Reinkarnasi cinta Hamida di Kampung Sinjai

Kutinggalkan Makassar dalam suasana pribadi duka. Meninggalkan Hamida yang belum berakhir pestanya. Di Al-Markas. Semua itu, terjadi karena sesungguhnya aku memang mengakui. Diriku manusia yang selalu terhanyut lemah. Di atas mobil panther hanya rasa duka yang terus berbicara.

Andai Ia tertuliskan dan terbacakan. Mungkin kenangan itu. Tak akan pernah berkesudahan.

Aku tak pernah mengerti takdir yang digariskan oleh Tuhan bagiku. Setiap kali aku didera duka. Langit selalu mengerti duka-haru tangis batinku. Langit selalu menumpahkan bulir air matanya. Hidup ini terasa. Telah menjadi senyawa dengan alam. Mungkin saja. karena tak ada seorang-pun yang mau ikut berduka. Terharu dan menangis bersama-ku.

Mana mungkin ada orang yang mengerti dengan kondisiku ! Aku tak pernah membagi semua rasa sesal dan mirisnya hati. Atas semua laku perbuatan yang menyebabkan. kadang kumesti berduka. Sepanjang umurku.

Aku selalu menahan tangis dalam bulir air mata yang tak pernah kelelahan mengobati semua rasa sakit hati. Sepertinya. Akan kubawah bertahun-tahun lamanya. Hamida yang telah kusaksikan meneteskan juga air mata. Tak mungkin aku menghibur dan hadir di dekatnya tuk mendengar seluruh curahan hatinya. Pada perayaan suci, yang baru saja aku tinggalkan. Di mesjid almarkas.

Dalam perjalanan pulang. Ke kota Sinjai. Kondisi perjalanan ! kota apa yang sedang kulalui ? tak ada yang tercatat, dalam memori kenangan. Semua jalanan dan orang yang kulihat. Layaknya adalah wajah Hamida.

Aku bagai didera kegilaan. Hanya dengan ingin mengobati rasa penyesalan dan duka. Namun kuselalu memaksa diri. Menatap semua orang, yang ada di depan mataku. Apalagi kalau mengenakan. Mukena warna biru langit. Aku selalu tak sadarkan diri. Terpaku dan terpukau pada hasrat fisik dan jiwaku,

“Dia pasti Hamida.” Aku selalu bergumam demikian.

Aku ingin melihat sebentar saja. Padahal setelah aku tersadarkan.

“Ah…bukan dia. Tuhanku. Mengapa engkau membuatku linglung dalam kondisi begini ?”

Jujur. Aku tak mau gila. Hanya dengan mengikuti kehendak perasaanku. Aku tak mau jadi majnun seperti Qais. Dalam  menahan semua beban tembok cintanya pada Laila. Aku juga tak mungkin mengakhiri hidupku seperti Romeo dan Juliet yang mati bersama. Hanya demi cinta mereka.

Izinkan aku Tuhan. Berbagi cinta. Haru dan duka saja. Bersama-Mu.

Aku yakin. Mencintai seseorang. Memang pada akhirnya semua akan berpisah. Aku mencintai diri-Mu. Tuhan-Ku. Aku tak bisa memiliki-Mu. Tetapi semakin ada orang. Ada hamba yang teramat cinta kepada-Mu. Ia selalu rindu akan ketemu dengan-Mu.

Tuhan telah memaksa diriku. Untuk mencintai seseorang dalam kefanaan dan kenihilan. Seperti saja ada orang yang membeban rindu untuk-Nya. Apakah identik perasaan seorang hamba mencintai Tuhan-Nya ? ketika Ia tidak pernah ketemu dengan Tuhan itu, lalu terus merindu.

Lalu. Ketika aku ingin membagi rasa sayang dan cintaku. Buat Hamida saja di dunia. Aku tak mampu seperti orang kebanyakan. Selalu saja aku dipaksa tak bisa memilikinya.

Semenjak dulu. Ketika aku masih kuliah. Aku selalu ganjil dan merasa sangat tidak enak. Asing berjalan berdampingan dengan seorang kekasih. Berjalan dengan seorang perempuan berkerudung biru langit. Perasaanku terus saja berkecamuk. Antara mengikuti ideologi HMI dan keyakinanku. Ataukah pasrah saja pada keadaan dan perasaanku.

Tuhanku.  Rasa apa yang engkau timpakan sebenarnya kepadaku ini ? sekian lama. Aku belum mengerti.  Diriku ini yang sesungguhnya. Hingga sekarang di dalam mobil panther inipun. Ada apa dengan perasaan yang kadang memperbudak-ku ? Sekian tahun. Makanya kadang aku protes kepada Tuhan. mengapa aku memiliki perasaan ? perasaan yang selalu membuatku saja berduka dan menderita berkepanjangan.

