Ziarah di Makam Ayah (lanjutan kisah dari pernikahan Hamida)

Duka lara batin yang kemarin terasa sesak. Menderahku. Baru semalam aku tiba dari kota Makassar. Aku telah menyaksikan sebuah ritual suci, perayaan pernikahan bahagia yang menguras air mata haru, dari seorang kekasih yang akan merekap cinta dan talih kasih bersama dengan orang yang telah kuikhlaskan untuknya.

Walaupun bukan aku menjadi pendamping hidupnya.

Hamidah. Ketika mataku. Pagi ini terbuka dari katup sedih sepanjang malam kemarin. Kumohon menikahlah dengan penyatuan jiwa dan batin kalian. Jangan pernah mengingat lagi diriku. Jangan pernah mencoba untuk menghubungi nomor handphoneku. Aku sudah mengikhlaskanmu kok.

Ketika malam kemarin kuanggap malam pertama kalian. Aku tiadalah sanggup mengangkat handphoneku, ketika engkau paksa berkali-kali berdering. Kumohon kepadamu, jangan pernah menghubungiku lagi. Jika yang demikian terus saja engkau lakukan, maka engkau akan mebuatku sedih dan mengalami duka lara yang berkepanjangan.

Suara tangis kemanakanku. Ainur rofiqa telah membangunkanku. Cepat. Di subuh itu. Ia meminta Ayah dan Ibunya membuatkan air susu. Untuknya. Kakak iparku dengan sesegera kudengar mengurusi hasrat dan permintaan kemanakanku. Aku kali itu terbangun mengambil air wudhu. kulihat kakak iparku sibuk mengurusi persiapan sarapan pagi kami. Dan menyeduhkan air susu hangat buat anaknya. Memintaku sebentar, mebersihkan dot yang akan di isi air susu kelak

“Tolong bersihkan dulu itu dot kemanakanmu dek… itu sudah lama dia tungguka..h, kapan aku bisa memberinya”

Aku menunda sebentar shalat subuhku. Aku mengambil alih pekerjaan kakak iparku. Memasukkan air susu ke dalam dot itu. Aku seolah-olah belajar menjadi orang tua yang penyayang.

Kemarin aku pernah berujar, membatin dalam hati. Setelah kehadiran seorang kemanakan. Aku benar-benar telah diobati uleh Tuhan yang amat pemurah. Setelah mengganti jiwaku menyayangi kemanakanku. Layaknya aku pernah menyanjung Hamida sebagai orang kesayangan, akan menjadi pendamping hidupku kelak. Itu hanya sebuah rencana. Sekali lagi aku akan mengatakan “Sunnatullah Tuhan” atas takdir. Tak  mungkin dilawan oleh ummat manusianya sendiri.

Aku pangku kemanakanku. Di kursi dekat dapur dimana ibunya sedang sibuk mengurusi sarapan pagi. Aku sibuk bercanda, mengulas pipi dan melerai rambut Ainur Rofiqa. Berkali-kali. Hingga Ibunya menegurku. Karena aku, katanya menyimpan duka batin, sangat dalam dan amat miris untuk kukatakan.

“Dek Iwan… kenapa dari kemarin aku melihatmu kadang termenung, kaku. Demikian lama. Hingga kadang kita berbicara engkau tak hiraukan, hanya engkau sibuk dengan kemanakanmu itu”

“Tidakji kak…, cuma aku sedikit kecapean, baru saja aku ujian meja, aku memaksa diri untuk pulang kampang sesegara, karena aku sudah kepengen sekali melihat anak kalian. Bukankah kemarin juga aku tak sempat menghadiri pernikahan kalian, makanya aku sudah amat rindu dengan kalian semuanya. Apalagi kemanakanku ini”

Ia kemudian melanjutkan pekerjaanya. Setelah aku ditanya, kondisi perasaanku saat itu.

Aku sudah berjanji dalam hati. Bahwa aku tak akan pernah mengatakan, bahwa orang yang pernah kucerita kepada Ibuku, akan kunikahi kelak. Pada dasarnya telah menikah.

