Payabo – Yabo

“Nak, Radiman sabar ya, nak. Mama dan Ettamu belum punya waktu dan rezeki dari Tuhan, agar kau punya Adik.”

“Iya Mak. Iya Ettaku. Aku mengerti kok”

Semenjak Mama dan Ettaku menikah. Aku dibilang. Sudah menginjak umur 17 tahun. Tapi belum aku memilki seorang Adik dari Mereka.

Aku tak pernah tinggal kelas. Mulai masuk Sekolah Dasar. Sekolah Menengah Pertama. Dan sekarang aku sudah berada di Sekolah Menengah Atas.

Sekarang aku telah duduk di kelas satu SMA. Letak sekolahku tak jauh dari gubuk Etta dan Mamaku. Sekolah itu terletak di BTP. Namun aku mesti jalan kaki ke Pintu II. Setiap paginya dari gubuk buatan Etta dan Mamaku. Agar aku dapat menghemat sewa mobil. Nanti di Pintu II baru aku naik mobil pete-pete.

Gubuk milik kami adalah gubuk yang dirancang oleh Etta dan Mamaku setelah ia menikah. Gubuk yang dirangkai dari tumpukan balok bekas buangan kontraktor kampus Unhas. Dan dindingnya, hanya berdinding kumpulan kardus bekas.

Setiap subuh. Sebelum matahari nampak dari ufuknya. Aku memaksa diri bangun subuh-subuh. Tuk menjalani profesi Etta dan Mamaku sebagai Payabo-yabo (pemulung).

Setiap waktu aku membawa gerobakku sendiri.  Tanpa di temani Etta dan Mamaku. Oleh karena pada pagi hari. Mama dan Ettaku. Sibuk mengemasi kertas dan tumpukan kaleng bekas, botol minuman. Untuk di jual setiap sorenya. Ketika datang langganan truk pembeli. Pembeli atas hasil jeri payah kumpulan barang-barang bekas kami.

****

Hingga sekarang. Aku belum punya adik. Makanya. Setiap aku bangun dan berangkat saat subuh menjelang datang. Hanya kusendiri saja  mengayuh gerobak pengangkut barang bekas itu. Padahal aku selalu iri. Melihat teman-teman Payabo lainnya. Ramai berceloteh riuh dengan adik-kakaknya. Aku malah sendirian. Keterusan begini.

“Tapi ada juga hikmahnya Diman”

Demikian aku berucap dalam hati. Etta dan Mamaku tidak perlu repot menyediakan banyak simpanan deposito. Juga kebutuhan lainnya. Untukku. Karena aku cuma sendiri.

Namun apalah arti kebahagiaan. Ketika aku merasa asing nansepi terus. Saat kukumpulkan banyak barang-barang bekas dari setiap daerah pemondokan. Dari barang-barang bekas, yang banyak dibuang oleh mahasiswa pondokan.

****

Sewaktu-waktu. Aku paling senang. Jika kudapati banyak tumpukan kertas yang dibuang oleh seorang mahasiswa. Mahasiswa yang baru saja mengakhiri masa studinya. Katanya kertas itu adalah berkas skripsi yang sudah tak terpakai lagi.

Bahkan aku sering menunggu-nunggu seorang mahasiswi. Yang menawariku untuk mengambil semua kertas yang banyak numpuk di kamarnya. Diantara mereka kadang, ada  bertanya kepada-ku

“Dek masih sekolah tidak’

“Iya..aku masih sekolah kak”

****

Lazimnya. Setelah kukumpul semua kertas bekas di gerobakku. Aku cepat-sigap. Segera mendayu  gerobakku pulang. Kemudian Mandi di sumur. Sumur di dekat gubukku.

Lalu, aku pergi ke sekolah. Menyusuri lorong-lorong macet. Di Jalan Politekhnik. Tak lupa. Aku membeli bungkusan. Nasi kuning. Pada penjual yang banyak berjejeran di Emperan jalan. Jalan yang setiap hari kulalui. Sebagai seorang Payabo-yabo ataukah juga seorang pelajar.

Nasi yang kubeli. Bukan untuk kumakan. Pada pagi harinya. Tapi aku sengaja menyimpannya.  Untuk makan siang. Aku berusaha menghemat. Sehemat-hemat mungkin. Agar aku bisa juga membeli buku selayaknya anak pejabat yang kaya raya, yang dapat membeli buku pelajaran.

