya berpakaian, menjadi bagian “multimodal” yang memperkuat makna dan pesan-pesan politiknya.

Gestur politik berada dalam tataran cara (means) dan tujuan (end) tetapi ia sendiri bukanlah tujuan. Gestrur dapat memperkuat makna dan bahasa verbal, namun sesungguhnya ia miskin makna dan bahasa. Gestur politik juga dapat menjadi “strategi jitu” dalam keadaan terjerembab “pertarungan bahasa”. Dengan melakukan reduksi bahasa. Gestur para politisi ini untuk mempertegas etika dan posisi ideologisnya.

Oleh karena itu pernyataan “pengguna narkoba”, “koruptor”, “tunggangan politik”. Dari seorang kandidat atau juru kampanye menempatkan dirinya secara ideologis dalam sebuah “mainstream ideologi” tertentu. Seperti anti narkoba, anti korupsi, dan kandidat ideal tanpa tunggangan.

Kecenderungan permainan narsisme politik dan gestur politik oleh para kawakan elit politik kita (baca: kandidat politik) telah mencabut praksis politik dari ideologinya. Dalam situasi demikiaan, ketika praksis ideologi telah tercabut dari ideologinya. Citra, gaya, dan gestur lebih dipuja, dipertuhankan, dirayakan, ketimbang ideologi dan makna politik itu sendiri. Energi,  gagasan, dan kesadaran para politisi hanya terkuras dalam memikirkan penampakan luar, polesan semata,tanpa lagi ada ruang perjuangan ideologi politik untuk menarik perhatian dan keyakinan publik.***

Damang Averroes Al-Khawarizmi

Mahasiswa PPs Hukum UMI

You may also like...