Samudera Spiritual Ramadhan

Di sebuah negeri, masih merupakan sumber epic kisah seribu satu malam. Seorang sufi asal Persia bernama Malik Bin Dinar. Meninggalkan kisah yang epic pula sebagai bentuk pertobatan yang sesungguhnya kepada Allah SWT. Dengan harapan agar dirinya diangkat sebagai Takmir Mesjid agung di Sebuah Kota Damaskus. Akhirnya Malik mengabdikan hidupnya untuk mesjid itu, disebuah pojok mesjid, setiap malam ia membentangkan sajadah, dan menunaikan shalat. Agar setiap orang yang melihatnya seolah-olah terbuai dengan kekhusyukannya Malik Bin Dinar. Setahun berlalu nampaknya benar, Malik diangkat menjadi takmir mesjid. Namun naas ketika malam dating, Malik meninggalkan mesjid tersebut, pergi bersenang-senang. Di selah waktu senggangnya ia menikmati semua kedudukan yang telah ia dapatkan, sembari bermain kecapi, tiba-tiba kecapi yang dia mainkan seolah berkata atas dirinya “Malik mengapa engkau bula juga bertaubat”. Dilemparnya kecapi itu, lalu ia bergegas ke Mesjid.

Di Mesjid, ia rupanya sadar, selama ini dirinya menunaikan ibadah semata hanya untuk kedudukan. Fajar budinya berkata “betapa hinanya diriku Ya Allah sekian tahun aku beribadah ternyata aku hanya beribadah untuk sebuah kedudukan” Pada malam itu untuk pertama kalinya Malik benar-benar shalat dengan khusyuk dan Ikhlas semata-semata kepada Allah SWT.

Sumber; tribunnews.com

Sumber; tribunnews.com

Ujian bagi Malik, tidak berhenti di situ rupanya. Esok paginya orang banyak berkumpul di Mesjid, dan melihat tembok mesjid banyak yang retak. Semua orang pada berunding sambil menunggu Malik selesai Shalat, mereka pada sepakat jika Malik menjadi Pengawas untuk merenovasi mesjid itu. Saat Malik selesai menunaikan shalat, semua orang menunjuknya agar sudilah kiranya beliau menerima tawaran tersebut. Ujian untuk benar-benar bertobat dan melaksanakan ibadah demi keridhoan-Nya kini menantang lagi bagi Malik.

Dalam hati Malik berdoa kepada Allah “setahun penuh aku menyembah-Mu secara munafik dan tak seorang pun yang memandangku. Kini, setelah kuserahkan jiwaku pada-Mu dan bertekad tak akan menerima jabatan itu, Engkau menyuruh banyak orang menghadapku mengalungkan tugas itu ke leherku. Demi kebesaran-Mu, aku tak menginginkan pengangkatan atas diriku. (Yudi Latif: 2010)”

Kisah ini medeskripsikan bahwa sebuah ibadah yang kita tunaikan memancarkan rasa kepercayaan kepada manusia sekitar. Persoalannya sekarang, berapa banyak diantara kita beribadah hanya untuk diri kita sendiri, berpuasa untuk sebuah ritual tahunan saja, menyantuni anak yatim untuk menaikkan popularitas, memberi sumbangan mesjid agar terpilih menjadi seorang Kepala daerah/ anggota legislatif dan segala macamnya, berzakat untuk menutupi korupsi, berhaji demi gengsi.

Kita telah gagal memaknai dan menangkap pesan keilahian yang telah dimandatkan oleh Allah kepada rasulnya Nabiullah Muhammad SAW. Beribadah hanya untuk melanggengkan kekuasaan dan kesenangan dunia saja, tanpa kepentingan ukhrawinya lagi.

Samudera

Memaknai Bulan suci ramadhan ibarat mengarungi samudera lautan yang bebas nan luas. Saat di tengah lautan, tak ada ujung pangkal, hanya kemampuan memaknai alam raya beserta segala isinya. Dalam keadaan merenungi alam raya, itulah maksud Tuhan mengirim ibadah bulan suci, agar bersyukur apa yang dilimpahkan kepada kita.

