Ubah Pola Pikir Berantas Korupsi

Sudah beratus-ratus hasil penelitian, dari skripsi, tesis, hingga disertasi bahkan buku boleh dikata sudah bertumpuk di perpustakaan menyoal pemberantasan korupsi. Tidak terkecuali artikel yang membahas polemik pemberantasan korupsi yang mengisi harian media massa, media elektronik, dan media cetak, kita disuguhi tiap hari. Namun alam realitas lebih benar bercerita, kalau sejatinya indeks perilaku korupsi hingga yang dicokok oleh komisi anti rasuah makin meningkat jumlahnya. Dalam bahasa sederhana, teori korupsi dapat dikatakan; semakin meningkat jalan terjal pencegahan korupsi semakin meningkat pula angka perilaku korupsi di tanah air.

101231bsiluet-korupsi

Sumber: news.liputan6.com

Apa penyebabnya? Menurut hemat penulis, mencegah dan memberantas perilaku korupsi sebagai kejahatan angkara murka, cukup sederhana, yakni dengan mengubah pola pikir kita. Pola pikir adalah cara memandang, memberikan apresiasi terhadap apa yang hadir di hadapan kita. Misalnya, bagaimana cara kita memandang dan memberi penghargaan terhadap pemimpin, Kepala Daerah, Bupati, Wali Kota, Gubernur, dan Presiden. Tentu dengan melihat kinerja kepemimpinannya dan sejauhmana meningkatkan kesejahteraan rakyatnya.

Pola Pikir

Tapi berbeda dengan cara kita memandang korupsi. Saya kira, di sini ada hal yang timpang, janggal dari cara menerapkan pola pikir. Di satu sisi, kita sangat membenci korupsi, bahkan dikatakan sebagai musuh bersama, kejahatan luar biasa. Di sisi lain, justru kita sangat senang dengan kemewahan, kekayaan, dan segala hal yang dapat ditakar dengan materi. Di sanalah tempatnya kita rata-rata memuja dan membiarkan niatan korupsi tetap tumbuh subur bak cendawan di musim hujan.

Bukan hal yang lumrah, di lingkungan manapun, di desa, di perkotaan, bahkan di kalangan dunia pendidikan (sekolah & kampus) siapa yang kaya raya, punya mobil mewah, maka semua orang berlomba-lomba memberi tanda hormat, bahwa inilah sebuah keberhasilan, puncak kesuksesan dalam menitih apa yang disebut karir.

Di area pedesaan, siapa yang kaya raya, pasti di daerah itu tidak satupun orang yang tidak mengenalnya, semua orang pada mengelu-elukan namanya. Dia memiliki rumah bertingkat, mobil banyak berbaris di ruang parkirnya, semua pedagang eceran dialah yang memberinya modal dalam berdagang.

Ironisnya, ruang akademik pun turut ambil bagian, sebagai ruang tempat menimbah ilmu, segala penelitian untuk kepentingan dan mengabdi pada masyarakat adalah muaranya dari tempat itu. Lalu di sana malah para “pejuang pendidikan” berlomba-lomba dalam kemewahan. Kalau dulunya di lingkungan sekolah dan kampus kita hanya bisa menyaksikan kendaraan motor yang terparkir, tidak sedikit bahkan para pendidik hanya menumpang di kendaraan umum (pete-pete) jika hendak ke sekolah/ kampus. Kini yang terjadi, lahan parkirnya sudah tidak bisa menampung jumlah mobil mewah para Guru dan Dosen yang sedang menjadi “abdi negara”. Tidak sampai di situ, siswa dan mahasiswa turut ambil bagian, berebut kemewahan, juga mengendarai mobil mewah milik orang tuanya, agar terpandang sebagai orang berada. Cerita lepas yang mengguyon antara pendidik dan yang dididik bukan lagi materi pelajaran, materi kuliah, apalagi isu nasional,  tetapi berapa harga mobilnya, ke mana sebentar malam merayakan pesta: apakah di warkop? Apakah di tempat karoke?

