Postrealitas & Imperium Sepak Bola

Perhelatan kejuaraan Sepak Bola Eropa UEFA 2012, atau lebih dikenal dengan Euro 2012 yang diselenggarakan di Polandia dan Ukraina mulai tanggal 8 Juni hingga 1 Juli 2012. Kini telah berjalan hingga perempat final. Dan sekarang menuju final. Ini adalah pertama kalinya bagi kedua negara (Polandia dan Ukraina) menyelenggarakan suatu turnamen besar.

Satu persatu team gugur untuk menuju mifinal. Team the panser oleh banyak kalangan diandalkan   akhirnya kandas di tangan Italia.

 

Tinggal hasil saja yang berbicara. Karena kadang prediksi meleset dari apa yang dianggap team tangguh. Berkaca pada juara Champion 2012 the blues yang tidak diperhitungkan sebelumnya. Apalagi di tangani hanya oleh care takersekelas Roberto de Matteo. Namun itulah sepak bola. Orang selalu mengatakan bola itu “bundar”. Banyak hal sulit, tak terduga akan terjadi di final. Tinggal tunggu momentum saja.

Ironi dan narasi besar sepak bola dalam tiap perhelatan yang dilustrasikan di atas. Entah itu Piala Dunia, Liga Eropa (Champion), priemership, Seri A, liga Primeer, Piala Euro. Sudah pasti menggiring jutaan ummat manusia. Dalam jagat raya raksasa nan luas. Kemudian menyempitkan teritorial ummat manusia. Semua penggemar sepak bola “rehat sejenak” melupakan persoalan pelik yang melandanya.

Bahkan negeri matador Spanyol, dan Yunani yang mengalami krisis finansial masih memberi “perhatian” besar terhadap timnas mereka. Sepak bola tetap sepak bola. Keadaan ekonomi Negara jangan mengganggu sehingga team kebanggaanya tidak “eksis” di mata dunia internasional.

Imperium Sepak  Bola

Sepak bola laksana raja diatas raja. Jika dulunya Yunani dan Romawi kuno memiliki imperium, kerajaan, dinasti. Dengan kekuasaan yang dimilikinya dalam negeri “tata kota” itu dapat menancapkan legacy terhadap penduduk dalam tata kotanya (polis).

Sepak bola ternyata memiliki aturan (ruleof the game ), sportifitas, kejujuran, lapang dada menerima kekalahan. Sepak bola ibarat Negara yang memiliki jutaan rakyat di seanteror dunia ini. Bukan hanya satu benua, namun semua orang “dipaksa” menyita waktunya. Merelakan matanya tidak terlelap di malam hari demi menyaksikan team dan bintang kesayangannya. Sepak bola benar-benar telah menjadi Negara yang memiliki kerajaan. Sebuah perhelatan menghegemoni jutaan ummat manusia.

Sepak bola kini telah menunjukan imperiumnya, memaksa orang melupakan persoalan pelit bangsanya. Dari persoalan korupsi, keterpurukan hukum, gonjang-ganjing partai. Anas Urbanigrum dan Abraham Samad di tengah tugasnya yang pelik. Nyatanya masih memilki waktu untuk “rehat” berbicara team kesayangannya. Semua orang jadi pengamat sepak bola. Semua orang menjadi pelatih sepak bola. Bahkan seolah menjadi pemain sepak bola, ketika seorang memasang “bursa taruhan”. Maka teriakannya seolah memaksa dirinya menjadi seorang striker, seorang penjaga gawang, seorang bek, seorang gelandang serang, seorang pemenang.

Gara-gara tontonan sepak bola. Individu, manusia, masyarakat dalam komonitas kolektif tergiring di lembah hasrat “absurditas”. Dalam ruang firtual, televisi menciptakan simulasi lapangan sepak bola. Seolah dengan ritual “nonton bareng” bagai menonton di lapangan elit, mewah. Teriakan histeris juga dilakonkan mirip dengan penonton yang hadir di sana. Inilah realitas yang menghipnotis jutaan manusia dalam ruang firtual. Demi memenuhi hasratnya. Hasrat yang banal.