Aku akan cari waktu yang tidak akan membuat mereka semua kaget. Ketika aku harus berterus terang. Hamida telah menikah. Memang dahulu, Hamida pernah kuperkenalkan semenjak kami masa SMA kepada ibuku. Dan ibuku waktu itu. Dia amat merasa cocok dengan perempuan itu. Jujur dalam hati, ketika aku dipaksa memutar detik waktu ke masa lalu ataukah dimajukan detik jam waktu itu. Hamida memang akan menjadi pengobat gelisah jiwa, juga Ibuku yang emang sedari dulu mendambah anak perempuan. Hingga Ia mengetahuinya. Hamida adalah  seorang gadis dengan tutur kata lembut. Perempuan yang berlesung pipi. Enak dipandang. Selamanya. Kulihat Ibuku bahagia sering bercanda dengannya. Namun itu, hanya kenangan yang telah digores oleh waktu pada torehan masa lalu.

Setelah sekian Tahun. Entah berapa tahun tak pernah kuberziarah lagi ke makam ayahku. Aku tak pernah menyisahkan waktu, ketika pulang menjenguk sanak keluarga. Aku selalu lupa ziarah ke makam ayahku. Karena setiap kali mudik lebaran, hanya semalam di kampung. Aku terbiasa pulang ke Makassar secepatnya.

Kali ini. Setelah aku menunaikan shalat shubuh. Pasti aku sudah punya waktu yang sebanyak mungkin. Meluangkan waktu ziarah dan melepas kangen pada tugu kerinduan nisan milik ayahku. Ayah yang pantas kusayang dan keberucap beribu terima kasih setelah kumenempuh pendidikan tinggi. Hingga waktu memastikan aku menjadi seorang sarjana.

Hidangan sarapan pagi di meja makan. Telah tersedia. Sejak tadi telah disediakan oleh kakak Iparku. Kakak, adik dan Ibuku menyantap makanan di waktu sarapan pagi. Lalu, Ibuku menyelah diantara pembicaraanku dengan  salah satu kakakku. Aku banyak bercerita tentang masa-masa saat-saat ujian skripsiku.

“Ah…sungguh mendebarkan detik-detik ujianku, tapi setelah selesai semuanya aku puas. Ya …aku puas dan menikmati hasil jerih payahku sekian tahun kak”

Ibu mengingatkanku tuk pergi menjenguk kuburan ayahku.

“Saya kira mauki pergi liatki panreng (kuburan) Bapakta nak”

“Iye…Makku, memang rindu-kaah dengan bapak ini Maak…”

Ayah yang sampai sekarang kuingat. Kalau dulu, Ia merenggut nyawanya ketika Tuhan mungkin tak ikhlas menerimnya. Sejelek-jeleknya ayahku yang  memiliki kenangan buruk dengan kematian. Aku masih pantas berterima kasih, karena dengan jerih payahnyalah. Aku punya biaya untuk ongkos kuliah. Banyak tanaman lada dan cengkeh di perkebunan kami yang ditinggal oleh ayahku, sehingga kerja keras Ibuku yang single parent merawat tanaman perkebunan kami. Makanya Aku juga pantas mengecap bangku kuliah bersama dengan saudara-saudaraku.

****

Hujan pagi, rintik-rintik. Saat embun masih membasahi banyak padang rumput yang meluas. Terlihat banyak ternak sapi milik penggembala di jalan yang kulewati. Tanpa ditemani oleh kakak dan Ibuku. Karena aku memang menolak di temani. Aku khawatir nanti ia mengetahui sisi kelemahan diriku. Dibalik semua canda saya. Ternyata pada dasarnya aku hanyalah lelaki yang terlalu gampang termakan dengan kenangan kesedihan. Ketika aku merasakan tak pernah ditemani oleh seorang Ayah.

