Psikologi Forensik & Ruang Lingkupnya

Pada awalnya psikologi di Indonesia mengenal lima bidang. Diantaranya psikologi perkembangan, industri, pendidikan, sosial dan klinis. Berbeda halnya dengan negara-negara maju seperti Amerika, Inggris dan Australia telah muncul bidang psikologi tersendiri lagi yaitu psikologi forensik.

Di Indonesia, Nanti kemudian psikologi forensik menjadi isu hangat, ramai diperbincangkan oleh banyak kalangan psikolog, ketika mencuat diawal tahun 2003 kasus Sumanto, yang menderita gangguan jiwa/ psikopat, dan  akhirnya ditempatkan dibangsal khusus penderita sakit jiwa, yakni bangsal sakura kelas III.

Pada tahun 2008 ilmu psikologi berperan kembali, berdasarkan hasil tes psikologi dan hasil pemeriksaan tim dokter jiwa Polda Jatim, bahwa Ryan mengalami gangguan kejiwaan psikopatis.

Pengertian forensik berasal dari bahasa yunani yaitu forensic yang bermakna debat atau perdebatan. Forensik adalah bidang ilmu pengetahuan yang digunakan untuk membantu proses penegakan keadilan melalui penerapan ilmu atau sains.

Xena (2007) mengatakan bahwa forensik adalah sebuah penerapan dari berbagai ilmu pengetahuan untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan yang penting untuk sebuah sistem hukum yang mana hal ini mungkin terkait dengan tindak pidana.

Senada dengan Wijaya (2009) juga mengemukakan pengertian forensik adalah ilmu apapun yang digunakan untuk tujuan hukum dengan tidak memihak bukti ilmiah untuk digunakan dalam pengadilan hukum dan dalam penyelidikan dan pengadilan pidana.

Ada beberapa disiplin ilmu yang memberikan wadah khusus pada bidang forensik dalam penegakan hukum antara lain ilmu fisika forensik, ilmu psikologi forensik, ilmu kedokteran forensik, ilmu taksiologi forensik, ilmu psikiatri forensik dan komputer forensik.

Brigham mendefenisikan psikologi forensik adalah sebagai aplikasi yang sangat beragama dari ilmu psikologi pada semua isu hukum atau aplikasi yang sempit dari psikologi klinis pada sistem hukum.

Dalam Webster’s New World Dictionary mendefenisikan psikologi forensik adalah sesuatu yang khas atau yang pas untuk peradilan hukum, perdebatan publik atau argumentasi formal yang menspesialkan diri atau ada hubungannya dengan aplikasi pengetahuan ilmiah, terutama pengetahuan medis pada masalah-masalah hukum, seperti pada investigasi pada suatu tindak kejahatan.

Sedangkan Rizky (2009) mendefensikan psikologi sebagai semua pekerjaan psikologi yang secara langsung membantu pengadilan, pihak-pihak yang terlibat dalam proses hukum, fasilitas kesehatan mental koreksional, forensik, dan badan-badan administratif, yudikatif dan legislatif yang bertindak dalam sebuah kapasitas yudisial.

Oleh kalangan para psikolog forensik mengatakan bahwa yang menjadi eksplorasi psikologi forensik dikelompokkan menjadi empat bagian diantaranya:

  1. Psychology of criminal conduct, psychology of criminal behaviour, psychological study of crime, criminal psychology.
  2. Forensic clinical psychology, correctional psychology, assesmnet dan penanganan atau rehabilitasi prilaku yang tidak diinginkan secara sosial.
  3. Mempelajarai tentang metode atau tekhnik yang digunakan oleh badan kepolisian antara lain police psychology, behavioural science, and investigative psychology.
  4. Bidang psychology and law terutama difokuskan pada proses persidangan hukum dan sikap serta keyakinan partisipannya.

Menurut Andreas Kapardis dengan mengutip pendapat Blackburn (1995) mengemukakan forensic psychology atau psychology in the court it should only be used to denote the direct provision of psychological information to the court, that is, to psychology in the court.

Daniel Martel dalam JURNAL LAW AND HUMAN BEHAVIOUR yang berjudul “FORENSIC NEOROPSYCHOLOGY AND THE CRIMINAL LAW” Juga mengemukakan ….. the nature of forensic psychological evaluation is discussed with reference to issue of competency to study trial, criminal responsibility, and other competencies in the criminal process. Examples of specific disorders relevant to criminal law standard are presented together with data estimating he prevalence of brain dysfunction in criminal and forensic population. Research is also reviewed on the rule of neuropsychological brain dysfunction in the etiology of violence and criminally relevant behavior. Finally, empirical and ethical issues concerning the applicability of forensic neoropshychological data in the criminal context are discussed.

Damang, S.H.

Penulis lahir di Sinjai 25 Juli 1986, dengan nama pena Damang Averroes Al-Khawarizmi, Pernah Kuliah Di FH UNHAS (saksi 2004) anak dari seorang Ibu yang single parent, anak ketiga dari empat bersaudara, saat ini pekerjaan kesehariannya hanya menulis, dan mengirim artikel ke beberapa harian Fajar, Tribun Timur (Makassar), dan Gorontalo Post, dan Beberapa Cerpennya juga sering dimuat diharian Lokal, Pernah menjadi Tenaga Pengajar di Unisan Gorontalo, Penulis juga adalah pemilik utama (Co-Ownerr) negarahukum.com. Beberapa Tulisannya juga dapat dijumpai di alamat ini (damang.web.id/, dmgsastra.multiply.com, damang.webs.com). Penulis sering juga Membawa materi seminar di Beberapa Perguruan Tinggi di Makassar

You may also like...

Loading Facebook Comments ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>