Kalau kudengar. Sekarang. Telah ada. Program kesehatan gratis. Banyak pamfletnya tertempel. Yang pernah kubaca pada pamflet kampanye. Di setiap sudut-sudut Jalan. Tapi aku heran. Kenapa buku yang pengen kumiliki belum gratis juga ?  Padahal calon yang punya janji. Demikian sudah menduduki kursi jabatan empuknya.

****

Akhirnya. Suatu waktu. Takdir baik tak bisa ditolak  Aku pulang ke gubuk.  Dari sekolahku. Waktu itu . Aku tetap memilih jalan kaki. Saat pulang ke rumahku. Sepotong jalan. Aku naik mobil hingga pintu I. Kemudian dari pintu I aku berjalan ke gubukku. Di belakang kampus. Kudapati Ettaku  berdua dengan mamak di gubuk.

“Etta…ku, kenapa tidak pergi kerja, kita nanti mau makan apa Etta, kalau kita cuma tinggal di rumahki”

“Sakit Mama ya…Etta”

Aku juga bertanya. Berkali-kali pada Mamaku. Mama kenapa?, tapi tak sepatah dua katapun. Keluar dari katup bibirnya. Lalu Ettaku berucap bahagia. Kepadaku

“Kau kan punya Adik. Anakku”

“Hore….”

Aku berteriak. Meninggalkan Etta dan Mamaku. Kudorong terus gerobakku. Menuju jalan lingkar. Mengelilingi semua pemondokan. Di Tamalanrea. Aku tak peduli hujan yang memantik terus rambutku yang kriting dan air hujan terus membasahi juga  ke dua pipiku. Hatiku merasa meledak bahagia. Aku akan punya Adik kelak.

****

Setelah masa ngidam Mamaku terlewati. Akhirnya kunjung jua waktu tuk melahirkan. Tapi mamaku takut untuk melahirkan. Mungkin inilah alasan Mama selalu menunda kehamilannya.

Apalagi ia tidak tinggal di Pangkep lagi. Seperti dulunya. Konon katanya. Aku sering dengar dari Ettaku. Dahulu. Aku lahir dibantu oleh seorang Dukun beranak. Mamaku, Akhirnya bisa melahirkanku. Dan aku menjadi remaja seperti sekarang.

****

Ettaku mencari di bawah kasur. Kartu kesehatan gratis yang telah diurusnya Bulan lalu. Setelah di dapat kartu itu. Aku dan Etta membopong Mamaku  masuk ke dalam gerobak yang biasa kujadikan tempat menyimpan barang bekas.

“Maafkan aku Mak, kita cuma punya gerobak kodong”

Aku memeluk pundak Mama. Juga Ettaku demikian menuntutnya.  Naik ke atas. Mobil pete-pete. Sementara gerobakku kubiarkan saja terparkir di bawah pohon besar. Depan kampus.

****

Aku bertekad untuk membawahnya. ke Rumah Sakit. Karena Ettaku sudah punya kartu kesehatan gratis. Artinya tak butuh biaya mahal pastinya. Agar Mamaku bisa melahirkan Adikku.

Sampainya di Rumah Sakit. Mamaku yang perutnya sudah membuncah. Meliuk-liuk.  Bergoyang. Tak bisa ditahan lagi. Rasa sakit pada janinnya. Aku dan Ettaku masih dipontang-panting mengurus berkas. Di sana-sini.

“Apa tidak ada cara dan jalan yang cepat” Aku bertanya pada penjaga pintu, Rumah Sakit itu

“Tidak ada dek. Tidak ada Pak. Memang berat dan susah untuk mengurus program kesehatan gratis” Begitu petugas menyanggah-ku.

Setelah semua persyaratan administrasi.  Selesai kuurus. Lari ke Barat-lalu ke Timur. Terus berkali-kali. Mencoba dan mencoba. Aku dibuat pusing hanya untuk pelayanan gratis buat Mamaku.

Namun inilah pengorbanan seorang Anakmu Mak. Radiman. Mamaku yang kusayang selalu.

Aku melihat Mama. Cepat.  Keretanya didorong.  Masuk ke ruangan tempat bersalin. Kulihat seorang Dokter dengan kacamata tebal. Bertanya-tanya pada Perawat. Aku menguping. Kudengar, tanya dokter itu

“Pake kartu kesehatan gratis ya..”