Di satu sisi aku tak pernah merasakan pelukan dan rangkulan kasih sayang ayah. Di sisi lain saat Ibuku memilki seorang anak perempuan juga cepat dipanggil dalam buai kasih sayang Tuhan. sejak saudara kakak perempuanku itu telah berumur dua tahun.

Hujan menderas di atas nisan ayahku. Baju yang kukenakan basah kuyup, aku tak membawah pelindung hujan. Satupun. Mesti aku tahu bahwa di panreng ini banyak daun pisang yang bisa kujadikan payung disaaat hujan sedemikian deras.

Aku senang dengan hujan, aku senang karena ia mengerti dan selalu mengerti kekalutan hatiku. Hujan telah kuanggap saudara, kekasih, Ayah tersayang dan patut kurindu ketika ia ingin menderas senja ke bumi. Selalu mengerti ketika aku menderai kekalutan hati. Hatinya memilas dan mengemas rindu pada seorang ayah.

Kubersujud  di atas nisan Ayah. Hatiku yang beku oleh derita sekian tahun, ketika aku tak bisa menghapus segala runtut kejadian ayahku yang dahulu kalah meneguk racun, kusaksikan dengan mataku sendiri di bawah rumah panggung tanah sawah perkebunan. Kemudian ia lekas pergi dalam detak nafas terakhirnya.

“Ayah aku sayang Kau.”

Ayahku. Kini aku datang mengobati kekalutan hatiku. Ketika kematian itu terlalu gampang engkau permainkan. Ayahku…!!! Aku sudah sarjana. Ibu pernah berucap. Sengaja ia menyekolahkanku hingga kubisa berpikir dewasa. Tidak seperti dirimu. Terlalu mempermudah kematian. Aku tidak sekalipun menyalahkan kalian berdua.

Aku tak peduli sebuah Fatwa. Bahwa kematian tragis dengan bunuh diri, Tuhan tak pernah ikhlas menerima-mu. Aku selalu meyakinkan diriku, bahwa aku dapat mendoakan keselamatan untuk ayahku. Ayahku. Aku yakin kita sekeluarga kelak selamat dan ketemu di surga yang mendamaikan hati kita. Hati kita bersama.

Kulantukan surah Al-Fatiha dan Surah Ya’siin.  Di hadapan keramai pekuburun. Aku benar-benar merasakan sebuah kenangan yang pedih. Dengan doa ini.  Ayah. Kuharap kita semua dapat menjangkau ketenangan. Petir sekali-kali terdengar. Saat kilat mendahuluinya. Aku selalu takut menanti petir itu datang. Aku takut di sambar olehnya. Kemudian esok lusa akan menjadi cerita di perkampungan. Aku mati di sambar petir di sebuah panreng. Milik pemakaman ayahku.

Air hujan memantik bunga kamboja yang mekar disekitar pemakaman itu. Hingga baunya menyengat. Hujan tak sederas tadi. Dibandingkan, Sejak baru aku tiba di pekuburan. Serasa seorang hadir menyapaku, hanya dengan sengatan bunga kamboja. Hatiku berucap, kesedihan jangan selalu diucap Nak.

Dari kejauhan kulihat banyak burung Bangau putih menggaris cakrawala. Siluet mentari menatap bahagia untukku. Aku meninggalkan pekuburan ayahku. Menuju di sebuah perkebunan cengkeh. Perkebunan kami.  Tak jauh dari pemakaman itu.

Musim cengkeh seperti ini, pastinya udara pagi diperkebunan itu sejuk. karena bunga cengkeh yang telah mekar. Akan menyimpan aroma kesejukan. Kusaksikan bunyak burung cuit-cuit menikmati madu bunga cengkeh itu. Inilah hariku. Hari dimana musim bahagia menggores kenangan dari segala luapan kesedihan untuk berbahagia. Berbahagia selamanya.

 

Sinjai,  16 September 2009

 

Damang S.H., M.H.

Owner negarahukum.com dan Penulis Buku "Carut Marut Pilkada Serentak 2015"

You may also like...