Inilah pangkal segala penyebab dari cara kita semua, salah dalam memaknai kebiasaan hidup, salah dalam menerapkan pola pikir kita. Jika dipandang sepintas lalu, memang seolah-oleh tidak ada yang salah, apa salahnya dengan kekayaan, apa salahnya memiliki banyak jumlah mobil mewah? apa salahnya punya rumah bertingkat di mana-mana?  apa salahnya punya simpanan yang banyak di Bank? Salahnya adalah karena dari situlah segala prestise bisa diukur. Bahwa seorang bisa punya nama, terpandang,  dihargai kalau sudah memiliki segalanya. Bahkan tidak cukup, ada banyak orang yang akan mendekat kepada anda, menjadi “budak” yang gampang diperintah kalau sedianya anda sudah memiliki segalanya. Sedikit saja anda membantu mereka, jangan heran jika lembaran rupiah akan disodorkan kepada anda.

Karena dari prestise tersebutlah, mimpi untuk dihargai oleh siapapun. Mimpi, harapan, dan cita-cita untuk disebut namanya kapan saja. Hingga mimpi untuk menjadi anggota legislatif bukan perkara sulit. Namanya sudah dikenal sebagai orang kaya, plus segala harta kekayaannya yang dapat dibagi-bagi untuk pemilih, semua akan lebih dari cukup meningkatkan dan melanggengkan prestisenya.

Jangan heran pula, kalau semua orang yang punya kesempatan dalam ranah kekuasaan, akan berlomba-lomba mengejar harta dan kekayaan. Banyak pejabat sudah lupa kalau apa yang diperbuatnya, dapat menyeretnya ke balik jeruji, karena yang tertanam di pola pikir mereka, tidak lain ingin menjadi kaya agar dihargai oleh orang kebanyakan, agar prestisenya tidak menurun di mata masyarakat. Tentu akan berbeda ceritanya,  kalau ketimpa “sial”,  tertangkap oleh KPK.

Hidup Sederhana

Berniat mencegah dan memberantas korupsi, maka mari kita semua memulai dari hal yang sederhana atau terkesan sepeleh, tidak terlalu rumit. Mulai dari kalangan keluarga, masyarakat, sekolah, sampai negara, mari mengubah pola pikir yang sangat menghargai kemewahan, yang sangat menghargai orang kaya. Kalau berani memutar haluan, tidak lagi memandang kekayaan sebagai sebuah prestise. Saya yakin para pejabat yang memangku kekuasaan dan amanat rakyat, akan mengakhiri perburuan harta dan kekayaan melalui cara yang korup.

Lalu, pola pikir yang perlu diterapkan, terlebih dahulu mulai dari lingkungan keluarga, jangan membiasakan anak-anak kita hidup menjadi mewah. Memaksakan diri kalau anak harus membawa kendaraan bermerk Avanza ke sekolah atau ke kampusnya. Mari hidup sederhana, mulai dari kita sendiri, kemudian berikanlah penghargaan terhadap orang yang hidupnya sederhana walau menjabat jabatan kenegaraan, karena dari situlah kita bisa memulai mencegah perbuatan korupsi.

Mendiang Alm. Baharuddin Lopa terkenang dalam sejarah pemberantasan korupsi di Indonesia, sudah membuktikan pola hidup sederhana, memulai dari diri dan keluarganya, setelah itu baru ia berani berteriak lantang “perang terhadap koruptor”. Sekarang pertanyaannya, beranikah kita memulainya? Jawabannya, hanya waktu dan konsistensi berpikir juga berperilaku akan membuktikannya. (*)

Artikel Ini Juga Muat di Harian Tribun Timur, 7 Januari 2014

Damang Averroes Al-Khawarizmi

Mahasiswa PPs Hukum UMI

You may also like...