Sanjung Aku di Pantai Anjungan (mengenang dua tahun kepergian Hamida)

Aku sudah demikian lama terpenjara. Hingga tak seorangpun berhasrat datang mengantarkan air pelepas dahaga jiwa. Sengaja rasa haru duka yang menahan rindu bertahun-tahun dari seorang yang pernah memahat namanya di relung hati yang terdalam, tak berani menggantinya dengan nama yang lain. Seorangpun. Sudah nalurinya memang Tuhan menjadikannya dia adalah cinta matiku. Cinta matiku selamanya.

Aku tak mengerti Hamida, setelah engkau berkali-kali telah berjuang tuk melupakan aku, demikian halnya aku. jiwamu yang selalu menjerit menuturkan namaku. Ingin membuang semua kenangan dan masa lalu untukmu. Tapi semua kembali merekah ruang dan waktu masa lalu itu agar tetap hadir untuk kita berdua.

Kenapa api cinta itu semakin membara ? Tak pernah lekas padam. Padahal tekad dan komitman kita sudah berkali-kali memadamkannya. Sudah berapa tetes air mata yang kita uraikan, tuk menyiram api cinta itu agar padam. Tapi sampai sekarangpun. Ia tak mau padam.

“Sayangku, andai saja aku mati. Mungkin saja itu cara terbaik memadamkan semua api cinta yang selalu kau nyatakan, susah  dan terlalu amat berat kau memaksa dirimu melupakanku.”

Maafkan aku sayangku. Hamida. Jujur pun yang selalu kukatakan aku sudah, sedemikian ikhlas, membiarkan semua takdir Tuhan itu berjalan. Hanya sebatas tutur mulut. Mulut yang ukurannya sekecil dari otak dan  jiwa. Dan tak sebanyak jumlah mata, telinga dan organ tubuh lainya, malah ia selalu berkata bohong.

“aku sudah melupakanmu sayangku.”

Delapan tahun yang lalu. Kau dan aku pertama kali mengunjungi sebuah daerah yang pernah menjadi ibu kota Sulawesi Selatan. Sejak dahulu. Somba Opu. Di tempat itu semua Rumah Adat khas Sulsel, ada di sana. Aku selalu ingat ungkapan pemaksaanmu.

Memaksaku mengunjungi ulang tempat itu, hanya untuk menemanimu. Kau selalu mengatakan bahwa tempat itu paling unik diantara semua tempat yang pernah kita kunjungi. Pantai losari tak ada apa-apanya, karena airnya sudah keruh. air yang keruh hanya akan mempekeruh suasana hati kita.

“Engkau benar sayangku, Hamida”

“Aku juga tak suka pantai yang keruh, aku suka pantai yang kebiru-biruan seperti Pantai Bira yang pernah jua kita kunjungi di Bulukumba, di kampung Pinisi itu.”

Kompleks perumahan adat setiap Kabupaten, di Somba Opu, seakan menjadi pemendam sekaligus pengobat duka kami berdua. Jika pada hakikatnya ada klimaks rindu dengan kampung kami berdua.

Setelah kami mengitari seluruh kompleks perumahan adat, mengecek semua ragam dan rupa perumahan adat di sana. Maka Hamida memintaku untuk mengantarnya naik di pematang, pinggiran Sungai Jenneberang. Menatap deras air, melihat anak-anak hingga orang tua berlomba-lomba memancing di tempat itu.

Aku sering biarkan Hamida menikmati natural gemeresik jatuhnya air pada batang bendungan. Serasa Hantu menakutkan bagiku, namun bagi Hamida peristiwa jatuhnya air bah itu cukup ia nikmati. Aku tak terbiasa melihat air bah jatuh yang demikian  lama dalam tatapan, aku trauma dengan seorang teman kecilku yang pernah hanyut dengan air sederas itu.

Namun semua trauma itu pergi, karena rasa bahagia menemani seorang kekasih yang tak hentinya tersenyum. Menatap deras air  Sungai Jenneberang.

“Sayangku, keindahan air bah ini tak seberapa bagiku. Aku lebih suka memandang seorang Nelayan yang membawa perahu dan mendayung sampannya, hingga terik matahari yang kemerahan menenggelamkan jauh pandangan kita darinya.”

Memang dari pandangan kejauhan Sungai Jeneberang. Tepatnya saat para nelayan mendayung perahunya melintasi terowongan jembatan Anjungan. Layak dikatakan pemandangan yang eksotik. Sekaligus bagiku adalah pengalaman eksoterik. Ketika seorang Nelayan membeban tugas sebagai ayah, mencari rezeki buat sanak keluarganya. Sebuah pertaruhan hidup dan mati. Beberapa hari di laut. Akankah esok lusa, mereka kembali melintasi terowongan jembatan itu saat anak-anak dan Isterinya sudah menunggunya dari kejauhan. Meneriakinya.  Melambaikan tangan untuk ayah yang membawa kehidupan untuknya.