Bukankah juga sering didendangkan oleh para Mubaligh, meski seluruh air dilautan menjadi tinta dan dahan pepohonan menjadi penanya. Tidak akan mampu menandingi segala nikmat Allah yang dikaruniakan-Nya. Berpuasa mestinya dimaknai bukan sekedar memiliki tetapi juga harus menjadi manusia yang dilimpahi kelebihan dibandingkan dengan makhluk-makhluk lainnya.

Alam raya saja, seluruh planet mengelilingi Matahari merupakan bentuk tafaqur benda alam raya itu kepada sang pencipta. Tetumbuhan yang dihidupkan oleh-Nya pula, jika kita sadar diri saat musim kemarau saban datang waktunya, tetumbuhan dan hutan belantara kering tidak pernah protes kepada Tuhan, mengapa musim hujan belum juga tiba. Alam raya dan segala isinya sadar, sesadar-sadarnya sedang menunaikan segala amanah yang telah dilimpahkan kepadanya.

Manusia saja, mesti Malaikat sudah memperingati Tuhan, agar tidak menciptakan manusia, karena akan melahirkan pertumpahan darah di muka bumi. Sudah diberi kelebihan melebihi alam raya. Tapi tidak sadar juga dengan kebesaran dan keagungan Tuhan. Lakon ibadah diputarbalikan untuk mendapat peluang kuasa di dunia. Seolah-oleh beriman, rajin beribadah, agar tampilan luarnya dipuja oleh banyak orang. Hingga masa penentuan siapa yang akan menjadi calon legislatif, calon bupati, calon gubernur tiba saatnya menjual tampang iman.

Dengan daya tipu  keimanannya menghipnotis rakyat kalau “dirinya” tidak mungkin akan berlaku korupsi dan aniaya terhadap rakyat, karena sedari awal “takut” pada ajaran, perintah dan larangan Tuhan.

Sejatinya, ketulusan seorang beribadah hanya ditentukan oleh dirinya sendiri, sebagaimana kisah Malik di atas, boleh jadi dengan tampang iman, seolah-olah tawadhu tapi semua yang dilakukan itu, tak ayal agar mendapat insentif kepercayaan teleologis dari orang-orang yang melihat ibadahnya.

Karena itu, datangnya bulan suci ramadhan, menguak kisah pengembaraan manusia sungguh-sungguh menjalani samudera ketuhanan, imannya diuji, nafsu makan-minum, seks semua dibatasi untuk melatih agar ibadahnya bukan hanya untuk dirinya di dunia. Lebih dari itu kejujuran kepada pencipta melaksanakan puasa secara bersungguh-sungguh. Sehingga jika dipercaya oleh rakyat menjadi pemimpin, lebih takut kepada Tuhan yang maha Agung dari pada rakyat. Dengan sikap demikian sudah pasti korupsi mustahil terjadi.

Misteri

Memasuki bulan ramadhan kita diajarkan menyingkap misteri Ilahi yang dimaksud, sehingga diperintahkan berpuasa agar bertaqwa (Al-Baqarah: 183). Karena dengan taqwalah menjadi pembeda derajat manusia, bukan pada posisi jabatanya di dunia. Melalui bulan suci ramadhan, semua hanyut dalam napak tilas orang sebelum kita yang dianjurkan berpuasa, sebagai anak cucu Ibrahim tidak ada lagi yang membeda-bedakan ibadahnya, semua penduduk muslim senateror dunia. Mereka pada dipersatukan, melantunkan kekhusyukan semata kepada Allah, yang maha melihat segala isi dunia dan ciptaan-Nya.Misteri ilahi yang ditampakan melalui bulan sucinya. Adalah dengan membuka tabir-tabir kebohongan untuk mempertemukan rasa khidmat kepada Allah dan kepada sesama manusia.

Selubung simbol perbedaan harus dilepas untuk mencapai kesucian dan mengakui sunatullah inti keberagamaan itu sendiri. Berpuasa bukan hanya sekedar mengenal pelana tetapi juga harus mengenali kudanya. Apa yang sejatinya menuntut kita ditempat tujuan. Dengan membuka selubung misteri Ilahi, puasa seyogianya akan mengubah perilaku kita secara mendalam, nilai puasa mesti menapak ke bumi menjadi rahmat bagi alam dan sesama. Marhaban, ya Ramadhan!

Damang Averroes Al-Khawarizmi

Mahasiswa PPs Hukum UMI

You may also like...