“Iya..Dok”

Lalu dokter itu. Tak mengecek sama sekali keadaan Mamaku yang sudah setengah mati menjerit. Hanya kusaksikan. Dokter koast yang membantu Mamaku untuk melahirkan cabang bayinya.

Kamar tempat Mamaku melahirkan kemudian di tutup. Terkunci rapat. Hingga aku dan Ettaku cuma duduk terdiam, Lama terduduk dikursi. Menunggu. Di  depan kamar itu.

****

Setengah Jam kemudian. Tak ada suara yang terdengar dari semua Dokter koast. Dari dalam mereka. Semuanya. Diam saja. Kuintip perlahan Mamaku. Mamaku jua tak bersuara seperti tadi. Hanya kulihat kain putih. Penutup pada semua. Badan Mamaku.

Lama sekali. Semua Dokter koast itu terdiam. Kemudian seorang Dokter koast menghibur dan memelukku erat. Berucap sedih. Duka lara. Ada rasa haru kepadaku

“Sabarki Dek, kami tak bisa menyelematkan Mamata”

‘Kalian semua jahat, membunuh Mamaku”

Kupaksa diri-ku. Melepaskan rangkulan Pemuda. Dokter koast itu, Pemuda yang berkulit putih. Sedikit juga. Agak berkulit kuning langsat.

Aku berlari kencang. Membuka dan membanting keras pintu Rumah Sakit. Meninggalkan Ettaku juga di sana.

Ettaku membiarkan semua kejadian itu. Aku memaki-maki Dokter koast. Ia sedari tadi, tetap duduk terdiam. Membisu. Tanpa menegur dan mengejarku. Saat aku meninggalkannya.

Di luar. Aku tertunduk lama. Terdiam. Menatap keramaian kendaraan lalu-lalang di jalan. Tepatnya di jalan lebar. Jalan raya. PK  KM 10. Depan Pintu II. Pada Sore ini. Saat hari menjelang senja. Menjelang malam. Mamaku telah tiada. Aku juga gagal punya seorang Adik. Tak ada program kesehatan gratis. Yang kulihat dan baru kusaksikan hanya program meninggal gratis. Program meninggal gratis buat Mama dan calon Adikku.

Nampaknya. Tuhan lebih pemurah pada Hamba-Nya. Ketimbang sang Gubernur yang menjanjikan kesehatan gratis. Saat Mamaku butuh pelayanan kesehatan. Malah kusaksian maut sesegera. Gratis menjemputnya.

Aku berusaha menghibur diriku. Tanpa Tetta menemaniku duduk sendiri di Trotoar Jalanan. Pintu II.

Adzan Maghrib berkumandang. Semua kendaraan terhenti. Semua kendaraan dipaksa berhenti oleh petugas Polisi Lalu Lintas.

Lima menit kemudian. Muncul semua. Gerombolan Pak Gubernur dan Pak Walikota mendayu sepeda. Acara sepeda santai menjelang Maghrib.

Lalu kulihat mereka dan diriku terus membatin. Melihat kendaraan sepeda yang ramai berjalan runtut

“Andai saja kudapat bertanya kepada mereka. Pengendara sepeda santai itu. Aku kepengen sekali bertanya kepadanya, Mana program kesehatan gratis yang pernah menempel di pamflet kampanye setiap sudut jalan ? Bukankah itu adalah janji-mu. “

Sekarang sudah terbukti. Mamaku meninggal dengan program gratismu. Namun aku tak punya daya dan kuasa.

Aku hanya seorang anak pemulung yang punya gerobak. Namun tak punya sepeda untuk santai. Aku seorang rakyat jelata. Punya gubuk. Namun tak punya rumah bertingkat. Seperti mereka. Mereka yang selalu menjanjikan program kesehatan gratis. Sebelum terpilih.

*Penulis adalah peneliti psycho-legal FH Unhas, dan

Penggiat Forum Lingkar Sastra Pondokan Tamalanrea

Pintu II – Sinjai/ Batuleppa. 4 Oktober 2011.

No HP: 085395768887

Damang S.H., M.H.

ALUMNI PPS HUKUM UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA MAKASSAR, PENULIS BUKU DIANTARANYA: ASAS DAN DASAR-DASAR ILMU HUKUM TERBITAN GENTA PUBLISHING (2017), CARUT-MARUT PILKADA SERENTAK 2015 TERBITAN PHILOSOPHIA PRESS MAKASSAR (2016), KUMPULAN CERPEN DALAM MENETAK SUNYI (2013).

You may also like...