Perjalanan dari kota cinta mati. Kota Makassar. Kota di mana aku telah membunuh semua hasrat cinta dan sayangku untuk Hamida. Hujan masih saja mengguyur sepanjang perjalanan dari tiap kabupaten.

Sepanjang perjalanan dari setiap kabupaten itu. Baru pertama kalinya. Seumur hidupku. Aku pulang kampung. Keadaan hujan seperti ini. Aku tak tahu kondisi demikian terjadi.

Laksana  teriakan duka relung hati. Hujan semakin menderas jalanan aspal dan memantik kerikil pengobat rindu pada kasih cinta yang masih terpaut. Dalam pahatan hati yang terluka. Lekas tak mau pergi. Angin berhembus kencang mengikuti deru kecepatan mobil panther yang kutumpangi. Desir ombak sepanjang perjalanan menjadi pengobat duka derita

kubaringkan kepalaku. Kesandaran kursi mobil. Melepas kepenatan duka. Mencoba dan terus mencoba. Taktik apapun. Setidaknya bisa kulupakan wajah Hamida. Entahlah. Mengapa nama itu tak mau pergi dari memoriku ? Iwan dan Hamida. Padahal ia sudah menikah dengan orang yang lebih sempurna. Dibanding diriku ini.

Perjalanan pulang dari jalan pulang pernikahan. Di sebuah kota kematian. Aku ingin membunuh cinta dan hasrat matiku. Pada wajah dan segala kebaikan Hamidah di masa lalu. Cinta mati bagiku. Bukan mencintai Hamida sepanjang hayat-ku. Namun cinta mati adalah rasa cinta berkepanjangan, harus aku bunuh selamanya. Kemanapun aku menderap langkah. Kutak ingin berduka hanya karena memori memaksa tuk selalu mengenangnya. Sepanjang masa.

Ibu. Saudara. Kakak. Adik dan kakak iparku. Telah lama menanti kedatanganku.  Di  kampung Sinjai. Aku turun bergegas cepat dari mobil panther yang sedari tadi. Aku hendak. Ingin sekali tiba di rumahku.

Demikian lama. Berbulan-bulan. Tak pernah menyaksikan wajah kemayu lelah Ibuku.

Kakakku yang kemarian telah menikah. Jua kutak sempat hadir di pesta pernikahannya. Hanya karena sibuk dengan urusan akademik. Agar dapat, cepat meraih gelar sarjana.

Kupeluk erat sedemikian lama Ibuku. Melepas rasa kangen dan rindu. Untuknya. Hatiku membuai…

“Ibu…ku yang kusayang.  Aku amat sedih sekarang. Wanita yang kuharap akan menjadi menantumu kelak.  Ternyata.  Aku tak dapat menggapai harapan dan impianku. Untuk menghadirkan keluarga yang telah lama engkau dambakan”

Hatiku teriris bagai luka sembilu. Menahan tetes airnya mata yang  terus saja berkaca-kaca. Kulepas pelukan hangat Ibuku.

Dari kakakku yang telah punya seorang boca mungil. Dulu.  Hanya pernah kudengar kabar dari kakak yang menelphoneku setelah kakak iparku melahirkan. Ia telah punya momongan. Ainur Rofiqa.

Kini kutatap benar-benar Ia hadir di hadapanku. Ia telah berumur dua tahun. Aku tak habis pikir. Betapa wajah kemanakanku ! sulit kulepaskan. Dari paras mukanya yang mirip dengan wajah Hamida. Benar-benar mirip dengan wanita yang pernah kusayang dan kucintai. Ruah rasa cinta itu kini berinkarnasi dalam wajah seorang kemanakan.

Kuraih badan mungil kemanakanku. Dalam gendongan. Aku cium pipi centilnya. Berkali-kali. Hingga ia bertanya-tanya

“Ohhm Iwan, kenapa baru datang….Ohm”

Kutak menjawab Tanya kemanakanku, masih terheran-heran. Karena aku betul-betul dihadirkan. Wajah seorang Hamida yang bereinkarnasi dalam wajah seorang kemanakan. Aku memang tak sanggup menikahimu. Hamida. Tapi Tuhan selalu mengobati dan membalas rasa cinta dan dukaku. Dengan orang yang kini hadir. Di tengah-tengah keluarga kami.

Hamida telah menjawab Tanya pilu hatiku dengan reinkarnasi cintanya. Atas nama reinkarnasi cinta di kampung Sinjai.

 

Makassar_sinjai Agustus 2009

* penulis adalah peneliti psycho-legal FH-Unhas dan penulis fiksi pada forum lingkar sastra pondokan Tamalanrea.

Damang S.H., M.H.

Owner negarahukum.com dan Penulis Buku "Carut Marut Pilkada Serentak 2015"

You may also like...