Dalam situasi yang demikian manusia telah tercerabut dari alam realitasnya. Alam yang sesungguhnya. Manusia lebih mementingkan nonton sepak bola ketimbang pekerjaan kantornya. Banyak orang beralasan terlambat masuk kerja, terlambat masuk kantor karena begadang semalam suntuk, menunggu team andalanya. Banyak karyawan kantoran lupa makan pagi, langsung masuk kantor karena waktunya disita dengan tontonan sepak bola. Tontonan sepak bola jauh lebih diprioritaskan ketimbang kondisi tubuhnya yang butuh makan. Kebiasaan sarapan pagi disubtitusi dengan kebiasaan nonton sepak bola tiap malamnya.

Sepak bola telah menjamah tubuh manusia sehingga melupakan realitas. Menghipnotis dari rutinitas sehari-harinya. Karena menurut mereka realitas yang benar, ada (being) yang dipahami. Adalah kemenangan team andalannya. Jika teamnya menang ia mendapatkan kesenangan (jouissance) dan kebahagiaan puncak (ekstase).

Dengan realitas yang telah dilupakan ini. Realitas telah terlampaui melalui penggiringan citra (image) dalam ruang-ruang firtual. Suatu kondisi postrealitas yang melahirkan imperium sepak bola. Sehingga penggemar dibentuk oleh deteritorialisasi. Hampi semua para penggemar, para fans sepak bola lenyap dari territorial, terusir, tergusur, terjajah atau dengan kata lain melenyapkan diri dari territorial. Manusia dengan rela merantau, berimigrasi, atau ber-transmigrasi di alam sepak bola, yang dihadirkan oleh ruang firtual. Ruang yang menyimpan sejumlah komoditi,  kehausan hasrat, dan kebahagiaan banal.

Ekstasi Sepak Bola                                    

Sepak bola dapat memiliki imperium. Demikian halnya  dengan televisi yang telah menjadi layar raksasa. Telah menjadikan dunia realitas “sempit”. Arthur Kroker dan David Cook mengatakan bahwa sifat totalitas Televisi telah menjadikannya sebagai suatu bentuk kekuasaan  dalam suatu komonitas.

Seorang Sutradara bisa saja mengkopi realitas dan menciptakan teks, citra dalam setiap episode filmnya. Namun bertolak belakang dengan kondisi penonton, penggemar sepak bola. Bukan televisi yang menjadi cermin masyarakat,  melainkan masyarakatlah sebagai citra televisi. Citra-citra yang ditawarkan oleh televisi telah membentuk ketidaksadaran massal.

Telah terjadi pembentukan diri melalui televisi. Bayangkan setelah menonton team dan bintang kesayangan maka seorang akan memaksa diri menjadi seperti bintang andalanya. Yang lebih ganas lagi para penonton rela mengorbankan dirinya demi team/ negaranya. Dari lapangan hingga luar lapangan antar penonton team Rusia dan Ukraina rusuh. Meraka malah menciptakan konflik,  kekerasan, dan aksi saling menyerang. Seorang penonton rela mati karena sepak bola dan demi idola. Menunjukan sepak bola memiliki efek simulasi. Yakni efek Simulasi horror, simulasi kematian.

Di dalam tontonan sepak bola para penggemar yang dicari bukanlah makna, seperti ideologi, moral, mitologis, dan spiritual. Yang dicari penonton hanyalah ekstasi. Ekstasi sepak bola. Ekstasi dalam kedangkalan ritual/upacara menonton itu sendiri. Ekstasi sepak bola menggiring dalam suatu eksodus menuju suatu nihilisme, fatalitas kehidupan, kehampaan makna, fetisisme bintang, fetisisme gol. Bahkan hingga “fetisisme” seragam bola.

Damang S.H., M.H.

Owner negarahukum.com dan Penulis Buku "Carut Marut Pilkada Serentak 2015"

You may also like...