Hari ini. Aku. Sayangku. Telah kembali memenuhi janjimu. Hadir di tepi Sungai Jenneberang. Tapi aku tak berani lagi bertandang di tempat ini bersamamu. Karena aku sulit melupakan segala kenangan wajah dan fisikmu. Jika hal itu terjadi.

Aku hadir lagi di tempat ini. Itu karena aku, cuma tak mau termakan sumpah olehmu.

“Dahulu engkau, kepengen sekali kesini. Mengulangi kunjunganmu”

Mungkin saja, untuk mengobati hatiku yang terluka. Setelah segala cara sudah kutempuh untuk melupakanmu. Aku khawatir mungkin gara-gara tempat ini aku masih tak dapat melupakanmu. Karena sejak dulu, kau selalu memaksaku, agar aku mau lagi menemanimu ke tempat ini.

Biarlah hatimu dan hatiku menyatu dalam jiwaku. Karena segala kenangan itu kurajut dalam masa depan menyatukan jiwa kita. Engkau hadir dalam fisik-raga anganku, yang  memandang alam raya. Menatap kembali derasnya gemerisik Sungai Jeneberang. Di sini. Aku kembali  dicubit angin sepoi merayu, hingga kubayangkan peristiwa angin senja-kala yang pernah mengibas mukena-mu. Menciutkan nyaliku untuk terus memandang ke dua  lesung pipi yang dibungkus oleh mukenamu.

“Sayangku Hamida”

Kini aku datang memenuhi janji. Mengunjungi kembali Sungai Jenneberang, Semoga saja. Kelak kau akan bermimpi kembali bersamaku di tempat ini. Supaya aku tak termakan sumpah, yang pernah menjanjikan diri. Kita akan kesini lagi. Namun tidak jadi, karena semua engkau akhiri dengan pernikahan, bukan dengan diriku.

* * * * *

Sesaat kemudian. Adzan Maghrib melarutkan sore hari menjadi malam. Aku masih berada di tepi Sungai Jeneberang.

Aku berbuka puasa sendiri. Sambil melihat para nelayan berlomba cepat mendayu perahunya, menepi ke daratan. Aku tahu, mereka juga pasti berburu, kepengen berbuka puasa, agar dapat bersama anak dan istrinya. Dari kejauhan mereka meninggalkan terik kemerahan matahari tenggelam.

Di bawah terowongan jembatan Anjungan. Ia berlomba mendayu perahu. Kuteguk air minum tuk  melepas dahaga, sambil menatap mereka. Rasanya amat bahagia diriku. Ketika air minum botol  yang kuteguk membasahi tenggorokanku.

Semoga dahaga kebahagiaan ini melepaskan aku dari penjara cintanya Hamida yang tak pernah lagi bersamaku hingga sekarang. Ia telah berlalu dalam kenangan. Bukan dalam masa kini juga bukan masa depan. Burung Belibis beterbangan menjauh dari Sungai Jenneberang. Berlomba pergi menjauh dari malam yang akan larut. Melanglang buana, tinggi di bayang-bayang kemerah-merahan langit, di atas desir ombak Pantai Anjungan.

Dari kejauhan, di tepi Sungai Jenneberang. Aku memandang jauh ke laut. Sekali ombak mendesik, aku pergi setelah memenuhi sumpahku untuk datang berkunjung, ke dua kalinya di Sungai Jenneberang. Semoga kunjungan ke Sungai Jeneberang dan Pantai Anjungan. Aku benar-benar melupakan Hamida.

Hamida. Sayangku. Sanjunglah aku di Pantai Anjungan. Sucikanlah hatiku dari namamu dengan jenne dari air permata cinta suci pada deras dan gemerisik Sungai Jenneberang. Karena aku sudah berani dan selalu berusaha  melupakanmu. Setelah melintas di jembatan Anjungan, akankan aku bersedia suatu waktu lagi datang  memenuhi janji. Hanya untuk-mu. Karena aku mau melupakan-mu. Selamanya.

 

Menjelang Buka Puasa, 5 Agustus 2011

Somba Opu _ Pantai Anjungan

 

Damang S.H., M.H.

ALUMNI PPS HUKUM UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA MAKASSAR, PENULIS BUKU DIANTARANYA: ASAS DAN DASAR-DASAR ILMU HUKUM TERBITAN GENTA PUBLISHING (2017), CARUT-MARUT PILKADA SERENTAK 2015 TERBITAN PHILOSOPHIA PRESS MAKASSAR (2016), KUMPULAN CERPEN DALAM MENETAK SUNYI (2013).

You may also like...